Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Sebagian pesantren berorientasi Salafi-Wahabi Indonesia berhasil mempertahankan diri sehingga tetap mampu memainkan peran menyebarkan pengaruhnya di kalangan Muslim lokal. Dukungan pembiayaan tokoh Muslim lokal menjadi alasan pesantren Salafi-Wahabi ini bisa bertahan di tanah air.

Demikian disampaikan Profesor Jajang Jahroni Ph.D saat menyampaikan pidato ilmiah guru besarnya ‘Munculnya Kelompok Salafi-Wahabi di era Indonesia Kontemporer’ di Auditorium Utama UIN Jakarta, Rabu (11/5/2022). Jajang dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam pada Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta.

Jajang menuturkan, riset disertasinya hampir 12 tahun lalu menemukan tak kurang dari 300-an pesantren berorientasi Salafi-Wahabi, skala besar dan kecil, berkembang di tanah air. Namun seiring penurunan dukungan dana dari pusat Salafi-Wahabi, pesantren-pesantren ini mengalami kesulitan dalam pembiayaan kegiatan pendidikannya.

Namun sejumlah pesantren ini ternyata mampu bertahan dan terus menyelenggarakan pendidikan keagamaan beriorentasi Salafi-Wahabi hingga kini. Para tokoh Muslim lokal yang bersimpati telah memberikan bantuan pembiayaan sehingga pesantren-pesantren ini tetap bisa bertahan. “Ada topangan dana dari Muslim lokal,” ungkapnya.

Sebagian besar pesantren Salafi-Wahabi yang mampu bertahan tersebar di sejumlah kota di Jawa seperti Solo, Yogyakarta, dan beberapa daerah di Jawa Timur seperti Madiun dan Jember. Lalu di sebagian kecil Jakarta dan beberapa daerah di Jawa Barat seperti Bogor, Sukabumi, dan Kota Cirebon. “Dan itu mengikuti jaringan kelompok Hadhrami,” jelasnya.

Jajang mengungkapkan, setelah bantuan dari pusat Salafi-Wahabi merosot karena berbagai konflik internasional awal 2000-an, sebagian pesantren kelompok Salafi-Wahabi mencoba membangun relasi dengan kelompok-kelompok Muslim di Indonesia. “Sehingga bisa tetap survive, bisa mempertahankan diri, menyelenggarakan pendidikan, bahkan bisa berhubungan baik dengan pemerintah,” tambahnya.

Dalam pidato ilmiah yang diangkatnya dari riset disertasi doktoralnya ‘Reproduksi Kaum Salafi-Wahabi di indonesia Pasca Soeharto’, Jajang mengidentifikasi pesantren bercorak Salafi-Wahabi acapkali menggunakan istilah yang dekat dengan upaya menghidupkan Sunnah. “Ihya as-Sunnah, Ihya at-Turats, dan lainnya yang namanya dikait-kaitkan dengan sunnah, turats, maka besar kemungkinan madrasah atau pesantren itu berorientasi Salafi-Wahabi,” paparnya.

Keberadaan kelompok Salafi-Wahabi di Indonesia sendiri, papar Jajang, tidak lepas dari proyek pengembangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) yang berdiri pada tahun 1980. Lembaga ini menerima banyak mahasiswa Indonesia dengan dukungan penuh beasiswa Pemerintah Arab Saudi.

Selain pendidikan, mahasiswa yang belajar di lembaga ini diperkenalkan dengan dakwah salafiyah yang diperkenalkan para ulama Salafi-Wahabi. Namun dari banyak mahasiswa yang belajar di lembaga ini, para lulusannya menampilkan corak beragam, baik Salafi moderat maupun Salafi ekstrem. (zm)

Share This