Ruang Teater FAH – BERITA UIN Online – Apa yang bisa dipelajari dari upaya membangun sebuah perpustakaan di tengah masyarakat yang tak membaca? Saat ini kita memasuki satu era medsos, masuk dalam gelombang gosip. Di tengah arus deras gelombang gosip inilah, harus ada masyarakat yang membaca.

Lansiran pemikiran di atas diuar Yudi Latief, Yudi Latief, Kepala Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila dalam seminar bertajuk “Kepustakaan Pembentuk Pemikiran Cak Nur: Relasinya dengan Konteks Sosial”, di Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 3 November 2017.

Dalam pandangan Yudi, gelombang gosip di media sosial, telah menggerus tradisi membaca generasi muda. Anak-anak muda sekarang lebih gemar bermain gadget ketimbang membaca buku. Akibatnya, lahirnya generasi yang tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial karena mereka lebih memilih asyik maksyuk di kamar bermain gadget.

“Dan gejala seperti ini, tak hanya pada generasi muda. Tapi sebagian masyarakat Indonesia yang menggunakan media sosial dengan cara kurang tepat. Orang Indonesia itu high tech, namun low touch,” ujar Yudi.

Yudi menyebut, jumlah pengguna ponsel di Indonesia di atas 300 juta. Melebihi penduduk Indonesia sendiri, karena satu orang memiliki lebih dari dua ponsel. Namun, di sisi lain pengembangan pola pikir orang Indonesia tidak berbanding lurus dengan penggunaan teknologi itu.

“Ada data bahwa tingkat ketertarikan membaca orang Indonesia terendah kedua setelah Botswana,” ungkap Yudi. Maka, tidak heran ketimpangan tersebut menghasilkan sejumlah fenomena. Mulai dari ujaran kebencian di media sosial, saling menghina di media sosial, hingga penyebaran berita hoaks.

“Inilah yang saya maksud high tech namun low touch tadi. Jadi timpang ini,” ujar Yudi.

Oleh sebab itu, ia mendukung pemerintah untuk, di satu sisi meningkatkan pendidikan, di sisi yang lain menegakan hukum terkait pelanggaran di media sosial.

“Kita mengalami masalah mental. Dulu bangsa kita secara fisik memang tidak tumbuh, tapi mereka memiliki kekuatan mental dan semangat yang tinggi. Sehingga berhasil mengusir penjajah dan memerdekakan Indonesia. Tapi sekarang, secara fisik memang tumbuh, tetapi mentalnya mengalami defisit,” ujar cendekiawan yang menyelesaikan studi Ph.D Australian National University.

Ia menyebutkan, setiap harinya, rasa nasionalisme bangsa harus dibakar dengan isu-isu remeh tentang radikalisme di sosial media. Yudi juga mengutip perkataan Bung Karno yang menyebutkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar namun sering merasa kecil dan terpukau pada hal yang datang dari luar.

“Saya ini kan generasi cebol, hidup di masa kesulitan pangan, makanya pertumbuhannya tidak baik. Tapi anak saya yang pertama, umurnya 22 tahun, tingginya 180 cm. Jadi pertumbuhan fisik generasi sekarang memang oke, tapi kenapa belum pernah dalam sejarah kita mengalami kekurangan kepercayaan diri yang luar biasa seperti ini,” papar Yudi.

Untuk itu, Yudi menyambut baik Perpustakaan Prof Dr Nurcholish Madjid di FAH, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Dia berharap perpustakaan Nurcholish Madjid ini bisa meningkatkan daya membaca mahasiswa sehingga melahirkan generasi yang memiliki kepercayaan tinggi dalam mengawal negara bangsa ini. (Edy AE)

 

Share This