Wisata ziarah semakin diminati berbagai pihak sebagai salah satu unggulan produk wisata. Karena sejarah aktivitasnya yang lama, wisata ziarah menyimpan kesan tersendiri.

Tulisan singkat ini menganalisis wisata ziarah dalam perspektif ilmiah, dengan menggunakan teori Roland Barthes sebagai alat bedahnya. Roland Barthes merupakan filsuf dan sosiolog kenamaan asal Perancis.

Salah satu teori yang sering digunakan para pembaca Barthes adalah teori tentang semiotika. Terori ini, antara lain, menyebutkan tiga kategori makna atas satu fenomena. Ketiganya adalah makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos.

Disisi lain, wisata ziarah merupakan fenomena dan aktivitas yang sudah lama dilakukan sebagian umat Islam. Di Indonesia, peziarah melakukan kunjungan singkat (hitungan jam) atau cukup lama (puluhan hari) ke sebuah lokasi atau titik ziarah.

Berbeda dengan tempat wisata lain yang basisnya pemandangan alam, atraksi budaya, atau kenyamanan tertentu, wisata ziarah sangat unik. Sebab, secara epistemologis, destinasi wisata ziarah  bisa dihasilkan dari hal yang bukan semua hal disebutkan di atas.

Beberapa destinasi merujuk kepada ‘karamah’ seseorang, misalnya seorang ulama besar, yang kemudian dikunjungi para pengikutnya. Biasanya, semakin tinggi karamahnya, intensitas kunjungan dan atensi ke lokasi tersebut semakin tinggi.

Ada juga destinasi yang merujuk aktivitas yang dilakukan turun-temurun. Aktivitas ini terpelihara dan menjadi semacam ritus tertentu yang harus dijalani pengikutnya. Secara singkat, destinasi wisata ziarah beragam.

Namun, ada aktivitas yang mirip dilakukan pengunjung pada destinasi tersebut. Wisata ziarah memiliki karakteristik berbeda dengan wisata halal atau wisata syariah meski juga banyak kesamaannya.

Wisata halal dan wisata syariah lebih banyak merujuk soal sarana untuk menyamankan entitas pelancong Muslim. Ketersediaan makanan, tempat sholat, fasilitas keluarga, merupakan beberapa indikator yang melekat pada wisata halal atau wisata syariah.

Adapun aktivitasnya bisa dikatakan lebih banyak sama dengan wisata pada umumnya. Sedangkan wisata ziarah, merujuk aktivitas peziarah, yakni melakukan ibadah ritual pada destinasi dengan doa dan zikir yang kadang sangat spesifik.

Jika menggunakan perspektif Bhartesian di atas, wisata ziarah bisa dilihat dengan tiga makna yang saling melengkapi. Pertama, wisata ziarah secara makna denotatif memberikan arti sebagai tempat orang datang untuk mengetahui destinasi.

Jika aktivitas umrah ke Arab Saudi bisa dimasukkan sebagai salah satu bentuk wisata ziarah, secara denotatif umrah memberikan makna kepada pelaku atau peziarah pada aras validasi pengetahuan saja.

Pada wisata ziarah yang cukup dikenal di Indonesia, seperti mengunjungi makam Sembilan Wali misalnya. Di aras ini, makna bagi peziarah hanya mengetahui di mana saja letak makam wali tersebut. Meski di tempat-tempat tersebut bisa jadi melakukan aktivitas yang sama dengan peziarah lain, tetap saja secara makna memberikan hasil berbeda.

Mereka yang mendapatkan makna paling dasar ini, justru akan membuka peluang maju ke tahap berikutnya. Sebab, pengetahuan yang dimilikinya menjadi modal memaknai symbol dan symptom lain yang hadir pada aktivitas dan destinasi tersebut.

Kedua, secara konotatif, wisata ziarah memberikan makna lain yang lebih dari sekedar mengetahui. Para peziarah mulai menemukan manfaat dari setiap kunjungannya. Biasanya, mereka berziarah ke lebih dari satu titik destinasi atau kunjungan.

Pada aras ini, intensitas kunjungan memberikan makna ziarah masuk ke tingkatan manfaat, baik secara praktis maupun spiritual. Secara riil, makna ini ditemukan karena beragam relasi yang hadir dan muncul selama melakukan ziarah. Yakni, kunjungan bersama, serta melakukan ibadah yang sama, umumnya akan menghasilkan medan kesadaran yang sama.

Hal paling mudah, misalnya bisa kita dapatkan ketika orang melakukan zikir bersama, istighatsa akbar, atau kunjungan lain ke tempat wisata ziarah. Orang-orang secara tiba-tiba merasakan berbagai hal yang hadir karena ada di situ.

Di sini, peziarah mulai menemukan makna lain yang kemudian menghasilkan ‘cerita’ perjalanannya menjadi semacam langkah spiritual yang baru ditemukan. Mereka akan menyampaikan yang dirasakan, bukan yang diketahui.

Ketiga, wisata ziarah juga menghasilkan makna mitos. Barthes menjelaskan, mitos secara semiologis merupakan sesuatu yang ‘tidak perlu’ dibuktikan dasar kebenarannya. Sebab, kebenarannya melekat pada ‘tubuh’ subjeknya, meski (kadang) tidak dapat dibuktikan.

Dalam mitos, muncul persepsi asumsi kebenaran yang sudah ada, tanpa harus berpusing-pusing mamvalidasi. Dengan kata lain, kebenaran ada pada eksistensi yang melekat dan tervisualisasi pada realitasnya.

Bagi peziarah, semua destinasi memiliki mitosnya masing-masing. Ia hadir dalam cerita para ‘penjaga’, atau ‘kuncen’ (atau sebutan lainnya), ataupun hadir dalam beragam ‘temuan’ sendiri para peziarah.

Ketika seorang peziarah mengatakan, selama di sebuah makam ia mengalami ekstase, sehingga ketemu Sang Waliullah, realitas kebenarannya tidak perlu divalidasi menggunakan metode ilmiah.

Makna mitos bagi peziarah juga ditemukan dalam bentuk kesadaran terhubung antarsubjek pelaku dengan subjek tujuan. Antarsubjek pelaku atau peziarah mengalami nuansa kesamaan yang kemudian secara perlahan memperkuat keakuan.

Melalui kebersamaan ini juga, para peziarah, meski tidak selalu harus saling kenal, menemukan kesadaran bersama akan berbagai aktivitas dan tindakannya.

Sedangkan keterhubungan antarpeziarah dengan subjek tujuan bisa ditemukan dalam beragam modus keterhubungan lain yang sifatnya sangat privat, personal, dan intim. Biasanya, keterhubungan ini hanya bisa ditemukan melalui pengalaman.

Wisata ziarah merupakan fenomena global. Sejatinya, pemerintah bisa mengoptimalkannya sebagai bagian peran dari instrumen peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penataan sarana peziarah bisa dilakukan.

Meski banyak peziarah datang dari kalangan menengah ke bawah, tidak ada salahnya mereka dilayani layaknya para pelancong lainnya. Sebab, dalam pratiknya, spend of money para pariwisata ini cukup tinggi.

Peningkatan kualitas pendidikan yang akan menjadi ‘pelayan’ bagi aktivitas wisata ziarah pun perlu dilakukan. Sampai saat ini, pendidikan pariwisata yang khusus fokus pada pemahaman dan pelayanan wisata ziarah sangat minim.

Kedua hal ini, fasilitas fisik dan kapasitas pelayanan jasa wisata ziarah, jika dioptimalkan berpotensi menghasilkan pendapatan besar bagi daerah tujuan. Meski tentu saja, manfaat terbesar adalah menghasilkan episentrum kesadaran pada pelakunya.

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Sosiologi Perkotaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Opini Koran Republika, Jumat, 8 Februari 2019. (lrf/mf)

Share This