Ustaz Muhammad Arifin Ilham (49) meninggal dunia di Penang Malaysia karena sakit kanker kelenjar getah bening (Rabu, 22/05/2019). Kematiannya ditangisi jutaan muslim Indonesia, khususnya jamaah Majlis Taklim Azzikra. Jenazahnya dishalatkan oleh ribuan jamaah. Belum lagi jamaah masjid-masjid di seluruh Indonesia melakukan shalat ghaib untuknya.

Ustaz Arifin melakukan dakwah melalui zikir: takbir, tauhid, dan tahmid. Zikir yang selalu dibacanya adalah subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar. Lambat laun metode dakwah ini diterima muslim Indonesia. Acara zikirnya selalu dipenuhi jamaah yang datang dari dalam dan luar Depok atau Sentul.

Jamaahnya jutaan, berasal dari beragam strata sosial. Pejabat negara, artis, pebisnis, pegawai negeri sipil, pensiunan, dan masyarakat biasa, selalu setia mengikuti lantunan zikir yang dipimpin ustaz Arifin. Kegiatan zikirnya selalu dipenuhi jamaah yang tidak hanya berzikir tetapi bersedekah.

Budaya Zikir
Seiring popularitasnya yang naik, zikir berjamaah itu meluas tidak hanya di wilayah Depok Jawa Barat—tempat tinggalnya sebelum di Sentul Bogor. Zikir berjamaah dilakukan di hampir semua provinsi, kota, dan kabupaten di Indonesia, bahkan sampai di mancanegara.

Zikir berjamaah bahkan disiarkan langsung (live) stasiun televisi pemerintah dan swasta. Banyak sudah zikir skala nasional dilakukan, di antaranya bekerjasama dengan Harian Republika. Ribuan bahkan jutaan muslim—dengan ciri khas pakaian putih—telah menjadi pengikut setia acara zikir ustaz Arifin.

Aktivitas zikir ini juga dikaji secara ilmiah melalui buku dan karya ilmiah. Menunjukkan besarnya pengaruh zikir bagi keberagamaan kaum muslimin, kota dan desa, serta keunikan gaya dakwah ustaz bersuara serak dan penuh semangat ini. Contoh, Tb Ace Hasan Syadzily (2005), Arifin Ilham: Dai Kota Penabur Kedamaian Jiwa, Julian Millie (2008), Spiritual Meal or Ongoing Project? The Dilemma of Dakwah Oratory, dan Julian Day Howell (2014), Revitalized Sufism and The New Piety Movement in Islamic Southeast Asia.

Tidak hanya berzikir, acara ini diisi tausiyah keagamaan oleh dai-dai tua dan muda, termasuk ustaz Arifin sendiri. Bisa dikatakan, ia seorang dai muda yang mementingkan kaderisasi. Dia berhasil memberi panggung kepada dai-dai muda, seperti ustaz Abdul Syukur, ustaz Hasani Ahmad Said, dan ustaz Muhazir Afandi.

Tidak hanya mendampingi dan menggantikan ustaz Arifin dalam berzikir dan ceramah di Ibu Kota dan belahan Nusantara, di antara mereka juga diberi kesempatan menjadi pembimbing jamaah umrah. Kepada dai-dai muda itu—juga kepada orang-orang yang lebih tua—ia sering memanggil mereka “Abang”. Menunjukkan kebaikan dan kerendahan hatinya.

Dampak Zikir
Mengapa jamaah zikir ustaz Arifin semakin hari semakin bertambah? Karena zikir membersihkan hati. Hati yang bersih melahirkan ucapan, sikap, dan tindakan yang baik. Orang merasakan manfaat dan kedamaian dalam zikir jamaah, meskipun dalam beberapa kesempatan dicemooh kelompok tertentu yang tidak setuju.

Telah banyak jamaah yang merasakan perubahan orientasi hidupnya setelah mengikuti zikir. Mereka tidak hanya sibuk memikirkan bekal di dunia tetapi menyiapkan bekal akhirat dengan amalan-amalan baik. Misal, seorang preman taubat dan menjadi rajin ibadah setelah berzikir.

Sebagian jamaah mengikuti kebiasaan ustaz Arifin seperti shalat lima waktu secara berjamaah (khususnya Subuh), shalat tahajud, dan puasa sunah Senin-Kamis. Jamaah juga belajar darinya tentang menyayangi anak yatim-piatu. Ada ratusan santri yatim-piatu yang dididik ustaz Arifin dan para asatiz.

Ustaz Arifin telah menyadarkan banyak muslim tentang pentingnya keseimbangan hidup: dunia dan akhirat; ketuhanan dan kemanusiaan. Sebagian muslim menerima jalan dakwah melalui zikir itu karena merasakan ketenangan dan kehadiran Allah, di tengah kehidupan dunia yang semakin padat dan ketat ini.

Ustaz Arifin percaya bahwa masyarakat yang berzikir dan menjalankan sunah-sunah Rasulullah Saw. secara konsisten akan melahirkan masyarakat madani (civil society). Masyarakat yang takut kepada Allah untuk melakukan korupsi, kejahatan, kebohongan, dan ketidakadilan. Masyarakat madani adalah masyarakat yang amanah, jujur, dan adil, sekaligus pekerja yang keras.

Artinya, zikir adalah kekuatan bangsa untuk melahirkan rakyat dan pemimpin yang baik yang mendatangkan ridha dan keberkahan Allah. Muslim yang menghayati shalat, zikir, puasa, infak, dan shadaqahnya akan menjadi muslim yang membawa kedamaian dan ketentraman bagi muslim dan nonmuslim bahkan alam semesta ini.

Sepanjang masih ada muslim yang berzikir maka Indonesia akan selamat dari bahaya besar dan perpecahan. Zikirnya orang-orang muslim inilah yang selama ini menjaga Indonesia dari kehancuran dan murka Allah. Inilah sebagian keyakinan ustaz Arifin yang saya dengar langsung di suatu kesempatan.

Warisan terbesarnya adalah melahirkan generasi dan masyarakat muslim yang tekun berzikir, puasa sunah, dan shalat lima waktu berjamaah. Jumlahnya belum separuh umat muslim Indonesia, tetapi semoga kelak bertambah banyak meski perlahan. Dengan demikian, ustaz Arifin merasa bahagia di alam kubur sana seperti senyumnya saat kematian menjemput.

Dr Jejen Musfah MA, Ketua Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: PGRI, 14 Juni 2019. (lrf/mf)

Share This