Gedung FAH, BERITA UIN Online— Etos keberagamaan sufistik dinilai makin relevan untuk dipraktekan masyarakat Muslim yang hidup di era populisme dan keberagamaan digital seperti saat ini. Sufisme yang mendorong penghayatan pengalaman keberagamaan menjadi narasi perlawanan efektif atas kecenderungan era populisme yang menjadikan agama semata identitas sosial yang miskin penghayatan.

Demikian disampaikan Cendekiawan Muslim Ulil Abshar Abdalla saat menyampaikan kajian Ramadhan Tadarus al-Hikam ‘Menjadi Sufi di Era Milenial’ yang digelar Gedung Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), Rabu (15/5/2019). “Menurut saya, etos keberagamaan ala sufi-sufi menjadi semacam counter narrative terhadap identitas keberagamaan saat ini yang terlalu identity oriented,” tegasnya.

Diantara bagian penting dari etos keberagamaan sufistik, terang Ulil, adalah menjadikan agama sebagai pengalaman religius yang dihayati. Dengan menjadikan agama sebagai pengalaman seperti demikian, para pelaku jalan sufistik tidak akan terjebak ke dalam formalism keberagamaan. Bahkan mereka akan menjalankan praktek keagamaan yang seimbang antara kewajiban syariat dan penghayatan sufistik.

Ulil menjelaskan, era populisme dan keberagamaan digital saat ini menggiring agama semata-mata sebagai identitas sosial tertentu dan bukan pengalaman yang dihayati secara mendalam. Saat agama menjadi sebatas identitas sosial, sambungnya, ia tidak lagi menjadi pengalaman penghayatan ruhani atau jalan spiritual yang mengubungkan hamba (‘abd) dengan yang ilahi (rabb).

Saat agama tidak lagi menjadi pengalaman ruhani, masyarakat agama akan bertransformasi menjadi masyarakat agama yang lebih mengedepankan identitas luaran atau eksoterik. Lebih dari itu, agama justru mengalami kemerosotan nilai dengan selalu menjadi garis pembeda antara kelompok keagamaan yang berbeda.

“Saat menjadi identitas sosial, agama akan selalu menjadi garis pembeda, me and others, we and them. Dibuat semacam batasan yang ketat sekali,” paparnya.

Etos keberagamaan sufistik sendiri, sambung Ulil, bisa dicapai dengan melakukan perjalanan spiritual sendiri atau bergabung dengan ordo spiritual tertentu. Cara pertama pernah ditempuh para sufi seperti Imam al-Ghazaly yang hidup di kisaran abad 5 H, sedang cara kedua ditempuh para ulama sufi yang hidup setelah abad 5 H seperti Ibnu Atha’illah al-Sakandari yang bergabung dalam Tarekat Syadziliyah.

Lebih jauh, dalam kajian Ramadhan yang berlangsung selama hampir tiga jam, Ulil juga membedah beberapa mutiara pemikiran sufistik Ibnu Athaillah al-Sakandari yang ditulisnya dalam Kitab al-Hikam. Menurutnya, bersama kitab Ihya Ulum al-Din yang ditulis Imam al-Ghazaly, kitab al-Hikam merupakan dua kitab tasawuf yang sangat luar biasa pengaruh dan relevansinya untuk dibaca masyarakat Muslim.

Di tepi lain, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Saiful Umam Ph.D mengungkapkan kajian Ramadhan yang diikuti dosen dan mahasiswa FAH dilakukan sesuai momentum bulan puasa. “Kami sengaja melakukannya dalam desain pengajian, bukan diskusi atau seminar. Karena momennya adalah puasa. Jadi ada harapan agar ada keseimbangan antara aspek akademik dan aspek spiritual,” katanya.

Untuk mengisi kajian Ramadhan, FAH juga sengaja mengundang Ulil Abshar Abdalla untuk mengisinya. Cendekiawan Muslim yang dibesarkan di lingkungan Pesantren Mansyajul Ulum dan menempuh studi seperti di LIPIA Jakarta ini belakangan rajin memberikan pengajian beberapa kitab tasawuf yang dilakukan secara daring seperti Pengajian al-Hikam dan Pengajian Ihya Ulum al-Din. (zae)

Share This