Palangka Raya, BERITA UIN Online – Wacana pemindahan ibu kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Kota Palanga Raya, Kalimantan Tengah, dinilai strategis bagi pengembangan UIN Jakarta ke depan. Dengan berpindahnya ibu kota setidaknya dapat memperkuat kemandirian UIN Jakarta, baik secara finansial maupun kelembagaan.

Hal itu diungkapkan Rektor UIN Jakarta Amany Lubis saat menghadiri Rapat Tahunan (Rata) ke-39 Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Indonesia Bagian Barat (BKS-PTN Barat)di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 10-12 Januari 2019. Rata digelar di Universitas Palangka Raya (UPR) dan dihadiri oleh 32 PTN dari wilayah Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Dalam Rata tersebut, perwakilan UIN Jakarta dihadiri Rektor Amany Lubis dan Wakil Rektor Bidang Akademik Fadhilah Suralaga.

Menurut Amany, kemandirian UIN Jakarta saat ini sangat penting. Hal itu guna memperkuat finansial dan kelembagaan, apalagi UIN Jakarta akan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) yang tentunya harus lebih mandiri dalam mengelola keuangan dan mengembangkan pusat bisnis.

“Isu (pemindahan ibu kota) ini penting bagi UIN Jakarta agar bisa lebih mandiri dan berpikir out of the box. Semoga menjadi rencana yang baik untuk kesejahteraan bangsa ke depan,” katanya.

Rektor Amany mengatakan, kehadiran forum BKS-PTN Barat sangat penting. Selain untuk memperkuat hubungan kerja sama kelembagaan dan akademik, juga dapat saling bertukar informasi dalam berbagai aspek, baik di bidang akademik maupun non akademik.

“Saya kira forum ini penting, terutama untuk memperluas kerja sama. Tentu tak hanya dengan PTN yang tergabung dalam BKS-PTN Barat, tetapi juga dengan PTN lain, baik di dalam maupun di luar negeri,” ujarnya.

Rata ke-39 BKS-PTN Barat akan berlangsung hingga 12 Januari 2019. Selain membahas isu pemindahan ibu kota RI, agenda lainnya adalah melakukan pemilihan ketua dan wakil ketua BKS-PTN Barat periode 2019-2021. Saat ini BKS-PTN Barat periode 2017-2019 dijabat Andre Elia Emban, Rektor UPR. (ns)

Share This