Gedung Rektorat, BERITA UIN Online – UIN Jakarta dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan telah melakukan berbagai langkah antisipasi guna menekan penyebaran Corona Virus Deases (Covid-19). Kedua instansi ini bersinergi menangani Covid-19, misalnya dengan mengimbau warga untuk tidak keluar rumah, menjaga jarak sosial (social distancing), serta meliburkan aktivitas perkuliahan.

Langkah lainnya, Pemkot Tangsel belum lama ini juga menyebarkan 100 torn portabel sebagai alat pencuci tangan kepada masyarakat. Alat tersebut disebar di beberapa titik lokasi, terutama di jalan-jalan utama, termasuk di depan kampus UIN Jakarta.

Bantuan satu unit torn portable kepada UIN Jakarta diserahkan pada Kamis (26/3/2020) kemarin dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan. Bantuan diterima Yubi Hamka, Komandan Satpam, yang saat itu sedang bertugas. Torn portabel berkapasitas 500 liter itu dilengkapi dengan air, sabun pencuci tangan, wastafel, dan tisu.

Sebelumnya, seperti yang dilansir beritatangerang.id, Rabu (25/3/2020), Wakil Wali Kota Tangsel Benjamin Davnie mengungkapkan bahwa 100 torn portabel yang dibagikan merupakan bantuan dari kontraktor BUMN Waskita Karya. Alat pencuci tangan disebar di 13 titik ruas jalan yang banyak dilalui kendaraan.

Penyediaan torn air pencuci tangan bertujuan agar warga membiasakan diri hidup bersih. Warga yang melintas diharap selalu mencuci tangan dengan sabun untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Sementara itu, dari pantauan BERITA UIN Online, Jumat (27/3/2020), suasana kampus UIN Jakarta sejak diliburkan terlihat sepi. Kampus hanya dijaga oleh sejumlah satuan pengamanan (Satpam).

Menurut Yubi Hamka, meski kampus libur, aktivitas Satpam tetap berpatroli 24 jam. Hal itu dilakukan semata untuk menjaga keamanan kampus yang ditinggalkan “penghuninya”.

“Kami berjaga secara bergantian, baik siang maupun malam,” katanya.

Menariknya lagi, kata dia, di tengah penjagaan itu, tak sedikit warga sivitas akademika yang mengirim bantuan, seperti makanan dan minuman, bahkan uang. Maklum, dalam suasana sepi seperti itu tak banyak warga sekitar yang berjualan makanan.

“Sejak kampus diliburkan akibat dampak virus Corona, para pedagang pun ikut libur karena tidak ada mahasiswa yang membeli,” kata Yubi yang hobi memotret dengan telepon pintarnya itu. (ns)

Share This