UIN Jakarta Catat 10 Penerima Hibah MORA AIRFUND 2026, Terbanyak di antara Perguruan Tinggi Penerima

UIN Jakarta Catat 10 Penerima Hibah MORA AIRFUND 2026, Terbanyak di antara Perguruan Tinggi Penerima

Nazwa Adawiyah Alif Qadafie
Tim Redaksi PIH UIN Jakarta

Ciputat, Berita UIN Online -  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menetapkan sebanyak 10 tim peneliti sebagai penerima Program Pendanaan Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama atau Ministry of Religious Affairs - The Awakened Indonesia Research Funds (MORA AIRFUND) Tahun 2026. Penetapan tersebut  didasarkan oleh Keputusan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nomor 380 Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset dan menghasilkan penelitian yang berdampak bagi masyarakat. Keputusan ini disampaikan kepada para penerima pada Kamis (17/9/2026) di Ciputat.

Program tersebut menetapkan 131 tim peneliti dengan total pendanaan Rp71,85 miliar yang terbagi dalam tujuh tema, yakni Sains dan Teknologi, Kesehatan dan Farmasi, Pelayanan Keagamaan, Studi Agama, Sosial Humaniora, Pendidikan dan Bahasa, serta Ekonomi Kreatif. Proses seleksi dilakukan melalui aplikasi eRISPRO dengan tahapan pendaftaran, penilaian internal, administrasi, substansi proposal, wawancara, hingga offering

Rektor UIN Jakarta, Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi kepada para dosen dan peneliti yang memperoleh pendanaan. Menurutnya, capaian tersebut menjadi bagian dari penguatan budaya riset sekaligus memperluas kontribusi akademik UIN Jakarta dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat. Keberagaman tema yang diraih juga menunjukkan perkembangan ekosistem penelitian yang mencakup berbagai disiplin keilmuan.

“Capaian ini diharapkan semakin memperkuat budaya riset sekaligus memperluas kontribusi akademik UIN Jakarta bagi penyelesaian berbagai persoalan masyarakat,” ujar Prof. Asep.

Ketua LP2M UIN Jakarta, Prof. Amelia Fauzia, Ph.D., turut menilai peningkatan jumlah penerima MORA AIRFUND sebagai indikator berkembangnya kapasitas peneliti dan dukungan terhadap ekosistem riset di UIN Jakarta. Berdasarkan data capaian penerima, jumlah tim peneliti UIN Jakarta meningkat dari dua tim pada 2024, menjadi lima tim pada 2025, kemudian mencapai 10 tim pada 2026.

“Ini menjadi indikator berkembangnya kapasitas peneliti sekaligus dukungan terhadap penguatan ekosistem riset di lingkungan UIN Jakarta,” jelasnya.

Kesepuluh tim tersebut mengembangkan penelitian dengan tema yang beragam. Dari bidang sosial humaniora terdapat Dr. Cucu Nurhayati, M.Si. melalui riset tentang model kerukunan umat beragama dan Prof. Dr. Ibnu Qizam, S.E., M.Si., Ak., Ca. dengan kajian sharia-financial inclusion di Indonesia, Malaysia, dan Turki. Bidang sains dan teknologi diwakili oleh Khodijah Hulliyah, M.Si., Ph.D. melalui pengembangan model dan infrastruktur kecerdasan artifisial untuk pemahaman teks keilmuan Islam.

Pada bidang ekonomi kreatif, Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag., M.Si. mengembangkan Eco-Brick Micro, yakni model ekonomi sirkular berbasis sedimen waduk untuk inovasi material ramah lingkungan dan pemberdayaan desa. Sementara itu, bidang pelayanan keagamaan mencakup riset Prof. Burhanuddin Muhtadi, Ph.D. mengenai Indonesian Islamic Philanthropy Index (IIPI) serta Prof. Amelia Fauzia, Ph.D. mengenai faith-based philanthropy di Indonesia.

Adapun bidang Pendidikan dan Bahasa meliputi penelitian Prof. Siti Nurul Azkiyah, Ph.D. tentang desain implementasi wajib belajar 13 tahun di Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Muhammad Ikhsan Tanggok, M.Si. mengenai kebutuhan satuan pendidikan agama Khonghucu, dan Dr. Ainurrafiq, M.Ag. tentang kearifan lokal sebagai infrastruktur multikulturalisme dan moderasi beragama serta Salamah Agung, Ph.D. mengenai pendidikan keluarga dalam membentuk kesalehan umat beragama sebagai fondasi pembangunan nasional.

Secara keseluruhan, penelitian yang didanai mencakup isu moderasi beragama, inklusi keuangan syariah, kecerdasan artifisial, digital humaniora Islam, ekonomi sirkular, filantropi Islam, pendidikan, kearifan lokal, serta pendidikan keluarga. Rangkaian tema tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan riset di UIN Jakarta bergerak lintas disiplin dan diarahkan tidak hanya untuk pengembangan keilmuan, tetapi juga menjawab kebutuhan sosial, keagamaan, pendidikan, lingkungan, dan pembangunan masyarakat

Program MORA AIRFUND 2026 sendiri menetapkan 131 tim penerima dengan total pendanaan Rp71.851.855.600. Dari jumlah tersebut, tema Pendidikan dan Bahasa memperoleh alokasi terbesar dengan 51 tim dan pendanaan Rp21.059.699.500, disusul Sosial Humaniora sebanyak 32 tim dengan Rp13.349.100.600 serta Sains dan Teknologi sebanyak 19 tim dengan Rp19.863.005.000. 

Peningkatan penerima dari dua tim pada 2024 menjadi 10 tim pada 2026 sekaligus menunjukkan bertambahnya keterlibatan peneliti UIN Jakarta dalam skema pendanaan riset nasional. Capaian inilah yang diharapkan terus memperkuat posisi riset sebagai bagian dari kontribusi UIN Jakarta dalam menghasilkan pengetahuan yang relevan, lintas disiplin, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.