Gedung Rektorat, BERITA UIN Online – UIN Jakarta dipastikan akan segera mengakuisisi Rumah Sakit Haji Jakarta menjadi rumah sakit pendidikan (teaching hospital) bagi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan.

Hal itu terungkap dari hasil Focus Group Discussion (FGD) yang digelar UIN Jakarta di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat, Rabu (29/1/2020). Namun, langkah untuk mengakuisisi masih dalam proses kajian mendalam mengingat manajemen RS Haji Jakarta hingga kini belum baik.

Menurut Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Kementerian Agama pada tahun 2019 telah memberi mandat kepada UIN Jakarta agar RS Haji Jakarta yang berlokasi di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, dikelola dengan skema unit pelayanan teknis (UPT) dan menjadi salah satu unit usaha.

“Meski secara ekonomi mungkin tidak terlalu menguntungkan, namun UIN Jakarta sangat membutuhkan RS Haji Jakarta sebagai rumah sakit pendidikan bagi Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan,” katanya.

Rektor lebih lanjut mengatakan, UIN Jakarta sejauh ini masih terus mempelajari dan mengkaji keberadaan RS Haji Jakarta. Sebab, keberadaan rumah sakit tersebut hingga kini sedang dalam proses pembenahan manajemen.

“Jika RS Haji Jakarta sudah selesai masalahnya nanti akan diintegrasikan ke UIN Jakarta sebagai rumah sakit pendidikan,” tandasnya.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Wiku Bakti Bawono Adisasmito yang ikut diundang sebagai narasumber mengatakan, RS pendidikan akan menguntungkan secara ekonomi jika dikelola dengan baik. Untuk itu, jika nanti sudah diakuisi UIN Jakarta menjadi rumah sakit pendidikan harus memiliki master plan dan manajemen yang bagus, sehingga jika dikelola dengan baik akan menguntungkan.

“Jika tidak malah nanti akan membebani anggaran UIN Jakarta,” katanya.

Menurut Wiku, RS Haji Jakarta secara finansial sebenarnya sedang tidak sehat. Hutangnya kini mencapai Rp 82 miliar. Solusi untuk menyelesaikannya, saran Wiku, UIN Jakarta harus menggandeng pihak ketiga dengan skema, misalnya, melalui kerja sama operasional (KSO).

Wiku juga mengatakan operasional RS Haji Jakarta saat ini tidak lagi memiliki fungsi sebagai rumah sakit yang melayani pasien khusus jamaah haji sebagaimana awal didirikannya.

“Pasiennya sekarang lebih banyak dari masyarakat umum,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Wiku, ke depan jika RS Haji Jakarta ingin “menguntungkan” maka harus dikembalikan ke fungsi semula, yakni melayani pasien jamaah haji yang jumlahnya besar dan tersebar di wilayah Jabodetabek. Namun, jika hal itu akan dilakukan harus juga dikaji bagaimana dengan keberadaan puskesmas dan rumah sakit yang ada di daerah tersebut.

“Saya juga menyarankan jika RS Haji Jakarta ingin untung nanti namanya jangan diubah. Ini soal branding karena nama RS Haji Jakarta sudah dikenal luas di masyarakat,” ujarnya.

FDG diikuti oleh para wakil rektor, para kepala biro, pimpinan Rumah Sakit Syarif Hidayatullah, dan sejumlah dekan fakultas. FGD juga mendengarkan paparan hasil penelitian salah satu pegawai yang menjadi dokter di RS Haji Jakarta, Hendro Bakti Wibowo. mengenai kondisi “kesehatan” di rumah sakit tersebut. Penelitian Hendro merupakan tesisnya saat kuliah di Program Magister Kesehatan Masyarakat FKM UI.

Sebagai pegawai RS Haji Jakarta, Hendro hanya berharap bahwa kejayaan RS bersejarah tersebut segera dikembalikan. “Saya mewakili seluruh pegawai berharap marwah RS Haji Jakarta yang memiliki sejarah atas tragedi jamaah haji Indonesia di Mina agar segera dipulihkan,”katanya. (ns).

Share This