Secara intelektual, paham dan keyakinan saya tentang Tuhan dipengaruhi oleh lingkungan sosial, guru, ceramah-ceramah, buku bacaan dan perjalanan hidup. Seiring dengan bertambahnya umur, sebagai manusia saya mengalami perkembangan dan perubahan, sementara Tuhan yang saya yakini dari dulu sebelum tercipta manusia sampai sekarang adalah Tuhan yang sama. Dia Sang Pencipta alam semesta, Yang Maha Gaib (mysterium), Yang Maha Agung dan Menakutkan (tremendum), namun juga Maha Kasih serta Menyenangkan (fascinans).

Dengan kata lain, sejak dahulu Tuhan itu Maha Esa yang keberadaannya tidak terjangkau nalar, manusia memproyeksikan Tuhan memiliki sifat yang bisa menghukum, sehingga menakutkan, namun Dia juga memiliki sifat kasih sayang yang melimpah yang bisa mendatangkan kenyamanan dan ketenangan batin yang membuat orang beriman selalu rindu ingin dekat denganNya.

Saya mendekati Tuhan dengan tiga instrumen yang semuanya anugerah dariNya. Yaitu nalar untuk membangun argumen atas keberadaan dan kebesaranNya, hati untuk menangkap dan merasakan getaran kasih dan kedekatanNya, dan jasmani untuk melaksanakan ritual dan amal dalam tindakan nyata.

Hati di sini memiliki dua aspek, yaitu hati yang berhubungan dengan emosi (psyche), dan hati yang bersifat ruhani sebagai instrumen penghubung dengan Tuhan, karena –menurut pemahaman saya– setiap manusia memiliki ruh yang ditiupkan Tuhan, sehingga ruh ini sejak awal mula sudah mengenal dan mengimani Tuhan. Setiap ruh manusia pernah bersyahadat tentang Tuhan, namun mungkin lupa atau tertutup oleh nafsu dan kepicikan pikirannya, maka Tuhan mengirimkan para RasulNya sebagai juru ingat dan pembimbing ke arah jalan yang benar. Dalam kaitan ini mungkin tepat ungkapan William James bahwa setiap jiwa punya kecenderungan yang disebut “the will to believe“.

Argumen dan Eviden

Bukti atau eviden adanya Tuhan secara positif kasat mata tentu tidak ada, sehingga wajar dan logis jika penganut paham saintisme-positivisme tidak mempercayai Tuhan. Penduduk bumi lebih mudah bersepakat adanya matahari ketimbang Tuhan. Kaum positivis hanya percaya pada obyek yang bisa dinalar dan dibuktikan secara material. Oleh karenanya, sumbangan nalar bagi orang beriman adalah membangun argumen atau dalil rasional untuk mencari dan menelusuri jejak-jejak keberadaan Tuhan berupa karyaNya terutama alam semesta ini untuk memperkokoh pilihan imannya. Nalar hanya membangun argumen, namun tidak bisa menemukan Tuhan. Catatan lain tentang kekuatan nalar, sehebat apapun nalar seseorang, sekalipun dibantu kitab suci, yang dihasilkan adalah pengetahuan yang bersifat konseptual. Tuhan Yang Maha Mutlak dan Absolut tetaplah jauh, Maha Gaib, tidak terjangkau nalar manusia yang terbatas.

Berbagai bangunan argumen dan konsep tentang Tuhan berkembang dalam teologi, ilmu kalam dan filsafat ketuhanan. Sekian banyak argumen dan penjelasan rasional dibangun untuk meyakinkan orang tentang kebesaran dan kecerdasan Tuhan dengan titik tolak dari pengamatan terhadap alam semesta yang sangat akbar dengan segala isinya.

Dalam ungkapan filsafat, renungan ini dimulai dengan pertanyaan: Why there is something rather than nothing. Mengapa kita dan semesta ini ada, hadir, wujud, eksis? Lalu dari mana asal-usulnya, siapa yang mengadakan, apa dan siapa kekuatan pengendalinya, dan bagaimana masa depan dari semua ini? Pencarian dan perdebatan intelektual tentang Tuhan tak pernah berhenti dan telah melahirkan beragam mazhab pemikiran sehingga rasanya tidak mungkin manusia sejagad akan menganut paham dan doktrin ketuhanan secara tunggal dan seragam. Jangankan beda agama, dalam satu agama saja terdapat ragam pemahaman mengenai Tuhan dan relasinya dengan alam serta manusia. Makanya perdebatan tentang Tuhan tak akan pernah selesai dan menemukan kesepakatan tunggal, sehingga muncul ungkapan “agree in disagreement“. Sepakat untuk tidak sepakat. Catatan lain, mereka yang fasih dan menguasai teologi dan filsafat ketuhanan tidak serta merta hidupnya juga religius dan spiritualis.

Bahasa Agama

Bahasa agama yang bersumber pada kitab suci itu banyak menggunakan ungkapan simbolik dan metaforis. Misalnya cerita surga, seringkali diawali dengan kata perumpaan atau misal. Hanya sedikit yang bersifat historis, deskriptif dan eksplanatif. Bahkan cerita tentang Adam dan beberapa rasul Tuhan sekalipun secara ilmiah historis kita tidak memiliki eviden yang cukup. Sepengetahuan saya, hanya nabi Muhammad yang riwayat hidupnya didukung oleh bukti-bukti historis ilmiah paling kuat. Sebagai seorang Muslim tentu saja saya mengimani kebenaran kitab suci Alqur’an, yang di dalamnya menyebut Adam yang dikeluarkan dari surga. Namun nalarku masih tetap membuka diri untuk mendengarkan munculnya berbagai ragam tafsir tentang siapa sesungguhnya Adam serta konsep surga yang dimaksudkan. Apakah Adam itu sosok manusia pertama atau rasul Tuhan pertama, di sana terbuka ruang diskusi, tanpa mempengaruhi keimanan saya pada Tuhan.

Dalam kajian semiotika dibedakan antara simbol dan ikon. Simbol biasanya abstrak dan simpel, berfungsi menghadirkan realitas yang dianggap sakral, agung dan komplek. Sedangkan ikon wujudnya lebih kongkrit mendekati realitas yang hendak digambarkan, misalnya ikon berupa patung Bunda Maria dalam tradisi Kristiani. Contoh simbol termudah adalah bendera merah-putih yang melambangkan kedaulatan dan harga diri bangsa dan negara Indonesia. Di balik bendera itu terekam cita-cita dan sejarah panjang serta heorik dari anak-anak bangsa dalam memperjuangkan lahirnya negara sebagai rumah bersama. Oleh karenanya, siapapun yang menginjak-injak bendera merah putih dianggap menghina martabat bangsa Indonesia, sekalipun bahan kainnya milik sendiri dan benderanya dijahit sendiri.

Begitu pun dalam tradisi beragama banyak simbol dan adegan simbolik. Di dalam Islam, misalnya, ketika melaksanakan serangkaian ibadah haji terdapat bangunan dan adegan simbolik yang mengggunakan sarana Ka’bah, Hajar Aswad, melempar tugu berhala, kemah di padang Arafah, lari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwa, dan lain-lain yang kesemuanya itu merupakan adegan simbolik yang sakral bagi umat Islam. Namun bagi umat lain yang tidak paham dan tidak simpati pada Islam akan melihatnya sebagai permainan belaka yang amat mahal. Begitu pun lambang salib bagi umat Kristiani dan patung bagi umat Hindu, bagi mereka adalah sakral dan memiliki makna yang amat dalam. Jadi, sebaiknya kita tidak perlu mengkritik simbol-simbol agama orang lain dari pada salah dan merusak persahabatan. Cara terbaik memahami simbol-simbol keagamaan adalah dengan cara berempati secara intelektual, bertanya pada komunitas agama masing-masing dan mendalami makna filosofis dari simbol dan adegan ritual masing-masing agama berdasarkan sumber yang mereka pakai.

Tuhanku, Tuhanmu, Tuhan Kita

Secara konseptual, saya yakin Tuhan yang saya imani juga diimani oleh banyak orang termasuk mereka yang mengaku beda agama. Yaitu Tuhan Yang Esa, Dia satu-satunya Pencipta, Penguasa dan Pemelihara alam semesta. Dia yang kekal tidak berawal dan tidak berakhir, Dia yang menciptakan manusia, Dia yang pernah mengutus rasulNya untuk membimbing manusia agar mudah menemukan jalan kembali kepadaNya. Tuhan yang jauh jika dinalar, namun sangat dekat jika didekati dengan hati.

Meskipun Tuhan yang saya imani sangat mungkin sama dengan Tuhan yang diimani orang lain, bahkan juga Tuhan yang diimani pemeluk agama lain, tetapi saya sadar bahwa kualitas dan konsep keimanan seseorang berbeda-beda karena proses belajar, lingkungan keluarga dan tradisi yang membesarkan juga beda-beda.

Setiap agama memiliki ajaran ritual yang berbeda-beda. Doktrin jalan keselamatan yang diajarkan masing-masing agama berbeda. Itu wajar-wajar saja karena yang bertuhan adalah manusia, sedangkan manusia adalah makhluk sosial dan historis, alam pikirannya dipengaruhi oleh perjalanan hidupnya.

Lalu, sampaikah doa semua orang beriman itu serta mereka akan memperoleh jalan keselamatan setelah kematian nanti? Jujur, saya tidak tahu jawabnya. Dalam mendekati Tuhan saya diajari konsep “khauf wa roja’“. Suasana batin antara khawatir, ragu, bercampur yakin dan harapan. Saya tetap memiliki was-was dan keraguan, jangan-jangan doa dan ibadah saya tidak diterima oleh Tuhan yang saya imani. Namun begitu saya juga selalu memiliki harapan dan keyakinan bahwa Tuhan yang saya imani dan sembah sangatlah baik, Maha Pemurah dan Maha Pengampun, sehingga saya tak pernah berhenti berdoa dan berharap padaNya. Melihat orang lain yang berbeda keyakinan agama, saya tidak merasa terganggu, biarlah itu semua urusan Tuhan. Yang penting dalam bermasyarakat dan bernegara ini kita saling tolong-menolong menegakkan etika sosial yang terpuji demi kebaikan sosial bersama.

Prof Dr Komaruddin Hidayat MA, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: https://www.facebook.com/komaruddin.hidayat.7/posts/10217612763944648, 30 Agustus 2019. (lrf/mf)

Share This