Oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam penggalan hadits yang ditulis oleh Imam Thabrani, Nabi SAW bersabda, “Ada tiga hal yang dapat menjadi sebab seseorang memperoleh kedudukan yang tinggi di akhirat kelak. Pertama, membudayakan ucapan salam. Kedua, memberi makan kepada tamu dan orang yang lapar. Ketiga, mendirikan shalat tahajud di tengah malam di kala manusia tertidur nyenyak”.

Mengenai yang pertama, Allah SWT berfirman, ” “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan rumah kalian sebelum kalian meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya” (QS al-Nuur/24:27). Inilah etika dan tata kerama antar sesama tetangga dalam Islam agar masing-masing saling menghargai hak-hak individu dan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Tak hanya itu, ketika bertemu dan berpisah kita juga diajarkan memberi salam. Hal ini seperti hadits yang ditulis Imam Bukhari, “Apabila Rasulullah mendatangi suatu kaum, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sebanyak tiga kali”. Tiga kali ini adalah batas terakhir apabila yang diberi salam tidak kunjung membalas salam yang kita sampaikan. Ini dimaksudkan agar tidak mengganggu orang lain yang mungkin dalam keadaan udzur, sakit, atau tidak ada di tempat.

Salam juga disampaikan bukan hanya kepada orang yang dikenal saja. Kepada yang tidak kita kenal juga harus ditebarkan salam. Nabi SAW bersabda, “Islam yang baik adalah memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal” (HR. Bukhari dan Muslim). Bersumber dari Ibnu Mas’ud, Nabi SAW pertegas, “Nanti akan datang suatu masa, pada masa tersebut seseorang hanya akan mengucapkan salam pada orang yang dia kenal saja” (HR. Bukhari).

Tentang memberi makan orang yang lapar dalam sebuah potongan hadits qudsy Nabi SAW bersabda, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu, mengapa kamu tidak memberi-Ku? Orang itu menjawab, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau Tuhan semesta alam? Allah berfirman, “Kamu mengetahui ada hamba-Ku yang kelaparan dan kamu tidak memberinya makan. Sekiranya kamu memberinya makan, pasti kamu mendapati Aku di sisinya” (HR. Muslim).

Terakhir yang akan memberi kita kedudukan yang tinggi adalah shalat tahajud. Allah SAW berfirman, “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (QS al-Israa/17: 79). Tempat terpuji ini bukan hanya kedudukan mulia di dunia tapi lebih dari itu kemuliaan di akhirat.

Menurut Wahbah al-Zuhaili, tempat yang terpuji itu adalah tempat yang dipuji oleh orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian. Yakni tempat di mana Nabi SAW memberikan syafa’at. Ketika itu manusia mencari orang yang mau memberikan syafa’at untuk mereka. Mereka mendatangi Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, lalu Nabi Isa. Namun mereka tidak bisa melakukan hal itu. Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad SAW untuk berbicara kepada Allah agar Allah merahmati mereka di padang mahsyar.(sam/mf)

Share This
Beasswa Mahasiswa Terdampak Covid 19 STF