Auditorium, BERITA UIN Online – Angka kecelakaan di Jakarta masih cukup tinggi. Demi meminimalisir hal itu, Polda Metro Jaya mengeluarkan fitur baru untuk mendeteksi pelanggaran lalu lintas. Fitur baru ini akan segera diluncurkan pada April mendatang.

Hal itu diungkapkan Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusuf dalam Dialog Millenial Road Safety Festival 2019 di Auditorium Harun Nasution, Selasa (5/3). Selain Kombes Yusuf, narasumber lain adalah Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiyadi, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit, dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi. Acara dibuka Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Masri Mansoer.

Yusuf mengatakan, sistem tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) menggunakan kamera CCTV berteknologi tinggi. Fitur ini, kata Yusuf, akan memantau pelanggaran lalu lintas di Jakarta. CCTV ini bisa merekam dan meng-capture pelanggaran dan pelat nomor kendaraan di lapangan. Data pelanggaran terkoneksi di back office Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya. “Nantinya akan ada petugas dari Gakkum dan Regident yang akan mengecek data pelanggaran tersebut,” ucapnya.

Dalam fitur baru ini, sudah tersedia juga automatic face detection. Pengendara yang melanggar aturan bisa dideteksi wajahnya. Seluruh jalan yang ada di Jakarta akan dipasang dengan fitur ini pada April mendatang. Jika ada yang melanggar, maka akan dikenai surat tilang. “Pengemudi mobil juga akan terdeteksi wajahnya. Baik orang yang mengemudi maupun samping kirinya,” jelasnya.

Menurut keterangan Yusuf, fitur ini diluncurkan guna memperbaiki mindset masyarakat agar selalu tertib berlalu lintas. Hal ini, kata Yusuf, dimulai dari generasi millenial untuk menciptakan ketertiban bersama. “Jika melanggar lalu lintas, tidak hanya diri sendiri yang celaka, tapi masyarakat yang lain juga ikut kena dampaknya,” katanya.

Program ini, lanjut dia, tidak disusun dengan mudah. Para perwira harus melakukan studi banding ke berbagai negara maju terlebih dahulu. Kebijakan ini dilakukan untuk melihat sistem berkendara di negara maju. “Kami memilah mana yang bisa diterapkan di negara kita,” ungkapnya.

Selain itu, Polda Metro Jaya juga secara rutin mengirim seluruh perwira pada hari Senin awal bulan untuk menjadi pemimpin upacara di sekolah yang ada di Jakarta. Melalui program ini, Polda Metro Jaya ingin melakukan sosialisasi sekaligus edukasi terkait kiat-kiat berkendara yang baik bagi generasi millenial.

Mengingat generasi millenial sebagai tonggak penerus bangsa kini menempati angka kecelakaan lalu lintas tertinggi. Mulai dari korban hingga pelaku masih dalam rentang usia produktif, yakni antara 17-35 tahun.

Yusuf mengatakan, mengacu dari catatan Satlantas, dari 105.000 peristiwa kecelakaan, 55 persen korbannya adalah generasi millenial. Angka korban meninggal dunia dalam catatan tersebut mencapai 30.000 orang. “Data ini harus menjadi perhatian kita, karena ketertiban sangat dibutuhkan di negara kita. Oleh karena itu taatilah peraturannya,” tutupnya. (ns/siti heni rohamna)

Share This