Musibah kembali terjadi. Menurut Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musibah yang terjadi di Selat Sunda, Sabtu (22/12), merupakan resultante beberapa fenomena bencana berbeda yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan.

Pertama, fenomena meteorologi maritim yang ditandai oleh gelombang tinggi sebagai akibat dari cuaca ekstrem dan bulan purnama. Kedua, erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan getaran (tremor) pada dinding lereng di Kompleks Krakatau yang menyebabkan longsor. Ketiga, terjadinya tsunami sebagai akibat lanjut dari longsor bawah laut. Sampai Ahad sore (23/12), 223 orang meninggal dunia, 859 Iuka-Iuka, dan 28 hilang. Jumlah korban kemungkinan besar masih akan bertambah.

Sunnatullah

Dalam pandangan Alquran, musibah adalah sunnatullah. “Tiada satu pun musibah yang terjadi di bumi dan menimpa dirimu, kecuali sudah tertulis di dalam Kitab sebelum (Allah) mewujudkannya. Yang demikian itu sungguh mudah bagi Allah,” (al-Hadid, 57: 22).

Sunnatullah memiliki dua pengertian, pertama, segala sesuatu terjadi sesuai dengan kodrat dan iradat Allah sebagai Sang Maha Pencipta (Al-Khaliq). Manusia dan semua yang ada di alam semesta adalah ciptaan Allah (makhluk). Kedua, semua makhluk memiliki sifat-sifat bawaan (tabiat dan fitrah) dan hukum-hukum alam (natural laws) yang berjalan sesuai kehendak Allah.

Hukum-hukum Allah sebagian tertulis (prescribed) sebagian besarnya tidak tertulis. Hukum-hukum yang terkait dengan perilaku manusia termaktub di dalam Alquran (ayat qauliah). Alquran berkali-kali menyebabkan fenomena dan peristiwa alam sebagai bukti kebenaran dan keberadaan Allah sebagai Tuhan Yang Mahakuasa (ayat-ayat kauniah). Sebagian besar ayat-ayat kauniah tidak dijelaskan hukum-hukumnya. Konsekuensi manusia harus terus-menerus berusaha untuk memahami dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta dengan menggunakan indera, akal, dan nuraninya sebagai fungsi yang memungkinkan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan, maka semakin besar kemampuan manusia membuka rahasia hukum-hukum. Peristiwa dan hukum alam yang sudah terbuka disebut sebagai takdir. Sebagian takdir bisa diubah melalui ikhtiar, sebagian lainnya tidak dapat diubah. Kejadiannya di luar kehendak dan kemampuan manusia. Inilah yang disebut musibah.

Walaupun tidak dapat diubah, dengan  ilmunya manusia dapat menjelaskan sebab musababnya. Kualitas ilmu pengetahuan manusia berkembang seiring kemampuan mereka membuka rahasia alam semesta. Bagi mereka yang tidak berilmu, alam merupakan makhluk gaib yang misterius. Minimnya ilmu membuat manusia bersikap fatalistis. Para pemeluk agama primitif (animisme dan dinamisme) menyembah alam untuk mendapatkan keselamatan. Bagi kaum beriman, mereka menyembah Tuhan Pencipta Alam melalui ritual-spiritual. Musibah dimaknai sebagai akibat dari rendah dan rusaknya spiritualitas.

Bagi mereka yang berilmu, alam adalah buku terbuka. Alam tidak lagi misterius. Dengan ilmunya, manusia bisa menjelaskan berbagai peristiwa alam, memanfaatkan alam sebagai anugerah dan kesejahteraan manusia, serta menyelamatkan manusia dari berbagai peristiwa alam. Dengan ilmunya, manusia bisa melakukan ‘intervensi’ ilmiah dan mengubah takdir Allah.

Alquran, misalnya, menjelaskan orbit matahari, bulan, dan planet-planet sebagai takdir Allah (Yasin, 36: 38-40). Pemahaman manusia atas sistem tata surya memungkinkan manusia mengembangkan kalender (Yunus, 10: 5) dan memprediksi berbagai peristiwa alam, seperti gerhana matahari dan bulan, badai, perubahan iklim, dan sebagainya. Di tangan mereka yang berilmu dan berakhlak mulia, alam menjadi sahabat dan anugerah Allah yang begitu indah. Dengan ilmunya, manusia bisa menjelaskan proses terjadinya gunung berapi dan memprediksi mengapa dan waktu letusan terjadi. Demikian halnya dengan gempa bumi. Manusia bisa menjelaskan fenomena gempa bumi, bagaimana mengantisipasi dan menyelamatkan dir., Dengan llmu, kesadaran, tanggungjawab kemanusiaan, manusia mengembangkan teknologi dan mitigasi bencana.

Meskipun demikian, manusia tidak mampu mencegah terjadinya takdir Allah. Dengan segala kehebatan ilmunya, manusia tetaplah makhluk yang lemah. Manusia bisa memprediksi letusan gunung berapi, tetapi tidak bisa mencegahnya. Sejauh ini manusia hanya mampu mengembangkan teknologi sistem peringatan dini tsunami dan gempa bumi untuk meminimalkan tingkat kerusakan dan korban. Dengan teknologi, manusia bisa mendeteksi badai. Karena itu, agar tidak menimbulkan korban jiwa, para pemegang otoritas perhubungan dapat membatalkan penerbangan, pelayaran, dan penggunaan moda transportasi lainnya. Jalan kehidupan dan keselamatan hidup manusia ditentukan oleh pemahaman dan kepatuhan terhadap sunnatullah, baik yang termaktub dalam Alquran maupun jagat raya.

Sikap Positif

Dalam pandangan Islam, musibah tidak selalu berupa keburukan, tetapi juga kebaikan (Majelis Tarjih, 2015). Karena itu, terjemahan musibah dalam bahasa Indonesia sebagai bencana tidaklah tepat. Musibah juga tidak selalu bersifat kausalitas, tetapi lebih karena berlakunva sunnatullah dan sifat-sifat manusia dan alam semesta sebagai makhluk yang fana. Semua yang maujud akan binasa. Yang kekal (Baqa) hanya Allah.

Dengan kemajuan teknologi kedokteran dan pengobatan, para ilmuwan mampu mengobati berbagai penyakit. Namun, obat tidak mampu menjamin kesembuhan dan kehidupan. Sehat dan hayat adalah anugerah dan hak Allah. Semua yang hidup akan mengalami mati. Para dokter tidak dapat mencegah kematian. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan harapan hidup dengan pola hidup sehat. Terhadap kematian, para dokter hanya bisa menjelaskan sebab dan waktunya setelah kematian itu terjadi. Walau demikian, penjelasan tetaplah berguna sebagai kajian ilmiah agar manusia dapat mengembangkan ilmu dan dasar akidah agar manusia sadar akan datangnya kematian. Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah kutukan. Tetapi, peringatan dan pelajaran bagi yang hidup (al-Baqarah, 2: 155). Di sinilah arti pentingnya ikhtiar, sabar, dan tawakal dalam ajaran Islam, sehingga manusia senantiasa bersikap positif terhadap musibah.

Karena itu, musibah adalah peristiwa biasa. Hidup manusia adalah perjalanan dari satu musibah ke musibah yang lainnya. Hidup adalah perjalanan dari satu takdir menuju takdir yang terakhir. Hidup laksana roda yang berputar; ada kalanya di atas, ada waktunya di bawah. Yang demikian itu agar manusia tidak tidak pongah ketika berjaya dan tidak putus asa dalam nestapa (al-Hadid, 57: 23). Akan ada cahaya di balik gulita.

Musibah tidaklah selalu merupakan hukuman. Gunung meletus bukanlah hukuman, melainkan peristiwa alam yang justru menimbulkan kesuburan tanah. Allah menciptakan alam semesta dan manusia dalam kesempurnaan ciptaan dan kebaikan. Kerusakan alam bukan karena murka Allah, melainkan konsekuensi langsung atau tidak langsung atas perilaku manusia. “Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat dari perbuatan manusia … ” (al-Rum, 30: 41).

Akibat dari polusi terjadilah pemanasan global yang menyebabkan terjadinya cuaca ekstrem, gelombang pasang, badai, dan perubahan iklim. Aki bat jangka panjang bisa mengancam ketersediaan pangan karena rusaknya pertanian dan ekosistem. Penyebab polusi adalah penggunaan energi yang berlebihan dan gaya hidup yang boros. Dalam konteks itulah, al-Qurthubi di dalam tafsirnya memaknai al-bar dan al-bahr sebagai lisan dan hati. Jika keduanya rusak, rusaklah dunia.

Pada hakikatnya, semua bencana itu akibat perbuatan manusia (man made disasters). Banjir dan tanah longsor yang sering disebut sebagai bencana alam (natural disasters) terjadi karena perbuatan manusia dan kebijakan yang mengabaikan lingkungan.

Dengan sikap positif, musibah adalah momentum untuk manusia memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup. Sebagai ujian (bala), musibah dapat menjadi parameter kualitas spiritual, intelektual, dan moral suatu masyarakat dan bangsa. Musibah adalah momentum bagi manusia untuk meninggalkan dosa spiritual. Melalui musibah, suatu bangsa dapat meningkatkan kualitas intelektual dengan memperbanyak wawasan melek bencana (disaster literacy), tanggap bencana (disaster preparatness), tangguh bencana (disaster surveillance), serta mengembangkan riset dan teknologi untuk meminimalkan tingkat kerusakan akibat musibah.

Bagi suatu bangsa, musibah adalah ujian moralitas untuk mengukur soliditas dan solidaritas sosial dan kemanusiaan. Di tengah musibah, masih ada yang tega mengail di air keruh, melakukan politisasi, komodifikasi, dan korupsi bencana. Musibah alam yang terjadi bertubi-tubi di negeri ini semoga tidak menjadi musibah politik yang semakin jauh menghancurkan ketahanan iman dan persatuan, tetapi momentum agar bangsa ini bangkit dengan kekuatan iman, kemajuan ilmu pengetahuan, dan kemuliaan keadaban. (mf)

Dr Abdul Mu’ti MEd, Dosen Program Magister Pendidikan Agama Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Republika, Rabu 26 Desember 2018.

Share This