oleh: Jajang Jahroni, Ketua LP2M UIN Jakarta

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu usiran ISIS dari berbagai negeri di Timur Tengah yang tengah menjalani pemulihan. Seorang lelaki, sebut saja namanya Darwin, mengaku ditangkap setelah sekian bulan terlunta-lunta di perbatasan Syria-Turki. Ia seorang sarjana teknik jebolan sebuah kampus yang cukup ternama di tanah air. Ia bukan petempur (combatant), namun seorang sipil biasa. Setelah menjual hartanya, ia pergi bersama keluarganya ke Syria. Di sana, karena punya keahlian teknik, ia bekerja di sebuah bengkel. Suatu saat, ia mendengar pimpinan mereka Abu Bakr al-Baghdadi akan datang ke kota mereka. Akhirnya, malam itu, ia dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri sang imam, sosok yang menjadi alasannya datang ke Syria.

Dalam berbagai hadis, Syam—yang meliputi Syria, Yordania, Palestina, dan Lebanon—disebut sebagai serpihan bumi yang paling diberkahi Tuhan. Menjelang hari kiamat di bumi tersebut terjadi banyak peperangan, peperangan antara hak dan batil, dan setiap Mukmin tahu ke kelompok mana harus berpihak. Namun kehadiran sang imam ternyata tidak lama. Ada desas-desus malam itu juga sang imam meninggalkan kota itu. Dan tak lama setelah kepergiannya, menjelang pagi, kota itu dibombardir misil yang ditembakkan dari jarak jauh. Puluhan orang tewas.

Sejak itu Darwin menyimpan kekecewaaan terhadap sang imam. Seharusnya sang imam melindungi pengikutnya. Namun kekecewaan itu dipendamnya. Yang penting sang imam selamat dan bisa meneruskan perjuangan. Ia pun terus bekerja di bengkel itu, lalu pindah ke tempat lain, terus pindah lagi hingga akhirnya ditangkap oleh tentara Turki. Sejumlah temannya dari tanah air tewas baik karena perang atau sakit. Ia mendengar beberapa perempuan, baik sukarela maupun terpaksa, melayani birahi para petempur dan tentu saja digilir. Sebut saja Mawar, seorang perempuan dari Lampung, melayani empat hingga lima orang setiap malamnya. Awalnya ia merasa perih di bagian selangkangannya. Ternyata ia kena sepilis. Mawar meninggal beberapa bulan kemudian.

Mengapa orang beragama begitu mudah menukar harta, kehormatan, dan bahkan nyawa dengan “iming-iming” surga? Ini pertanyaan serius yang mengganggu banyak orang, dari dulu hingga sekarang. Ada dua hal yang menyebabkan orang beragama melakukan tindakan tersebut.

Pertama, orang beragama selalu dalam posisi tidak sabar menanti kebenaran ayat-ayat tuhan, ingin melihat kebenaran yang dijanjikan tuhan itu benar-benar terjadi di hadapan mereka. Mereka meyakini bahwa pada akhirnya kebenaran akan menang, dan kebatilan kalah. Terkait penantian ini, ada sejumlah hadis yang menyebut kedatangan Imam Mahdi sebelum kiamat, dan karena hadis-hadis ini, Darwin terdorong pergi ke Syria. Peperangan di Timur Tengah yang terjadi akhir-akhir ini dan peristiwa-peristiwa yang menyertainya, menurut Darwin, sesuai dengan apa yang digambarkan dalam hadis. Darwin dan Mawar, serta ribuan lainnya yang pergi ke Syria semata ingin menjadi saksi, ingin menjadi pengikut Imam Mahdi sebelum dunia ini benar-benar berakhir. Mereka ingin merasakan apa yang disebut “moment of the truth” yaitu ketika nubuwat yang ada dalam teks suci benar-benar terjadi. Memang ini bukan khas Islam. Di agama lain pun hal ini pernah terjadi. Akhir 1970-an, Pendeta Jim Jones di Guyana mengajak para pengikutnya untuk melakukan bunuh diri berjama’ah (collective suicide) demi menyambut kerajaan tuhan yang akan segera tiba.

Kedua, sebagian kelompok agama mengidap gejala mati tafsir. Mati tafsir adalah kondisi ketika kaum beragama menafsirkan sebuah teks dari satu jurusan saja dan tidak memberi peluang untuk tafsir alternatif. Karena tidak ada alternatif, mereka bersikeras mengupayakan apa yang diyakininya, tanpa kompromi. Kepercayaan akan masa depan dan hari kiamat (apocalyptic) lalu bertemu dengan ideologi politik tertentu membuat kelompok ini begitu ekstrim. ISIS adalah sejenis gerakan apocalyptic yang menggabungkan ramalan tentang hari kiamat dan ideologi politik.

Darwin mengidap keduanya. Ia pergi ke Syria untuk bergabung dengan Imam Mahdi yang dinanti-nantikannya. Dan ia memahami Imam Mahdi sebagai sosok yang digambarkannya di atas. Dalam wawancara ia menyatakan betapa bahagianya orang yang bisa menyaksikan Imam Mahdi dan menjadi pengikutnya. Entah itu sebagai prajurit atau warga sipil lainnya. Darwin yakin laki-laki paruh baya yang dilihatnya malam itu adalah Imam Mahdi. Pandangannya tajam, ilmunya dalam, perkataannya lugas, berjanggut lebat hitam kemerah-merahan, dan itu sesuai dengan gambaran beberapa hadis yang dibacanya. Malam itu Darwin diliputi kebahagiaan yang luar biasa. Ia melihat kebenaran dan nyaris menggapainya.

Apa yang terjadi bila ketidaksabaran ini bertemu dengan gejala mati tafsir? Bunuh diri! Mawar mati dan ratusan laki-laki, perempuan, anak-anak mati. Namun Darwin selamat. Kekecewaan kepada sang imam membuatnya menyendiri dan akhirnya terpisah dengan kelompoknya.

Iman Yang Menunjukkan

Untuk beragama secara sehat, tafsir harus dinamis, tidak monolitik apalagi mati. Teks harus ditafsirkan ulang untuk menyesuaikan dengan keadaan. Kaum Muslim percaya dengan kiamat, namun penafsiran tentang hari kiamat itu tidak pernah tunggal. Kapan hari kiamat terjadi tidak ada yang tahu. Hanya Allah yang tahu (QS 33:63).

Kepercayaan kepada Imam Mahdi menjelang kiamat dan turunnya Nabi Isa al-Masih , perang melawan Dajjal, disebut dalam sejumlah hadis. Bagaiman menafsirkan ini semua? Apakah Imam Mahdi, Nabi Isa, dan Dajjal harus ditafsirkan secara harfiyah atau simbolik saja. Masing-masing orang punya pilihan. Namun yang jadi masalah adalah kalau penafsiran yang harfiyah itu melekat pada diri seseorang. Abu Bakr al-Baghdadi diyakini sebagai Imam Mahdi. Ini yang repot karena akan menjadi self-fulfilling propechy, ramalan yang mewujud dalam dirinya. Dan di mana-mana ramalam seperti ini menimbulkan keonaran.

Karena ini pula, Mawar yakin pengorbanannya dapat membebaskannya dari kesementaraan dunia ini. Maka ketika diminta melayahi seorang petempur, ia menurut saja. Darwin pada akhirnya ragu. Ia menjaga jarak dengan kelompoknya yang membuatnya terpisah. Tidak diketahui di mana ia sekarang.

Laron dan Cahaya

Hubungan manusia dengan kebenaran mungkin sama dengan hubungan laron dengan pelita. Ibarat ini dipakai banyak sufi. Laron suka dengan cahaya, tapi begitu ia hinggap di sumber cahaya tersebut ia akan mati. Ini karena kemampuan manusia menerima kebenaran begitu terbatas. Nabi Musa pernah meminta agar tuhan menampakkan diri-Nya di hadapannya. Begitu tuhan bertajalli di atas sebuah bukit, Musa jatuh tersungkur. Ia tidak sanggung. Ketika mikraj, Nabi Muhammad pun hanya nyaris melihat Tuhan. Tuhan berada di balik sidrah (tabir). Sidratul muntaha (tabir terakhir) adalah tempat terjauh yang mungkin bisa dicapai manusia.

Maka kemudian, manusia tidak boleh jumawa dengan kebenaranya yang berada dalam genggamannya. Itu hanya serpihan kebenaran karena kebenaran yang sesungguhnya milik tuhan semata. (zm/sam)

Share This