Oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Penulis Buku “Milir”

Doa sapu jagat terkuak dalam firman Allah SWT, “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. al-Baqarah/2: 201). Ayat ini dikatakan sebagai doa sapu jagat karena menyangkut dua permohonan, yakni dunia dan akhirat.

Padahal secara historis, doa ini terkait dengan ibadah haji. Allah SWT berfirman, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu” (QS. al-Baqarah/2: 200).

Jalaluddin al-Suyuthi dalam Asbab al-Nuzul, mengutip Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas ihwal latar belakang turunnya al-Baqarah/2 ayat 200. Ibnu Abbas berkata, “Pada masa jahiliah, pada saat musim haji orang-orang berdiri, lalu ada di antara mereka yang berkata, “Dulu ayah saya memberi makan, membantu membawakan beban dan membayar diyat”.

Menurut Ibnu Abbas, yang mereka lakukan hanyalaha menyebut-nyebut kebaikan yang telah dilakukan ayah-ayah mereka. Oleh karena itu, Allah SWT menurunkan ayat, “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah dengan menyebut Allah” di atas. Inilah usai haji yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah di Mekah.

Kendati mereka berdoa, mereka hanya meminta dunia. Allah SWT tegaskan, “Maka di antara manusia ada orang yang bendoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat” (QS. al-Baqarah/2: 200). Kebaikan dunia yang mereka pinta, diberikan oleh Allah SWT dengan beragam rupa.

Menurut Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, mereka meminta unta, sapi, kambing, budak laki-laki dan perempuan, dan harta benda yang banyak. Sementara bagian yang menyenangkan di akhirat, yakni surga, mereka tidak mendapatkannya. Jadi orang-oran jahiliah menjadikan haji sebagai kesempatan untuk meminta dunia dan kenikmatannya.

Berbeda dengan orang-orang beriman yang datang kemudian. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. al-Baqarah/2: 201). Bagi pengarang Tafsir Jalalain, dua karakter ini merupakan lukisan orang-orang musyrik dan orang-orang beriman.

Bagi orang-orang beriman, seperti diungkap Syaikh Nawawi Banten, “hasanah” atau kebaikan di dunia adalah ilmu, ibadah, terpelihara dari dosa-dosa, mati syahid, mendapat harta rampasan perang, kesehatan, kecukupan, dan taufik (petunjuk) untuk berbuat baik. Bisa dibandingkan dunia yang diminta kedua kelompok manusia ini, berbeda.

Orang-orang musyrik hanya memohon satu permintaan, yakni dunia. Sementara orang-orang beriman seusai menjalankan ibadah haji memohon tiga permintaan. Yakni, tidak hanya dunia, tapi juga akhirat (surga dan kenikmatannya). Termasuk, orang-orang beriman meminta juga, “Peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. al-Baqarah/2: 201).

Tampak orang-orang beriman itu visioner, tidak hanya berpikir kini di sini tapi juga nanti di sana. Allah SWT menjanjikan, “Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari yang mereka usahakan” (QS. al-Baqarah/2: 202). Allah SWT juga sangat cepat mengabulkan doa, seperti lanjutan ayat ini, “Dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya”.(sam/mf)

Share This