Ruang Dekan FAH – BERITA UIN Online – Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, mempersiapkan diri sebagai fakultas yang mampu mengedepankan sikap adab dan humaniora dalam membangun peradaban manusia. Sikap ini sebagai pijakan dasar dalam menata kembali bangunan dasar tentang peradaban.

Pikiran di atas digulirkan Dekan FAH UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Prof Dr Sukron Kamil, MA dalam diskusi terbatas di ruang tamu Dekan FAH, kemarin, 12 November 2017. Peradaban, ujar Sukron, adalah cikal bakal bangunan manusia.

“FAH diharapkan menjadi pilar penyangga peradaban Islam yang lahir dari UIN Jakarta. Salah satu cara yang dikerjakan adalah membangkitkan gairah pemikiran di lingkungan  mahasiswa dan para dosen di sekitar FAH,” ungkap Sukron.

Untuk itu, Sukron mengharapkan para mahasiswa FAH dan dosen FAH terlibat secara aktif dalam  memajukan peradaban  Islam ini. FAH harus jadi pelopor peradaban Islam Indonesia. Dalam jejak sejarah, lanjut Sukron, ulama-ulama terkenal di masa kejayaan Islam, tak hanya lahir dari jazirah Islam. Dari sinilah, FAH bisa jadi alasan menjadi pelopor.

“Ulama-ulama terkenal di masa kejayaan Islam terutama di bidang filsafat yang berasal dari Arab hanya al- Kindi, setelah itu semuanya non-Arab dalam hal ini dari Jazirah Arab. Bila kita runut seperti ar-Razi itu dari wilayah Ray kini wilayah Iran, kemudian Ibnu Sina dan al- Farabi itu juga dari wilayah Iran kini. Karena bila dilihat kebudayaan Iran itu merujuk pada Asia Tengah seperti Uzbekistan pun itu mencakup kebudayaan Iran, “ ujar penulis buku Teori Kririk Sastra Arab, Klasik dan Modern

Lebih jauh Sukron menjelaskan bahwa kita bisa melihat ketika muncul peradaban Islam di Spanyol itu menjadi rumah tiga agama. Bahkan Yahudi pada saat Islam di Spanyol mengalami puncak ilmu filsafatnya, justru ketika mereka berada dalam kekuasaan Islam Spanyol. Bahkan bila kita bicara fikih sekalipun, Imam Hanafi itu orang Persia bukan dari jazirah Arab. Jadi saya kira meskipun bukan mengecil kan Arab, karena Arab tetap memiliki peran. Karena itulah peradaban itu bukan disebut peradaban Arab tapi peradaban Islam. Karena yang membangun peradaban Islam itu tidak hanya Arab, bahkan yang dominan pada era setelahnya itu non Arab.

Sukron memandang jejak sejarah Islam bisa dilihat dari tiga analisis. Pertama, Islam adalah agama yang mementingkan prestasi. Artinya manusia tidak dilihat dari barang atau ekonomi, tapi penghargaan itu diberikan karena prestasi. Kedua, dalam sejarah sekalipun persamaan dalam Islam itu cukup kuat. jadi tidak ada keistimewaan Arab. Bahkan dalam beberapa buku orientalis, mengungkapkan posisi non- Muslim dalam peradaban Islam memiliki posisi jauh lebih dilindungi ketimbang kaum Muslimin di dalam kekuasaan non-Muslim.

“Ini artinya dalam Islam itu persamaan dijunjung tinggi, bahkan dalam sejarah Islam ada kelompok budak yang bisa berkuasa yang disebut Dinasti Mamluk. Dinasti Mamluk itu dari orang orang budak yang diambil dari Dinasti Ayubiyah untuk menjadi tentara, kemudian akhirnya bisa berkuasa. Dan analisis ketiga, seperti yang disampaikan teori Ibnu Khaldun, yakni ketika bangsa Arab saat itu sudah mapan cenderung berada dalam kondisi nyaman dan manja,” ujar Sukron.

Sukron memandang, aalam peradaban Islam,  Arab awalnya memiliki kekuasaan dan kemapanan. Jadi membuat bangsa Arab tidak memiliki tan tangan. Jadi ini membuat bangsa Islam lain yang berusaha keras untuk naik dan mengejar ketertinggalan.

“Inilah yang membuat bangsa bangsa Persia saat itu akhirnya muncul dan mengambil alih peradaban Islam tersebut,” tegasnya. (Edy AE)

 

Share This