Problem utama masyarakat nonmuslim di dunia ini adalah penilaian yang keliru terhadap hakikat Islam atau muslim. Beberapa kejadian kekerasan seperti bom bunuh diri yang dilakukan sebagian kecil muslim digeneralisir sebagai watak dan ajaran Islam.

Sebaliknya, sebagian muslim menganggap Barat atau nonmuslim sebagai teroris yang sesungguhnya karena menumpahkan banyak darah di Irak, Palestina, Suriah, Mesir, Yaman, dan Afghanistan. Islam dan non-Islam dianggap musuh abadi yang tidak bisa bersatu.

Jadi, kedua belah pihak saling curiga. Cara pandang seperti ini jelas merupakan bibit konflik, permusuhan, perpecahan, dan benturan peradaban (clash of civilization) antar pemeluk agama yang beragam. Islam adalah agama yang ramah dan penuh cinta tetapi pemahaman umatnyalah yang kadang salah.

Strategi Standar

Pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam dan luar negeri, kampus, dan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) senantiasa menyerukan persatuan dan harmoni antar pemeluk agama demi terwujudnya kehidupan yang rukun, damai, dan saling gotong-royong.

Melalui seminar dan dialog, tema kerukunan umat beragama digemakan berulang-ulang. Sasarannya adalah semua lapisan masyarakat, generasi muda dan tua. Demikian pula banyak tulisan dan riset yang bertemakan kerukunan umat beragama, titik temu agama-agama, atau Islam moderat.

Ribuan opini dan artikel ilmiah bertemakan Islam Moderat, Islam Inklusif, Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, Islam Rahmatan Lil’alamin, telah lahir, baik yang ditulis sarjana muslim maupun sarjana Barat.

Intinya, Islam adalah agama yang ramah, menghargai perbedaan, cinta damai, dan menolak kekerasan. Seminar, dialog, dan tulisan tersebut merupakan upaya mendakwahkan Islam yang ramah atau smiling Islam—meminjam istilah Abdurrahman Mas’ud, agar tercipta pemahaman yang benar tentang hakikat Islam bagi khalayak, khususnya bagi nonmuslim.

Strategi Kopi

Dakwah Islam yang ramah tidak cukup dengan dialog dan tulisan saja. Menurut Ronald Lukens-Bull (2019) dari Amerika, berbincang sambil minum kopi atau teh merupakan cara efektif membangun pemahaman dan hubungan yang baik, kondusif, bahkan produktif antar pemeluk agama.

Singkatnya, orang membenci seseorang atau kelompok tertentu karena ia tidak mengenal mereka dengan baik. Jika sudah mengenal dengan baik, maka tidak akan ada kebencian antar pemeluk agama. Saling mengenal satu sama lain adalah kunci harmoni dan perdamaian.

Abdurrahman Mas’ud dalam bukunya Mendakwahkan Smiling Islam; Dialog Kemanusiaan Islam dan Barat (2019) menjelaskan bagaimana indahnya menyebarkan Islam yang ramah melalui tulisan, lisan, apalagi dengan berinteraksi langsung dengan pemeluk agama lainnya. Dia melakukannya saat mengambil magister dan doktor di Amerika selama tujuh tahun (1990-1997).

Mengenal pemeluk agama lain sebagai pribadi seperti ayah, ibu, anak, atau sahabat, di luar jabatannya sebagai dosen dan profesor misalnya, mampu menyadarkan setiap kita bahwa manusia itu memiliki banyak kesamaan daripada perbedaan. Dengan demikian, akan tercipta saling menghargai perbedaan agama dan suku bangsa. Islam dan Kristen; Indonesia dan Amerika.

Pergaulan sosial muslim dan nonmuslim tidak hanya melahirkan pemahaman yang baik nonmuslim terhadap Islam. Sebaliknya, muslim belajar banyak tentang pentingnya aktualisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat. Islam harus membumi agar menciptakan masyarakat yang ramah dan berkeadaban atau madani.

Contoh, di Amerika dan Eropa, bagaimana pelayanan publik sangat bagus, dan praktik-praktik kehidupan islami dijalankan. Muslim yang pernah hidup di sana mengalami bagaimana polisi menjalankan tugasnya dengan baik. Polisi di sana tidak ditakuti, sementara di Indonesia ditakuti.

Singkatnya, interaksi sosial yang intensif antar pemeluk agama penting agar kita saling mengenal. Mengenal satu sama lain merupakan modal sosial terciptanya kehidupan yang aman dan damai. Smiling Islam tidak cukup dibicarakan di ruang diskusi, tetapi bisa di cafe atau rumah sambil minum kopi atau teh, dalam suasana santai sambil mengenalkan anggota keluarga masing-masing.

Kecuali itu, nilai-nilai Islam harus mewujud dalam perilaku muslim sehari-hari. Jujur, antri, disiplin, ramah, anti korupsi, bersih, buang sampah pada tempatnya, senyum, sapa, memaafkan, santun, melayani, dan menghargai perbedaan, harus menjadi budaya masyarakat Indonesia. Dengan demikian, Islam tidak hanya indah dalam perkataan tetapi juga perbuatan.

Dr Jejen Musfah MA, Ketua Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: PGRI, 14 Juni 2019. (lrf/mf)

Share This