ADA dua catatan utama dari debat keempat yang mempertemukan calon presiden petahana Joko Widodo dan Prabowo Subianto dari perspektif komunikasi politik. Pertama, soal gaya komunikasi yang digunakan. Mereka tampak kembali ke gaya mereka masing-masing. Kedua, soal substansi pesan terkait dengan tema yang diperdebatkan. Dari tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional, jelas tema terakhir sangat kurang terelaborasi optimal.

Gaya personal

Saat debat perdana dan kedua, Prabowo tampak berupaya sekali menjaga ritme dalam berkomunikasi dan mengadaptasi gaya personal yang bukan khas dirinya. Diksi-diksi yang diproduksi dalam membungkus narasi banyak yang diperhalus dan mengedepankan sisi lain Prabowo yang lebih humanis.

Sementara itu, Jokowi, di debat perdana dan kedua banyak mengambil inisiatif membuka dialektika, mengajukan pertanyaan menohok, dan jawaban yang membuat suasana terutama di debat kedua cukup menghangat. Terlebih, saat Jokowi mengajukan pertanyaan soal kepemilikan lahan yang dimiliki Prabowo di Kalimantan Timur dan di Aceh.

Di debat keempat, mereka berdua kembali ke gaya masing-masing dan berupaya tampil maksimal sesuai dengan karakternya. Dari pendekatan akademik, terutama mengacu ke pandangan tipologi gaya komunikasi menurut Steward L Tubbs dan Sylvia Moss, dalam buku Human Communication Principle and Context (2005), Jokowi masuk ke tipe gaya kesetaraan (equalitarian style). Gaya komunikasi dua arah yang dilandasi aspek kesamaan.

Ciri khas gaya komunikasi itu, biasanya arus komunikasi yang dimainkan komunikator bersifat timbal balik, berupaya menghadirkan empati dan kerja sama, serta cenderung memiliki rasa kepedulian dan mampu membina hubungan baik dengan pihak mana pun termasuk lawan.

Saat tampil di debat keempat, Jokowi tampak berusaha menampilkan penghormatan pada lawan, meskipun diserang sejak segmen pembukaan lewat pernyataan Prabowo soal praktik jual-beli jabatan di pemerintahannya.

Sesi pembuka Jokowi dimulai dengan gimik dilan atau digital melayani. Jokowi juga menegaskan perlunya penajaman dan penyederhanaan kelembagaan hingga peningkatan kualitas SDM dan reformasi tata kelola. Dalam bidang pertahanan, Jokowi bicara soal peningkatan kualitas SDM di TNI hingga penguasaan teknologi persenjataan dan siber.

Dalam bidang hubungan internasional, Jokowi menegaskan prinsip bebas aktif. Bahkan, saat segmen empat dan lima pun Jokowi tampak mengontrol dirinya untuk tidak asertif. Intonasi suara yang cenderung datar dan stabil, gestur cukup rileks, reaksi atas serangan Prabowo juga tampak tidak berlebihan. Misalnya, saat diserang soal pertahanan Indonesia yang lemah, soal banyaknya briefing dari para pembantu presiden yang dianggap Prabowo ABS (asal bapak senang), serta serangan terkait dengan pengelolaan asing di bandara dan pelabuhan.

Saat Jokowi berkesempatan bertanya ke Prabowo pun, Jokowi bertanya dengan tendensi yang tidak menggebu-gebu, misalnya, saat bertanya soal mal pelayanan publik. Pun saat Jokowi menanyakan isu hubungan internasional tentang konflik Rohingya di negara bagian Rakhine State. Respons balik Jokowi lebih banyak mengelaborasi cerita kesuksesan dari apa yang telah dilakukan pemerintahan Indonesia di Rakhine State.

Sementara itu, Prabowo di debat keempat tampak berapi-api, memaksimalkan serangan, dan berupaya all out dengan gaya aslinya, yakni dinamis (dynamic style). Gaya ini bersifat agresif, asertif, bicara blak-blakan, dan cenderung sangat berorientasi pada hasil akhir.

Dalam banyak hal, gaya itu juga sering menggunakan diksi-diksi yang cenderung agitatif. Hampir di semua segmen Prabowo menyerang Jokowi, kecuali di segmen penutup dan segmen awal saat membahas ideologi Pancasila yang mana mereka saling melempar pujian dan apresiasi.

Prabowo menyerang Jokowi di isu pemerintahan, misalnya soal banyaknya kartu. Dia mengatakan, tidak usah memperbanyak kartu. Satu kartu cukup untuk menjalankan satu fungsi besar. Dia berulang-ulang menyatakan pertahanan RI lemah, anggaran pertahanan kecil, termasuk saat menyerang Jokowi lewat dugaannya bahwa presiden menerima briefing keliru soal prediksi tak akan ada invasi dalam 20 tahun ke depan.

Sayangnya, Prabowo kerap lupa menjaga stabilitas emosi di panggung. Saat membahas topik hubungan internasional, dynamic style Prabowo memunculkan kontroversi, terutama hubungannya dengan pengelolaan emosi. “Jangan ketawa. Kenapa kalian ketawa? Pertahanan Indonesia rapuh kalian ketawa. Lucu ya? kok lucu,” kurang lebih pernyataan itu yang muncul dari Prabowo. Padahal, debat tentu saja lebih banyak ditonton pemirsa yang ada di rumah jika dibandingkan dengan yang hadir di lokasi debat. Reaksi Prabowo tersebut akan meneguhkan asumsi banyak pihak selama ini bahwa salah satu sisi dominan dari karakter Prabowo ialah temperamental.

Padahal, dalam perspektif komunikasi, komunikator sangat perlu mempraktikkan manajemen privasi komunikasi. Sandra Petronio dalam karyanya, Boundaries of Privacy: Dialectics of Disclosure (2002), menyebutkan komunikator harus mengatur mana yang perlu dan tak perlu disampaikan.

Pesan tegas dan menggebu sebenarnya tidak masalah, hanya harus dibarengi pengendalian emosi. Jangan sampai masyarakat meneguhkan asumsinya bahwa sang komunikator sangat dominan dan sulit keluar dari karakter personal temperamentalnya.

Pesan kunci

Yang menarik dari cara memikat dukungan para pemilih yang masih bimbang dan pemilih yang belum menentukan pilihan oleh Jokowi dan Prabowo di panggung debat ialah benang merah pesan-pesan kunci (key messages). Jokowi selaku petahana berulang-ulang menyampaikan cerita sukses (succsess story) pemerintahanya, sedangkan Prabowo lebih ke pendekatan supremasi.

Di debat keempat, Jokowi mengungkap anggaran pertahanan dan keamanan sebesar Rp107 triliun yang disebutnya kedua terbesar setelah Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera). Jokowi juga memaparkan apa yang sudah dilakukan pemerintah Indonesia di Rakhine State. Pemerintahan Jokowi sudah berupaya mengadaptasi teknologi untuk menopang pemerintahan yang lebih terbuka, misalnya, lewat e-government.

Prabowo sejak debat perdana hingga keempat hampir tak pernah ketinggalan selalu memasukkan pesan kunci soal kekayaan Indonesia yang mengalir ke luar negeri. Pernyataan Prabowo soal lebih baik memilih menggunakan teknologi lama, yang penting kekayaan Indonesia bertahan di dalam negeri menjadi contoh strateginya memikat pemilih dengan pendekatan supremasi. Prabowo mengulang pesan soal perlunya kekuatan pertahanan dan langkah diplomasi yang tegas sehingga Indonesia menjadi negara berwibawa. Strategi ini ingin mengesankan Prabowo sebagai pemimpin kuat (strong leader).

Satu segmen yang harus diapresiasi dari keseluruhan debat keempat ialah segmen penutup. Inisiatif dimulai dengan pernyataan Jokowi soal metafora rantai sepeda. Ini menjadi ‘oase’ penting di tengah persaingan yang memasuki titik kulminasi.

Rantai persahabatan antara Jokowi dan Prabowo tetap akan terpelihara meskipun mereka berbeda. Reaksi Prabowo juga bak gayung bersambung, yakni mengamini apa yang dikehendaki Jokowi agar keduanya tetap memelihara persatuan. Contoh seperti ini penting untuk menjaga daya tahan dan stabilitas demokrasi Indonesia yang sedang tumbuh berkembang ke arah yang tepat.

Gun Gun Heryanto

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta dan Anggota Dewan Pakar ISKI

Artikel ini telah dimuat pada kolom Opini, harian Media Indonesia edisi, Selasa 02 April 2019. (lrf)

Share This