Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun baru 2020 M. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena menarik dalam perayaan pergantian tahun baru.  Meski masih cukup banyak warga merayakan tahun baru dengan membakar kembang api, menyalakan petasan, dan meniup  terompet, sambil bersorak sorai, sebagian umat Islam melakukan muhasabah dan  penyucian diri (tazkiyat an-nafs): bertaubat, berdzikir, beristighfar, berdoa, dan melakukan ibadah lainnya di masjid.

Bagi umat Islam, sesungguhnya tidak ada yang luar biasa dari pergantian tahun baru masehi. Sebab peristiwa ini sama sekali tidak berkaitan dengan ajaran Islam dan tidak ajarannya untuk merayakan, apalagi berpesta pora dan begadang, sehingga menyebabkan terlambat bangun tidur di pagi hari. Berpesta pora di malam tahun cenderung lebih besar tidak bermanfaat, berperilaku tabdzir, dan mengganggu kenyamanan masyarakat yang sedang beristirahat akibat bunyi terompet dan petasan.

Oleh karena itu, umat Islam memang harus memiliki kesadaran teologis bahwa semakin hari umurnya semakin berkurang, padahal amal ibadahnya belum tentu meningkat. Kesadaran teologis itu sangat penting karena umur yang diberikan oleh Allah SWT termasuk yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. “Tidaklah kedua kaki seorang hamba itu melangkah sebelum ditanya tentang empat hal: tentang umur, untuk apa dihabiskan? Tentang (kesehatan) fisik, untuk apa dipergunakan? Tentang harta, darimana diperoleh? Dan Untuk apa dibelanjakan? Dan tentang ilmu, apakah sudah diamalkan? (HR at-Turmudzi dan at-Thabarani)

Umur atau kontrak hidup manusia itu merupakan anugerah Allah yang harus dimaknai, karena umur manusia sungguh terlalu mahal jika dijual atau digadaikan hanya untuk kesenangan dunia sesaat yang memperdaya dan menyesatkan (QS Ali Imran [3]: 185). Oleh karena itu, setiap Mukmin harus memiliki manajemen waktu  (idarat al-waqti) yang membuat umurnya kaya dengan amal salih, kemakmuran duniawi dan ukhrawi, kemakmuran materi dan hati, kemakmuran finansial, mental spiritual, dan moral.

Selain kesadaran teologis, setiap muslim idealnya juga harus mampu melakukan aktualisasi spirit wal ‘ashri dengan menghargai dan menerapkan disiplin waktu, terutama waktu antara (al-‘ashr). Waktu antara (interval dalam kehidupan) adalah waktu keniscayaan yang sering tidak disadari dan tidak dilihat sebagai momentum penting, sehingga begitu waktu antara terlalui, penyesalan baru datang menghampiri. Dalam konteks ini, Nabi SAW menegaskan pentingnya memaknai dan mengkatualisasi waktu antara. “Jagalah (waktu antara) yang lima sebelum datang yang lima: waktu mudamu sebelum pikunmu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR al-Hakim).

Sedemikian pentingnya waktu antara tersebut, sehingga Allah SWT bersumpah dengan dengan Wal-‘Ashr (Demi masa, waktu antara). Meskipun sangat singkat, terdiri hanya tiga ayat,   pesan dan spirit surat al-‘Ashr itu sangat mendalam dan bermakna, karena menjelaskan petunjuk dan peta jalan hidup manusia yang beruntung, tidak merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, menurut Imam Syafi’i, kandungan surat al-’Ashr itu setara dengan sepertiga Alquran.

Aktualisasi  wal ‘ashr  merupakan sebuah kemestian, jika umat dan bangsa ini ingin meraih kejayaan peradaban di masa depan.  Spirit wal ‘ashri harus menjadi energi positif sekaligus energi penggerak umat dan bangsa, dengan menghargai  dan disiplin waktu, memiliki manajemen waktu yang efektif dan efisien. Aktualisasi wal ‘ashri juga harus didasari iman kepada Allah dan dibarengi gerakan dan tindakan amal multikesalehan. Beramal multikesalehan akan semakin berkembang positif jika dikawal dengan semangat  belajar tiada henti (tawashaw  bil haqq), selalu mencari dan menegakkan kebenaran sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan, aktualisasi wal ‘ashri harus dikawal dengan sikap mental pemenang, tahan banting, bersabar, dan berjiwa besar dalam menghadapi aneka persoalan dan tantangan kehidupan (tawashaw bis shabr).

Aktualisasi spirit wal ‘ashri pada masa Rasulullah SAW diwujudkan dengan menjadikan surat al-‘Ashr sebagai bacaan “penyempurna” setiap pertemuan. Para sahabat yang berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu tidak akan berpisah sebelum mengakhiri majelis dengan membaca surat al-‘Ashr. Jadi, aktualisasi spirit  wal ‘ashri adalah spirit perubahan menuju perbaikan kualitas hidup penuh makna sekaligus bahagia dunia dan akhirat, sukses lahir dan batin, tidak merugi duniawi dan ukhrawi.

Dengan demikian, spirit wal ‘ashri perlu terus diaktualisasikan karena manajemen waktu itu merupakan kunci sukses dan bahagia. Manusia sukses dan bahagia atau beruntung  pasti selalu menghargai dan disiplin waktu dengan berbekal iman, mengembangkan ilmu, memaknai hidup dengan amal shalih, berani menegakkan kebenaran, dan selalu menghiasi diri dengan kesabaran. Jadi, teologi, metodologi, manajemen waktu yang efisien dan efektif merupakan spirit wal ‘ashri yang dapat menjadi penentu utama kemajuan dan kejayaan umat dan bangsa.

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Hikmah Republika, 16 Desember 2019. (lrf/mf)

Share This