Gun Gun Heryanto 

Debat capres yang kedua akan digelar Minggu (17/2). Kali ini, yang akan berhadapan di panggung debat adalah calon presiden petahana Jokowi dan calon presiden penantang Prabowo Subianto.
Debat mengusung tema energi, lingkungan hidup, infrastruktur, pangan, dan sumber daya alam. Kelima tema penting yang bersinggungan langsung dengan hajat hidup orang banyak. Hal terlemah di debat perdana, secara umum belum menggambarkan kelasnya debat presidensial.

Butuh skema lebih progresif untuk menjadikan debat sebagai momentum pendidikan politik. Debat juga panggung uji publik bagi calon pemimpin nasional, menyangkut paradigma berpikir, arah ke depan, basis program prioritas, sekaligus kredibilitas dan kapasitas personal.

Kualitas Debat
Indonesia pertama kali menyelenggarakan debat presidensial terbuka dan disiarkan live di televisi nasional sejak 2004. Tetapi, dalam penyelenggaraannya, debat presidensial di Indonesia lebih banyak menggambarkan sisi seremonial, formal, saling menjaga kesantunan secara berlebihan yang menyebabkan debat sangat menjemukan dan monoton.
Wajar jika debat tidak terlalu banyak berpengaruh pada perubahan pilihan warga. Meskipun demikian, kita masih bisa terus berbenah untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan debat. Sejarah Pemilu Presiden Amerika Serikat cukup relevan untuk kita jadikan sebagai masukan perbaikan.
Debat presidensial pertama di Amerika, dengan model disiarkan langsung lewat media massa seperti televisi dan radio dimulai tahun 1960. Saat itu, calon presiden dari Partai Demokrat John F. Kennedy menantang wakil presiden petahana dari Partai Republik Richard Nixon.
Kemudian debat yang disiarkan langsung televisi ditiadakan selama 12 tahun dan baru digelar lagi pada tahun 1976 yang mempertemukan calon presiden penantang dari Demokrat Jimmy Carter dengan presiden petahana dari Partai Republik Gerald Ford.
Debat presidensial cukup mendapatkan perhatian khalayak di Amerika Serikat, rata-rata ditonton 50 hingga 60 juta warga Amerika Serikat. Berdasarkan data yang dirilis Commission on Presidential Debates, debat perdana Kennedy vs Nixon ditonton oleh 66.4 juta warga, debat perdana Carter vs Fordditonton 69,7 juta warga. Debat perdana Barack Obama vs John McCain di tahun 2008 ditonton 52,4 juta.
Sementara debat perdana yang mempertemukan Obama vs Mitt Romney pada 2012 ditonton sebanyak 67,2 juta. Debat perdana Hillary Clinton vs Donald J. Trump pada 26 September 2016 menyita perhatian luas dikhalayak terlihat dari mereka yang menonton naik menjadi 84 juta. Saat debat mengecewakan, partisipasi warga yang menonton turun drastis, hanya sekitar 37 juta.
Artinya, antusiasme warga terhadap penyelenggaraan debat presidensial sangat dipengaruhi juga oleh kualitas isi perdebatan dan penyelenggaraan debat. Memang tidak ada ukuran pasti apakah debat presidensial di Amerika Serikat memengaruhi signifikan keterpilihan mereka secara merata di negara-negara bagian yang menjadi kunci kemenangan.
Misalnya, Nixon yang beretorika lebih baik, tetapi sikap Kennedy yang keren dan menarik di televisi kontras dengan ketidaknyamanan Nixon yang membuatnya tidak populer di mata pemilih. Kesalahan data yang disampaikan oleh Gerald Ford soal Polandia yang menurutnya tidak berada di bawah dominasi Uni Soviet, ternyata keliru sehingga Ford harus menarik kembali pernyataannya.
Hal ini menimbulkan kesan dia tak memahami situasi geopolitik selama Perang Dingin. Ford pun kalah tipis dari Carter. Penampilan prima di debat yang dimiliki Bill Clinton meyakinkan pemilih dibandingkan George HW Bush yang kelihatan canggung dengan model debat Town Hall.
Bush di beberapa kesempatan terlihat tak acuh dengan pertanyaan dan dipersepsikan tidak peduli dengan persoalan mendasar yang diperdebatkan. Lain lagi cerita dari debat Al Gore vs George W. Bush yang menunjukkan pengetahuan Gore di atas Bush, tetapi dia terkesan meremehkan mantan gubernur Texas tersebut.
Hasil akhir pun dimenangi Bush. Obama dua periode menunjukkan kepiawaian debat menyumbang signifikan kepercayaan publik kepadanya, baik saat menghadapi John McCain (2008) mau pun saat berdebat dengan Mitt Romney (2012). Debat presidensial di Pemilu Amerika Serikat 2016 memberi gambaran lain.
Hillary Clinton yang dianggap telah memenangkan ketiga debat presiden dalam jajak pendapat para pemilih ternyata hasil akhirnya Donald Trump unggul dalam perburuan electoral collage. Hal positif dari debat presidensial di Amerika Serikat adalah pelibatan perguruan tinggi untuk menjadi tempat debat.
Hal ini bagus untuk mengondisikan debat tak hanya milik para kandidat, tetapi juga menggairahkan partisipasi warga. Hal lain yang bagus adalah model town hall. Yang hadir di lokasi debat bukan tim hore para kandidat, terlebih dengan yel-yel dan tepukan berlebihan yang kerap mengganggu jalannya debat.
Yang dihadirkan adalah kelompok-kelompok warga, tokoh, atau panelis yang berhubungan langsung dengan topik-topik yang diperbincangkan. Moderator cukup satu orang dan format debat tidak dihabiskan dengan sesi paparan normatif. Umumnya tak banyak menggunakan opening speech.
Mereka langsung pada inti persoalan dan berdebat tajam soal substansi persoalan. Pelajaran pentingnya, debat itu fokusnya pada dialektika dan spontanitas para calon presiden dalam menanggapi ragam persoalan yang diangkat. Jangan terjebak pada cara normatif, harus berani ambil risiko berbeda.
Tetapi, memang tidak cukup hanya keagresivan verbal, melainkan butuh argumentasi dan data. Tentu, banyak juga catatan buruk mengemuka dari debat presidensial Amerika Serikat seperti saat debat Trump vs Hillary. Tetapi, secara umum dialektika masih terasa yang membuat publik punya pilihan berbeda dari sosok-sosok yang akan memimpin mereka.

Debat Kedua
KPU sebagai penyelenggara sudah mau memperbaiki mekanisme debat presidensial ala Indonesia. Saat debat perdana, hal yang tak lazim dan mengganggu nalar kritis warga adalah soal 20 pertanyaan yang sudah diberikan terlebih dahulu kepada pasangan calon. Kisi-kisi seperti ini sangatlah mencederai kualitas dan me nu run kan derajat debat presidensial.
Di debat kedua, kisi-kisi sudah tidak ada lagi. Mekanisme debat antarcapres ini dibagi dalam enam segmen. Segmen pertama berupa penyampaian visi-misi. Segmen kedua dan ketiga berupa pertanyaan dari tim panelis. Segmen keempat berupa debat eksploratif deng an pemantik diskusi berupa tayangan video singkat yang disiapkan tim panelis. Segmen kelima, kedua capres saling mengajukan pertanyaan bebas dan segmen keenam pernyataan penutup.

Tentu, publik berharap ba nyak perbaikan penampilan para capres. Mereka harus me nyiap kan data dan argumentasi lebih matang lagi. Kelima tema tersebut harus direspons Jokowi sebagai petahana dengan data soal kebijakan dan program apa saja yang sudah di la kukan dan kekurangan apa saja yang harus diperbaikinya lagi jika dia terpilih di periode kedua.
Sementara Prabowo yang kerap mengkritik Jokowi terkait dengan infrastruktur, penguasaan asing, utang akibat orientasi pembangunan yang keliru, dan lain-lain harus mendorong per debatan pada tawaran alternatif yang masuk akal dan ditunjang dengan data sebagai penguat untuk meyakinkan pemilih bahwa 2019 memang dia layak menjadi presiden.

Jika petahana tidak mengambil momentum untuk meyakinkan pemilih, yang diuntungkan tentu saja adalah petahana. Untuk debat ketiga dan seterusnya, seharusnya KPU tidak lagi menjadikan lokasi debat presidensial sebagai tempat pertunjukkan para suporter.

Debat bukan pertandingan sepak bola yang membutuhkan penonton banyak dan gegap gempitanya yel-yel. Debat adalah komunikasi persuasif ke khalayak luas. Meminjam pendekatan Social Judgement Theory dari Muzafer Sherif and Carolyn Sherif dalam Daniel J O’Keefe di bukunya Persuasion: Theory and Research (1990), debat itu penting untuk menjawab ego-involvement mengacu pada tingkatan seberapa penting “tawaran” mereka bagi kehidupan pemilih. Selamat ber debat! (Farah/zae)

Penulis adalah Dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta dan Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute. Artikel dimuat Koran SINDO, Rabu 13 Februari 2019.

Share This