Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Guru Besar sekaligus Rektor UIN Jakarta periode 1998-2006 Prof. Dr. Azyumardi Azra meminta pendidik di lingkungan UIN Jakarta menjadi motor moderasi beragama di tanah air. Menurutnya,nilai-niali moderasi ini sebelumnya juga pernah diwariskan Rektor IAIN Jakarta periode 1973-1984, almarhum Prof. Dr. Harun Nasution.

Demikian disampaikan Prof Azra saat memberikan kuliah keislaman dalam sesi buka puasa bersama pimpinan dan sivitas akademika UIN Jakarta di Auditorium Utama, Kamis (9/5/2019). “Tugas para dosen, pendidik di lingkungan UIN Jakarta adalah mendorong tumbuh dan terpeliharanya sikap keislaman non sektarian,” katanya.

Islam non sektarian, sambungnya, adalah ungkapan lain dari gagasan moderasi beragama. Dalam tradisi keilmuan-keislaman, moderasi beragama ini juga bisa diartikan sebagai Islam Wasathiyah atau wasathiyat al-Islam. “Sikap keberagamaan yang lurus. Tidak ke kiri, dan tidak ke kanan,” terangnya lagi.

Nilai-nilai penting moderasi beragama sendiri, sambungnya, antara lain yaitu moderat atau tawassuth, bersikap seimbang atau tawâzun, toleran atau tasâmuh, dan bersikap adil. Nilai-nilai ini, jelasnya, sebetulnya juga sudah merupakan karakteristik masyarakat di tanah air.

Para pendidik di lingkungan UIN Jakarta, lanjutnya, merupakan kelompok intelektual di lingkungan PTKIN yang paling diharapkan mengembangkan moderasi beragama. Secara keilmuan dan sejarah kelembagaan, UIN Jakarta memiliki modal mengembangkan moderasi ini.

Secara keilmuan, UIN Jakarta merupakan perguruan tinggi Islam yang pertama mendorong integrasi ilmu. Keberadaan fakultas dan prodi berbasis keislaman dan sains menjadi penanda penting integrasi ini.

Secara historis, jelasnya lagi, nilai-nilai moderasi beragama sendiri sudah jauh-jauh hari ditanamkan oleh almarhum Prof Harun. Guru besar yang wafat pada 18 September 1998 ini menanamkan sikap keislaman yang terbuka dan toleran atas perbedaan teologis dalam ruang-ruang kuliahnya. (zae)

Share This