Dalam artikel terdahulu ditegaskan bahwa tidak ada benda mati dalam kamus Alquran dan hadis. Banyak ayat dan hadis menegaskan, alam raya dengan segala isinya mempunyai kecerdasan untuk merekam dan mengenali lingkungannya. Alam raya adalah “mata-mata Tuhan” yang ikut membeberkan rahasia perbuatan umat manusia.

Alquran menegaskan, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak  ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (QS 17: 44).

Beberapa hadis menceritakan, alam raya seperti tanah atau bebatuan juga ikut bersumpah akan menjepit orang-orang yang berjalan di atasnya dengan sombong. Itulah sebabnya ayat menegaskan, “Dan janganlah kamu berjalan di muka buka ini dengan sombong. (QS al-Isra’ [17]: 37). Kitab-kitab tafsir dalam menjelaskan ayat ini mengutip banyak hadis, di antaranya mengancam orang yang sombong dengan tulang rusuknya akan dijepit oleh tanah dengan rapat satu sama lain.

Rasulullah SAW juga pernah mengajak sahabatnya untuk mendengarkan suara tasbih butir-butir pasir. Biji-biji pasir itu diletakkan di tangan Utsman ibn Affan, lalu Utsman mendengarkan suara-suara seperti bunyi lebah. Rasulullah mengatakan, itu bukan seperti suara lebah, tetapi bentuk tasbihnya pasir. Biji-biji pasir itu kemudian dipindahkan ke telapak tangan sahabatnya yang lain dan memperdengarkan ke telapak tangan sahabatnya yang lain dan memperdengarkan suara yang sama, tasbihnya pasir. Termasuk sahabat yang ikut mendengarkan suara tasbih pasir itu ialah Umar Ibn Khathab yang selama ini tidak mau percaya begitu saja sesuatu yang tidak masuk akal atau yang tidak lumrah terjadi.

Pada akhirnya, Umar percaya bahwa bebatuan juga mempunyai kemampuan berbicara atau bertsbih. Ia juga mengubah sikapnya untuk enggan mencium hajar Aswad. Ia pernah menegur hajar Aswad dengan mengatakan, “Jika saya tidak pernah diperhatikan Nabi mencium kamu maka tidak akan pernah saya cium Engkau. Masih banyak batu yang lebih baik dari Engkau,” sampai bertolak pinggang di depan Hajar Aswad. Pada akhirnya, Umar juga mencium Hajar Aswad.

Dalam kesempatan lain, para sahabatnya diminta untuk menggali parit sebagai benteng untuk mencegah musuh memasuki kota Madinah. Membangun benteng biasa sangat mahal dan membuhtuhkan waktu yang sangat lama, sementara musuh sudah menjelang tiba. Masalah muncul ketika linggis prajurit tidak mampu menembus batu cadas di seputar Kota Madina. Akhirnya, Rasulullah mengambil air di cerak lalu menyiram bebatuan itu kemudian batu besar itu menjadi lembut seperti pasir atau tanah biasa.

Alquran banyak menceritakan tentang gunung dan gua-gua yang ada di dalamnya. Di dalam gua-gua itu, Allah SWT menunjukkan keajaiban, antara lain Gua Kahfi di dalamnya ada sembilan orang ditambah seekor anjing tidur pulas selama 309 tahun. Gua Hira tempat Nabi bersemedi menerima wahayu pertama di dalam.

Manusia pun pada akhirnya tertidur pulas sekian lama di dalam liang lahatnya dengan menghadap ke kiblat. Ia mencium tanah sekian lama sampai dibangkitkan kembali setelah sangkakala kedua ditiup. Alquran juga banyak menyebut tanah sebagai unsur pokok di dalam bertayamum. Dari tanah kita berasal dan pada saatnya akan kembali lagi ke tanah menjadi tanah. Semoga kita memperoleh berkah. Amin.

Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Alquran Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Republika, 5 Juli 2019. (lrf/mf)

Share This