Alquran dan hadis mengisyaratkan silaturahmi bukan hanya dengan sesama manusia, apalagi dikhususkan kepada keluarga atau umat Islam. Konsep silaturahmi dalam Alquran adalah lintas kosmos. Alquran mengisyaratkan adanya silaturahim dengan alam raya (makrokosmos) selain sesama umat manusia (makrokosmos) .

Bersilaturahim dengan sesama umat manusia sudah lazim, terutama pasca –Lebaran Idhul Fitri, bahkan sudah dilembagakan dalam bentuk halal bi halal. Akan tetapi, bersilaturahim dengan alam raya sebagi sesama makhluk ciptaan Tuhan (ukhuwwah makhluqiyyah), terasa masih langka dan belum terlembagakan. Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan silaturahim dan menjalin hubungan keakraban dengan lingkungan sekitarnya, seperti fauna dan flora, dan lingkungan makhluk spiritual, seperti bangsa jin, malaikat, dan para arwah manusia terdahulu.

Dalam kamus Tuhan tidak ada istilah “benda mati”. Istilah benda mati hanya dikenal dalam kamus manusia biasa. Hal ini ditegaskan di dalam Alquran, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dab tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu selain tidak mengerti tasbih mereka, (QS [17]: 44).

Bersilatuhrahim dengan mereka tidak kalah pentingnya dengan manusia. Gagal membangun silaturahim dan keakraban dengan makhluk makrokosmos bisa membawa melapetaka bagi manusia. Hal ini sudah diinginkan Tuhan di dalam Alquran, “Telah tampak kerusakan di daratan dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusai.” (QS [30]: 41).

Silaturahim dengan benda-benda mati banyak dicontohkan Rasulullah SAW. Antara lain, ia melarang keras mencemari air; baik genangan air (al-ma’ al-rakid) maupun air yang mengalir (al-ma’ al-jari), suara tasbih butiran pasir di tangan Rasulullah SAW, batu keras manjadi lunak saat penggalian Khandak, dan kasus dinding dan daun pintu yang berbicara kepada Nabi.

Hadis lain menceritakan suatu ketika Rasulullah SAW menerima pemberian mimbar dari seorang ibu yang terbuat dari kayu untuk menggantikan membar tua dari batang kurma. Ketika mimbar itu dibongkar pada hari Jumat, tiba-tiba batang kurma itu menangis seperti bayi. Rasulullah SAW menjelaskan, “Batang pohon ini merasa sedih setelah akan ditinggalkan.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW turun dari membar dan mengajak berdialog bekas mimbar itu, “Sekarang kamu boleh memilih antara ditanam di depanmu semula, kamu dapat tumbuh berkembang seperti sebelumnya, atau ditanam di surga, kamu bisa meyerap sungai-sungai dan mata air di sana, lalu kamu akan tumbuh dengan baik dan buah-buahmu akan dipetik para kekasih Allah. Apa pilihanmu akan kamu laksanakan.

Batang kurma itu memilih untuk ditanam di surga. Seusai shalat Jumat, salah seseorang sahabat memboyong bekas mimbar itu kerumahnya dengan alasan ini bukan mimbar biasa, mimbar bisa bicara dan akan menjadi penghuni surga.

Hadis lain Rasulullah SAW mencontohkan memberi nama cangkir, sisir, cermin, dan pedagangnya. Ini semua menunjukkan bahwa benda mati tetap memiliki nilai di hadapan Allah SWT. Tidak ada satu pun makhluk Allah SWT yang diciptakan dengan sia-sia, sebagaimana ditegaskan di dalam Alquran, “Orang-orang yang mengingat Allah sampai berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka periharalah kami dari siksa neraka”. (QS Ali Imran [3[: 191).

Cara kita bersilarurahim dengan benda mati adalah dengan cara tidak melakukan perusakan dan penghancuran. Lingkungan alam yang sehat akan berperan penting juga untuk menyehatkan lingkungan kemanusiaan kita. Sebaliknya, jika berperilaku tidak bersahabat terhadapnya, mereka pun tidak menampilkan persahabatan dengan kita. Penelitian Dr Masaru Emoto tentang respons air terhadap perilaku manusia sudah lebih dari cukup membuktikan hal itu.

Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Alquran Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Republika, 21 Juni 2019. (lrf/mf)

Share This