Masyarakat kota tersistem untuk hidup dalam situasi yang kompetitif, serba cepat dan fungsional. Perubahan-perubahan dalam sistem kota kemudian menuntut seseorang, siapapun dia, untuk memiliki daya lenting (resilience) yang kuat pada dinamika tersebut. Mereka yang terlalu establish dengan kekuatan subyektifnya, biasanya hanya mampu bertahan pada titik tertentu, tapi tidak mengalami perkembangan.

Dalam perspektif seperti itu maka masyarakat kota membutuhkan beragam ruang untuk menumpahkan berbagai hal: kejenuhan, energy abundance, memperluas jaringan, dan juga relaksasi pribadi atau kadang disebut sebagai me time. Salah satu di antara sekian arena tempat menemukan kebutuhan tersebut adalah ruang seni dan kesenian.

Seni dalam kota bisa tertuang dalam beragam media: lanskap ruang, tata kota, arsitektur bangunan/gedung-gedung, tata cahaya, bahkan mural. Pada setiap media tersebut visualisasi seni bisa dinikmati oleh berbagai pihak dengan gratis. Contoh di negeri tetangga, Singapura, kebanyakan pelancong atau wisatawan pasti menyempatkan diri untuk berphoto dengan background Singa di Taman Merlion dan atau gedung yang seperti perahu (Marina Bay Hotel).

Seni pada ruang-ruang terbuka memang akan menambah nilai lebih tersendiri pada kota. Selain membanggakan, kawasan atau bangunan ikonik tersebut pun akan menghasilkan nuansa tersendiri pada penikmatnya. Di kota-kota yang menjadi tujuan wisata, lanskap ini begitu dipikirkan dengan baik dan detil. Contoh di kota-kota al-Magribi atau Maroko. Rabat, Casablanca, Tangier, Chefchaouen, dan kota lainnya, mengandalkan keindahan buatan pada lanskap-lanskap kotanya. Di sini, para pelancong menikmati mahakarya seni buatan tangan manusia dengan cara yang unik. Kasbah dan Kasr bisa dinikmati sambil menikmati Kopi Noir (black coffe) atau secangkir jus buah.

Ikon-ikon tersebut memiliki fungsi penambat kenangan. Yang semakin lama dijadikan tambatan, ia pun lama-lama akan memancarkan energi magnetik yang akan menyamankan orang.
Selain seni yang tampil pada media ruang terbuka seperti disebutkan di atas, seni di kota tampil juga pada beragam media tertutup. Pada ruang tertutup, eksplorasi pada seni kota hadir pada beragam media juga: café, hotel, kantor, museum, bahkan ruangan yang sifatnya privat seperti apartemen dan sebagainya. Pada ruang-ruang ini, wujud seni menghasilkan berbagai keindahan yang membuat penikmatnya terinspirasi untuk menghasilkan produk dan karya-karya yang berkualitas, atau menghasilkan kenyamanan lain bagi penghuninya.
Bahkan sekarang muncul konsep baru: ngantor di café. Atau café yang didesain untuk kantor, dan sederet kreativitas yang didalamnya merupakan persenyawaan antara seni desain interior dengan kebutuhan kerja.

***
Seni dan kehidupan masyarakat kota ibarat dua sisi mata uang. Kehadirannya saling melengkapi, tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, perhatian dan kesadaran kepada desain kota harusnya dimiliki oleh pemerintah, anggota dewan, dan masyarakat luas. Sebab dengan desain yang bagus, pantas, ikonik, bukan hanya akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita dan penghuninya, tetapi lebih jauh juga akan berdampak kepada meningkatkan wisatawan di kota tersebut.

Seni yang diaktualisasikan pada lanskap kota harus diletakkan pada cara pandang yang lebih besar, luas, dan jangka panjang. Masyarakat harus menjadi bagian dari aktor yang juga ikut berkontribusi pada desain kota secara keseluruhan.

Oleh karena itu, berikut beberapa hal yang sejatinya menjadi perhatian bersama dalam rangka meredesain ulang kawasan kota dengan mengkontribusikan seni di dalamnya: Pertama, dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang atau Menengah, pemerintah daerah harus meletakkan desain lanskap kota sebagai arena pembangunan. Pembangunan kota harus diletakkan dalam tata ruang kota yang berdesain apik, fungsional, sekaligus indah.

Kedua, pemerintah harus mencari, menemukan, atau menciptakan ikon-ikon kota. Ikon-ikon itu penting sebagai panambat kenangan pengunjung temporer ke kota tersebut. Sehingga jika teringat ikon tersebut, maka visualisasi kota itu pun muncul; Ketiga, setelah ikon tersebut ditemukan maka kemudian perlu ada sosialisasi kepada masyarakat luas agar meletakkan ikon tersebut dalam kehidupan kesehariannya. Festival, perayaan keagamaan, peringatan hari besar, bahkan sampai ke desain presentasi masyarakat di sekolah, perguruan tinggi, dan pemerintah, memasukkan unsur ikonik tersebut.

Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Sosiologi Perkotaan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Rakyat Merdeka, 25 Januari 2019.(lrf/mf)

Share This