Setiap mahasiswa yang kuliah pasti ingin selesai dan mendapatkan gelar magister. Akan tetapi, pengalaman menunjukkan tidak mudah. Lebih dari separuh mahasiswa magister tidak lulus karena alasan pekerjaan dan sudah berkeluarga. Sebelum mendaftar, mahasiswa seharusnya sudah memiliki persiapan matang, baik segi biaya maupun segi lainnya.

Fakta
Kategori mahasiswa magister dilihat dari aspek keuangan ada tiga: mahasiswa kaya, mahasiswa ekonomi menengah, dan mahasiswa miskin.

Dua kategori pertama tidak mengalami masalah biaya semester, tapi kategori ketiga bisa mengalami kendala keuangan. Kaprodi tidak bisa mengatasi ini. Sebaiknya mahasiswa merencanakan pembiayaan kuliahnya. Sedangkan dari aspek pekerjaan ada dua kategori: mahasiswa kuliah sambil bekerja, dan mahasiswa hanya kuliah.

Idealnya mahasiswa fokus kuliah, banyak membaca buku dan artikel, dan menulis makalah dengan baik sesuai kaidah ilmiah. Sistem kuliah berbasis riset membutuhkan banyak waktu membaca dan menulis sesuai standar.

Dari aspek kecerdasan, mahasiswa bisa dibagi menjadi cerdas, kurang cerdas, dan lamban. Inti kuliah adalah membaca, membaca, dan membaca. Daya baca mahasiswa harus kuat. Secerdas apa pun mahasiswa, jika tidak membaca tidak akan menjadi ilmuwan. Paling tidak, ia tidak akan memahami konsep ilmu.

Kecuali membaca, mahasiswa magister harus mampu menulis karya ilmiah. Makalah dan tesis. Keterampilan menulis perlu bakat atau pembiasaan. Menulis tidak sekedar parade kutipan, tetapi menuangkan gagasan penulis berdasarkan pengalaman dan hasil bacaan.

Mayoritas mahasiswa mampu menyelesaikan tiga semester mata kuliah dan tatap muka di kelas, tetapi gagal menulis tesis. Berbeda dengan menulis makalah, tesis membutuhkan waktu, pengumpulan data, dan ketekunan menulis. Jika mahasiswa malah lebih sibuk bekerja atau berumah tangga pada semester empat (4), itu salah. Justeru pada semester inilah seharusnya pekerjaan dikurangi atau bahkan ditinggalkan sementara. Tesis tidak bisa disambi. Dicicil kayak angsuran motor. Banyak tesis selesai dari hasil mencicil atau menyambi ini dan itu, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Tetap diluluskan, bukan karena bagus tetapi karena kasihan.

Mahasiswa bisa hadir tiga (3) semester di kelas—meski kadang telat, tetapi kemudian hilang empat (4) atau lima (5) semester. Mahasiswa yang menghilang dari kampus atau tidak datang ke kampus, tanpa kabar, ia tetap diwajibkan membayar semester. Lima juta loh. Besar ini. Jangan ditiru mahasiswa model ini. Jauhi. Bahaya buat kondisi keuangan.

Mahasiswa menulis tesis satu (1) semester atau kurang, tetapi membayar lima semester (Rp 25.500.000) tanpa melakukan bimbingan tesis. Mahasiswa kerja untuk mencari uang. Ketika sudah mendapat uang, dibayarkan untuk semester, tapi tidak bimbingan tesis. Membayar untuk apa? Mahasiswa dipaksa tetap membayar semester secara penuh, tujuannya agar mereka segera menyelesaikan tesis.

Dilema
Tepat waktu versus kualitas tesis. Tepat waktu tidak menjamin kualitas tesis, demikian juga yang delapan semester. Tesis yang bagus butuh waktu dan ketekunan dalam mengolah dan menganalisis data. Diperlukan penguasaan materi, metodologi, dan keterampilan menulis. Kuncinya kembali kepada kekuatan membaca dan berlatih menulis.

Pekerjaan atau kuliah. Jadi kalau mahasiswa memilih bekerja sambil kuliah, kecil kemungkinan menghasilkan tesis yang bagus. Bisa lulus sudah bagus, kebanyakan tidak bisa selesai. Jadi mahasiswa membutuhkan waktu banyak untuk membaca, menggali, dan mengumpulkan data, dan tentu saja untuk menulis.

Menikah atau kuliah. Tidak ada larangan menikah saat kuliah. Akan tetapi kalau karenanya mahasiswa mengalami kendala bayar semester, atau melupakan tesis, sebaiknya dipikirkan menunda pernikahan. Tunda satu semester, walaupun tesisnya tidak akan sangat bagus dan memuaskan.

Istri dan anak atau kuliah. Suami atau bahkan istri sekalipun, menjadi bapak atau ibu tidak seharusnya menjadi alasan lupa tesis. Sibuk adalah alasan klasik. Setiap pasangan seharusnya saling mendukung untuk penyelesaian studi. Saling menguatkan, saling bekerjasama. Sukses istri, sukses suami.

Sukses
Sudah jelas, sukses studi itu ya menyelesaikan tesis. Mendapat gelar magister. Soal kualitas nomor sekian. Kebanyakan selesai dengan mutu biasa. IPK-nya bisa di atas 3 atau bahkan di atas 3,5—karena dosen pemurah, tetapi tesisnya sekedar parade kutipan. Kering dan minim analisis. Tidak ada temuan baru. Hal ini lebih bagus tinimbang mahasiswa yang tidak lulus. Dropout.

Kebanyakan tidak lulus karena tesis. Minimal 100 halaman. Kunci lulus itu ya fokus. Fokus membaca dan menulis. Fokus komunikasi dengan dosen pembimbing. Abaikan pekerjaan lain yang mengganggu konsentrasi menulis.

Martin Meadows dalam buku The Ultimate Focus Strategy (2018: 16), menulis empat strategi fokus adalah memulai, fokus, menyusun langkah-langkah, dan berkomitmen. Artinya, diperlukan rencana tahapan penyelesaian tesis. Tesis tidak akan selesai jika hanya dipikirkan dan dibicarakan, apalagi dijadikan beban. (mf)

Dr JEJEN MUSFAH MA, Kaprodi Magister MPI UIN Jakarta, Pengurus Besar PGRI

Share This