“Detik demi detik berlalu, tahun berganti, lembaran baru dibuka kembali, kebebasan manusia telah menciptakan peristiwa-peristiwa yang menghiasi kehidupannya, dan dari sini manusia merenung, merefleksikan masa lalunya, dan menaruh harapan pada masa yang akan datang”

 Waku terus berjalan kedepan, tak terasa bagi kita tahun akan berganti.  enomena yang biasa kita lihat selama momen pergantian tahun adalah, jalan-jalan mulai ramai, orang-orang mulai  memadati  toko, pusat perbelanjaan, atau memadati tempat hiburan lainnya. Sebagiannya lagi ada memilih untuk pergi berbelanja di Super Market. Kegiatan tersebut bak bagaikan ritual ‘perpisahan’ pada tahun yang akan segera berlalu dan menyambut tahun yang akan datang.

Momen pergantian tahun memang membawa berkah bagi pedagang, khususnya pedagang makanan ringan, terompet dan petasan. Memang momentum pergantian tahun menjadi malam spesial bagi banyak orang, ada yang memanfaatkannya dengan berlibur bersama keluarga, ada yang menghabiskan waktu untuk berbelanja, menyetel televisi dan musik di luar. Atau yang biasanya dilakukan: membakar ayam, jagung, dan sosis sambil menikmatinya bersama kawan-kawan atau kekasih.

Yang juga tak terlewatkan disaat mendekati momen tahun baru adalah, banyak tokoh agama yang menasihati lewat mimbar-mimbar mereka agar tidak terlalu menghamburkan uang di malam tahun baru. Tentu anjuran ini ada benarnya, namun ada pula yang terlalu fanatik sehingga mengecam perayaan tahun baru sebagai tindakan hura-hura yang tidak memberi manfaat menurut agama. mereka yang secara ekstrim membenci acara pesta tahun baru dengan gegabah memaki orang-orang yang merayakan tahun baru sebagai kafir, hedonis, dan munafik pada agamanya.

Sebenarnya apa sih yang istimewa dari perayaan tahun baru? Bukannya sama saja, toh apa ada bedanya tahun depan dengan tahun ini atau tahun yang telah lalu?

Memang benar tahun baru pada dasarnya hanyalah proses alamiah biasa, dimana bumi berevolusi satu kali mengelilingi matahari, tidak ada yang istimewa. Namun pesta perayaan tahun baru bukan hanya sekedar momentum untuk merayakan perputaran bumi, tetapi memiliki aspek psikologis dan filosofis dibalik perayaan tersebut.

Refleksi Manusia dan Harapan pada Kebahagiaan

Dalam hidup kita, pasti kita pernah berpikir, Apakah tujuan kehidupan dan apa yang sebenarnya kita cari selama hidup ini? Para filsuf mencoba menjawab pertanyaan ini dengan singkat: hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan.

Ya pada dasarnya kita bekerja, berusaha, dan banting tulang untuk dan demi kebahagiaan hidup. Kadang orang rela  mencuri, bekerja keras, tekun beribadah, tekun belajar dan lain sebagainya, tindakan tersebut pada hakikatnya adalah ikhtiar manusia  dalam mencari kebahagiaan dan kesenangan untuk dirinya

Di sisi lain, manusia adalah makhluk yang bebas. bebas dalam bergerak, bebas memilih, bebas melakukan sesuatu. Kebebasan yang kita miliki telah menciptakan aktivitas dan nilai dalam hidup kita. Apa yang kita kerjakan dan apa yang kita dapatkan saat ini hakikatnya adalah hasil dari kebebasan kita.

Kadang kita sebagai manusia tidak pernah merasa puas bahkan dikecewakan dengan hasil yang didapatkan. Walau pada dasarnya kita bebas menentukan pilihan, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, entah apakah hasilnya memuaskan atau mengecewakan.

Aktivitas kita dalam bekerja dan berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan (dan kebahagiaan hidup) tak lepas dari proses sejarah dan waktu. Filsuf Driyarkara, berpendapat bahwa manusia hidup dan beraktivitas tak lepas dari dimensi ruang dan waktu. dimensi waktu manusia terbagi (sekurang-kurangnya) ada 3: masa lalu, masa kini dan masa depan. Manusia adalah makhluk yang sadar akan adanya dimensi waktu yang menaungi seluruh aktivitasnya, dan waktu telah mengukir sejarah diri kita.

Di tahun 2018 kita telah mengukir sejarah dalam hidup kita. dari awal tahun kita mulai mengukir harapan, melaksanakan harapan-harapan kita, dan tak jarang tidak semua harapan dan ekspektasi kita di tahun ini sesuai dengan keinginan kita (mungkin malah mengecewakan).

Di tahun 2018 kita pasti pernah merasakan saat ketika kita susah, senang, gembira, sedih, sabar, marah, bimbang, optimis, kecewa, puas dan lain sebagainya. Semua emosi tersebut pasti pernah kita rasakan.Walau manusia memiliki kehendak bebas dalam menentukan dirinya, namun dia tidak sepenuhnya bebas menentukan nasibnya di masa depan.

Banyak orang yang merayakan momentum tahun baru, bersuka ria menyambut tahun baru, kadang menangis haru ketika detik-detik pergantian tahun, fenomena ini tak tak lepas dari refleksi psikologis dan emosi manusia.  Sorak-sorai, keharuan, jabat tangan, berpelukan dan mengucapkan ‘selamat’ adalah suatu  ekspresi  emosi manusia karena meninggalkan tahun yang lalu, yang penuh dengan lika-liku, menyambut tahun baru yang diharapkan membawa sejuta keberuntungan dan kebahagiaan hidup.

Di sisi lain, secara alami manusia juga membutuhkan  perayaan tahun baru, membutuhkan suatu momen dimana semua orang dapat berkumpul dan larut dalam cengkrama yang hangat dan tawa bahagia. Ini yang kerap gagal ditangkap oleh sebagian orang yang selalu negatif dalam memandang segala sesuatu.

Selama 360 hari lebih kita melewati lika-liku dengan berbagai suka dan duka, sedih dan tawa dan ketika waktu menunjukan pukul 00.00, kita telah melewati itu semua.. tidak ada hati yang tidak bergetar ketika kita melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru. Setiap orang saling berpelukan, berjabat tangan dan menitikan air mata keharuan sambil berdoa kepada Tuhan agar hari esok hidup mereka lebih baik dan penuh berkah.

“manusia adalah makhluk historis, yang tak lepas dari sejarah”, ungkapan dari Hebert Spencer ini menegaskan bahwa Manusia adalah makhluk yang tak mungkin lepas dari ruang dan waktu. Ia tidak bisa melupakan masa lalunya dan juga selalu menaruh harapan bagi masa depannya, kesadaran manusia akan waktu yang lalu dan waktu yang akan datang ini sering terjadi di saat tahun mulai beganti.

Setelah manusia mengalami berbagai warna yang telah berlalu, momen tahun baru menjadi momentum bagi kita untuk merefleksi dan mengoreksi diri kita, menyusun berbagai rencana dan menyimpan harapan di tahun yang akan datang. banyak manusia yang tak lupa berdoa pada Tuhan agar kehidupan ini dijalani dengan baik dan berakhir dengan baik dan penuh berkat.

Selamat Tahun Baru

“Karena kita merasakan segala kesulitan,  kesengsaraan dan  juga kebahagiaan, itulah yang menunjukan eksistensi kita sebagai manusia” (Goethe)

Detik demi detik berlalu, tahun berganti, lembaran baru dibuka kembali, kebebasan manusia telah menciptakan peristiwa-peristiwa yang menghiasi kehidupannya, dan dari sini manusia merenung, merefleksikan masa lalunya, dan menaruh harapan pada masa yang akan datang

Manusia hidup pasti mengalami berbagai macam kejadian, baik suka maupun duka. Meski begitu, manusia selalu memiliki harapan kehidupan yang baik  di masa mendatang. Manusia selalu mengharapkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya. karena itulah dalam menjalani romantika kehidupan, manusia selalu berusaha dengan berbagai jalan untuk mencapainya.

Ya, momen tahun baru memang bukan sekedar peringatan pergantian kalender semata, namun juga memiliki nilai psikologis dan filosofis, dimana momen pesta perayaan tahun baru semacam menjadi ekspresi simbolis yang menunjukkanrasa gembira dan syukur kita telah melewati tahun 2018 dengan segala lika-liku serta pahit-manisnya, dan dengan selamat sentosa dapat menyaksikan peringatan tahun baru  2019, tahun yang baru sebagai momentum refleksi untuk hidup yang lebih baik.

Di tahun baru ini kita mempunyai sejuta harapan, di tahun baru ini kita menyusun segala rencana untuk masa depan, di tahun baru ini kita juga merasa energik dan memiliki semangat baru untuk menatap masa depan, di tahun baru ini doa dan keyakinan selalu kita panjatkan pada Tuhan.

Tahun baru bukan hanya sekedar perjalanan jam dinding, Tahun baru adalah momen  spesial yang membuat manusia memiliki sejuta harapan di masa depan, dan karena itulah wajar jika kehadiran tahun baru cenderung disambut. Di tahun baru, manusia selalu menanti apa yang akan terjadi dan tak sabar untuk mengetahui nasib yang akan berlaku pada dirinya.

Selamat Tahun Baru!

Reynaldi Mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Aktivis Muslim Moderat (Email: adisuryareynaldi@gmail.com). Sumber: suarakebebasan.org, 2 Januari 2019.

Share This