Dulu kira-kira tahun 1983 sampai 1987, kami anak-anak SD biasa berangkat ngaji sehabis maghrib. Kami punya guru ngaji di Kaum Tua namanya Mang Kidi. Selain ada nama Kaum Tua ada juga daerah di dekatnya disebut Kaum Muda. Saya tidak tau persis sejarah Kaum Muda ini, apakah didominasi oleh kaum revivalis atau modernis seperti polarisasi di Sumatera Barat antara Kaum Mudo dengan Kaum Tuo, tetapi yang pasti kampung Kaum Tua (di kampung kami) memang diisi oleh banyak santri Nahdlatul Ulama, atau biasa kami menyebutnya Ahlussunnah Waljamaah, dan salah satunya adalah Mang Kidi itu, Allah yarham.

Mang Kidi ini banyak muridnya. Setiap santri yunior akan dibimbing oleh yang senior. Selesai ngaji Qa’idah Baghdadiyah (atau Taturutan) bagi murid yunior dan ngaji Quran bagi yang senior, Mang Kidi akan memberi ceramah. Di Tembok rumah beliau ditempel jadwal/materi ceramahnya setiap malam: ada Tauhid, Fikih, Tajwi, dan lain-lain. Hebat juga beliau ini. Sudah terstruktur. Padahal Mang Kidi ini tidak dipanggil Kyai atau Ustadz, dan setiap pagi sampai siang beliau jualan Bubur Udang di pinggir jalan.

Kalau sudah jenuh dengan Mang Kidi, saya pergi ke rumah pengajian yang lain, namanya Pak Aman. Jika di rumah Mang Kidi kami diajari model ngaji konvensional: alif fathah A, alif kasroh I, alif dhommah U (AIU), maka pertama kali ngaji di rumah Pak Aman, saya belajar “sesuatu yang aneh”: alif jabar A, alif Je’er I, alif Ve’es U (AIU).

Saya merasa aneh sekali, tapi tidak apa-apa saya pikir, ini ilmu baru. Barulah ketika kuliah saya tau bahwa itu adalah bahasa Persia/Iran. Apakah Pak Aman Syiah? Tidak sama sekali! Beliau dikenal sebagai guru ngaji mumpuni dan seorang Sunni tulen. Dulu di kampung-kampung tradisi-tradisi Sunni dan Persia biasa saja, saling diajarkan, saling dirayakan, terutama berbagi bubur merah bubur putih dalam perayaan tertentu. Sayang tradisi ini kini sudah jarang dan hilang.

Seringkali guru-guru ngaji di kampung tidak pakai gelar-gelar yang berat, seperti Syekh, Kyai, atau Ustadz, cukup saja dengan Mang, Kang, atau Pak, tetapi mereka adalah alumni-alumni pesantren yang handal yang mau berjuang dan tidak materi oriented saat itu. Dengan mereka, kami mulai mengeja huruf demi huruf, huruf Arab, huruf Arab Pegon, dan Arab Melayu. Pulang mengaji, biasanya kami melafadzkan kembali doa-doa yang mereka ajarkan, termasuk doa Qunut yang susah dan panjang utk ukuran anak-anak kecil saat itu.

Murid2 dari guru ngaji itu kini sudah menjadi pejabat, pejabat tinggi, guru, dosen, pengusaha, dan bahkan profesor yang tersebar di banyak instansi dan perguruan tinggi di mana-mana. Mungkin tidak pernah dibayangkan oleh guru-guru ngaji bersahaja itu.

Kepada mereka, selamat hari guru (ngaji). Hanya Gusti Allah yang mampu secara adil dan kasih membalas kebaikan mereka dan menerangi kubur mereka. Amiin. (mf)

Dr Media Zainul Bahri MA, Dosen Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Share This