Banyak kalangan yang mengartikan santri sebagai orang yang mondok dan belajar agama di pesantren saja, tetapi dalam konteks yang lebih luas seperti mahasiswa, akademisi, atau masyarakat umum yang memang memiliki minat dan pemahaman agama yang baik dapat disebut santri.

Tanggal 22 Oktober ini semua yang merasa dirinya santri atau alumni pondok pesantren merasa bangga, bersyukur, dan bersuka-cita merayakan hari santri nasional sebagaimana yang dirasakan oleh pelajar sekolah formal saat hari pendidikan nasional diperingati.

Rasa syukur dan kebahagiaan santri tidak saja dirasakan karena momen 22 Oktober, kebahagiaan tersebut berlanjut tatkala pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan RUU Pesantren (24/9/2019). Puncaknya pada tanggal 20 Oktober 2019 seorang santri dilantik menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yaitu Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin.

Kalangan pesantren dan santri patut bersyukur dengan disahkannya RUU Pesantren dan dilantiknya Kiai Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden RI periode 2019/2024. Itu bukti bahwa santri bisa berperan lebih konkret dalam perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Bagaimana cara santri mensyukuri kondisi baik tersebut? Tentu mereka harus belajar banyak hal, utamanya ilmu-ilmu agama dengan rajin dan sungguh-sungguh. Kemudian akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi konkret terhadap kemajuan bangsa dan negara khususnya di bidang pendidikan keagamaan.

Salah satu syarat santri dapat melakukan kontribusi konkret terhadap kemajuan bangsa dan negara, yaitu dengan kesadaraan meraka akan pentingnya menghidupkan budaya literasi selain mengkaji ilmu-ilmu agama sebagai core keilmuan santri.

Santri dan literasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena santri merupakan orang yang sedang belajar, khususnya belajar ilmu-ilmu agama di sebuah pesantren. Proses belajar pastinya dilalui melalui membaca, berdiskusi, mengkaji, menganalisis, dan sebagainya.

Dulu, para santri belajar hanya terbatas pada kitab kuning yang diajarkan oleh ustaz atau kiai, tetapi saat ini santri seperti halnya pelajar pada umumnya memiliki kesempatan dengan menggunakan berbagai sumber belajar.

Kitab-kitab kuning selain dalam bentuk hard copy, juga tersedia dalam bentuk soft copy. Pembelajaran di samping dilakukan secara konvesional, juga dilakukan secara digital. Oleh karena itu, santri zaman sekarang harus juga melek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Ilmu-ilmu agama di samping didapatkan dari kitab-kitab kuning, juga diperoleh dari kitab-kitab putih alias buku karena saat ini sudah banyak kitab atau buku karangan ulama-ulama Timur Tengah yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, para santri dapat belajar dari internet dan media lainnya.

Saat ini, di internet banyak situs-situs yang berkonten keagamaan khususnya agama Islam. Meski demikian, harus dipilih dan dipilah isinya, serta santri perlu mendapatkan bimbingan dari ustadznya di pesantren.

Alih-alih mendapatkan informasi dan ilmu bermanfaat, malah mendapatkan konten yang merusak, utamanya merusak cara beragama yang telah diajarkan di pesantren.

Persoalannya, ada banyak situs-situs berkonten ajaran Islam yang diduga menyebarkan paham menyimpang seperti: radikalisme, terorisme, dan ujaran kebencian sama halnya dengan situs ISIS dan simpatisannya. Tentu saja ini mesti dikaji dan diteliti secara ilmiah.

Santri bukan hanya belajar ilmu dari sumber-sumber tertulis, tetapi juga belajar dari lingkungan. Santri tidak bersikap ekslusif atau menutup diri, tetapi mampu berbaur baik dengan dengan teman-temannya maupun dengan warga sekitar.

Santri bukan hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga perlu memiliki kompetensi di banyak bidang seperti bertani, beternak, membuat kerajinan, dan lainnya sebagai bekal mereka saat selesai belajar di pesantren dan mengabdi di tengah-tengah masyarakat.

Santri literat akan menjadi pembaharu, pencerah, dan agen perubahan di mana mereka tinggal. Dengan pengetahuan yang dimilikinya, para santri bisa menyebarkan ilmu dan kebaikan bagi umat manusia pada umumnya. Tentunya itu semua akan jadi ladang amal baik baginya.

Perkembangan globalisasi pun perlu menjadi perhatian serius para santri. Jangan sampai santri menjadi tertinggal oleh kemajuan zaman. Oleh karena itu, di pesantren-pesantren modern sekarang, santri bukan hanya belajar Bahasa Arab dan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, mungkin juga diajarkan bahasa asing lainnya.

Sosok santri literat juga mampu memiliki daya kritis terhadap berbagai permasalahan sosial dan serta menjadi bagian dari solusinya. Santri bukan hanya bisa membaca dan menelaah kitab-kitab karya para ulama besar, tetapi juga mampu menuliskan ide-ide dan gagasannya untuk dibaca oleh masyarakat.

Berapa banyak di negeri ini seorang santri selain menjadi ilmuan dan tokoh masyarakat juga sebagai penulis buku yang beragam genrenya di antaranya: Prof. Quraish Shihab tentang tafsir, Prof Kamaruddin Hidayat tentang psikologi dan pemikiran, Prof Abuddin Nata tentang pendidikan Islam dan masih banyak buku-buku karya tokoh alumni pesantren lainnya.

Santri saat ini tidak selalu identik dengan kaum sarungan, bukan sebagai label atau atribut, tetapi lebih kepada jiwa yang nyantri, yaitu tahu, paham, dan melaksanakan ajaran agama Islam yang ditandai dengan ketataan melaksanakan ibadah dan memiliki budi pekerti yang luhur.

Santri yang melek literasi sangat baik sebagai sosok ideal generasi masa depan. Mereka memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat sekitar di mana mereka tinggal nantinya. Di pundak mereka sikap toleran dan menghargai keberagaman harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Akhirnya kita berharap, dengan semakin banyaknya santri yang melek literasi akan turut berpartisipasi dalam kemajuan ibu pertiwi. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan meridai bangsa Indonesia yang kita cintai dan memberikan pemimpin yang amanah, adil, dan mampu mensejahterakan rakyatnya.

Wallahu a’lam.

Muslikh Amrullah MPd, Staf Magister FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: https://fitk.uinjkt.ac.id, 21 Oktober 2019. (lrf/mf)

Share This