Gedung Rektorat, BERITA UIN Online – UIN Jakarta kembali kehilangan salah satu akademisi terbaiknya. Suwito (64), guru besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), tutup usia pada Jumat (23/10/2020) di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Suwito meninggal karena sakit yang dideritanya sejak lama.

Dari RSUD, jenazah Suwito atau yang akrab dipanggil Pak Wito itu tidak disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka di kawasan Cempaka Putih, Tangerang Selatan, Banten. Jenazah langsung dimakamkan dengan protokol kesehatan.

Sejumlah kolega dekat Suwito datang melayat. Mereka memberi penghormatan terakhir di pemakaman umum yang tak jauh dari rumah almarhum. Bahkan di tempat pemamakannya, Rektor UIN Jakarta Amany Lubis juga datang melayat dan memberi sambutan sebelum jenazah dimakamkan.

Pejabat UIN Jakarta lainnya yang hadir tampak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Masri Mansoer, Dekan Fakultas Ushuludin Yusuf Rahman, Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Suparto, dan Kepala Biro Adminisrasi Umum dan Kepegawaian Kastolan.

Juga tampak mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan era Rektor Komaruddin Hidayat, Sudarnoto Abdul Hakim, mantan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan era Rektor Dede Rosyada, Yusron Razak, dan mantan Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Yunan Yusuf.

Kabar wafatnya Suwito tak hanya membuat kaget kalangan sivitas akademika UIN Jakarta tetapi juga hampir seluruh perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Sebab, pria asal Pati, Jawa Tengah, itu juga dikenal sebagai asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang banyak memberikan bimbingan terhadap peningkatan kualitas institusi perguruan tinggi dan program studi di PTKIN (UIN/IAIN/STAIN) di Indonesia.

Bagi UIN Jakarta sendiri, Suwito merupakan salah satu sang “arsitek” perubahan kampus. Ia, misalnya, semasa rektor UIN Jakarta dijabat Azyumardi Azra, turut membidani lahirnya perubahan status kampus dari IAIN menjadi UIN. Tak hanya itu, semasa menjabat Wakil Rektor Bidang Akademik dan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga, Suwito juga banyak andil dalam mengubah wajah kampus menjadi lebih bergengsi.

Rektor Amany Lubis menyatakan duka mendalam atas wafatnya Guru Besar Bidang Pendidikan Islam itu. Ia mengaku banyak mengenal Suwito sejak lama, bukan saja semasa dirinya kuliah di Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta tetapi juga saat menjadi Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum di Fakultas Dirasat Islamiyah dan menjadi asisten direkur SPs.

Bagi Rektor, kiprah dan kreativitas Suwito patut dicontoh, terutama dalam upaya memajukan UIN Jakarta. Berbagai ide, gagasan, dan prestasi untuk mewujudkan mimpi kampus menjad terkenal di dunia internasional banyak dilakukan pada masanya.

“Secara pribadi dan sebagai Rektor saya merasa kehilangan beliau. Bahkan semua sivitas akademika pasti kehilangan. Pak Wito adalah sosok yang telah mendidik saya untuk memahami UIN Jakarta dengan segala seluk beluknya. Ide dan jasanya banyak, terutama dalam pembukaan program studi baru dan masalah akreditasi. Beliau cukup perhatian sekali pada masalah akreditasi ini,” katanya.

Apa yang dikatakan Rektor Amany Lubis tidak berlebihan. Pada saat masih menjabat wakil rektor, Suwito misalnya melahirkan ide pembuatan papa nama petunjuk arah ke kampus layaknya rambu lalu lintas. Bekerja sama dengan Dinas Perhubungan Kota Tangerang Selatan, papan petunjuk arah itu di sebar di sejumlah titik strategis, baik dari arah Jakarta, arah Bogor, maupun arah Tangerang.

Alhasil, UIN Jakarta pun menjadi lebih dikenal di kalangan masyarakat luas. Masyarakat juga terbantu dengan petunjuk arah tersebut.

Ide lain Suwito, yang senang dengan publikasi itu, juga mewujudkan segala jenis nama lembaga, sarana, dan kegiatan untuk ditulis dalam tiga bahasa, yakni Indonesia, Arab, dan Inggris. Hal itu misalnya terlihat dari penamaan fakultas/lembaga, berbagai penerbitan, dan penyampaian khutbah Jumat di masjid kampus.

Pendirian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) yang kemudian menjadi dua fakultas, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Kesehatan, di antaranya juga tak luput dari tangan Suwito. Ia ikut merancang dan merumuskan pendirian fakutas tersebut bersama tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Bahkan semasa menjadi asisten direktur di sekolah pascasarjana (SPs), Suwito sempat meramaikan kampus dengan “pernak-pernik” informasi di hampir setiap sudut tempat. Termasuk dalam hal ini adalah ide pemasangan iklan SPs di televisi bandara (Airporteve) di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Kini, Suwito telah pergi untuk selamanya. Ia meninggalkan seorang istri dan empat anak serta orang-orang yang mencintainya. Selamat jalan Pak Wito. Semoga Allah SWT memasukkan ke surga-Nya. (ns)

Foto: Dok SPs UIN Jakarta

Share This