Sampaikan Pidato Kunci, Jusuf Kalla Dorong Penguatan Tradisi Keilmuan Perguruan Tinggi Islam Asia

Sampaikan Pidato Kunci, Jusuf Kalla Dorong Penguatan Tradisi Keilmuan Perguruan Tinggi Islam Asia

Jakarta, Berita UIN OnlineWakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, H.M. Jusuf Kalla, mendorong perguruan tinggi Islam se-Asia untuk terus memperkuat tradisi keilmuan, riset, dan penguasaan teknologi sebagai fondasi membangun peradaban, perdamaian, dan kemajuan dunia Islam. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dalam membangun daya tahan sebuah bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Demikian disampaikan Jusuf Kalla saat menyampaikan keynote address bertajuk “Islamic Leadership and Peacebuilding in a Fragmented Global Order” dalam International Seminar and The 15th Annual General Meeting The Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 23–25 Juni 2026.

International Seminar and The 15th Annual General Meeting The Asian Islamic Universities Association (AIUA) yang berlangsung di Auditorium Harun Nasution Kampus I UIN Jakarta ini diikuti ratusan perguruan tinggi Islam dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Islam, The Asian Islamic Universities Association (AIUA). Sejumlah tokoh akademisi dari berbagai kampus Islam hadir sebagai panelis atas isu-isu kontemporer yang jadi fokus bahasan kegiatan

Dalam pidatonya, Jusuf Kalla mengungkapkan kekuatan sebuah bangsa di era modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah penduduk maupun kekuatan militer, melainkan juga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. “Sebuah bangsa tidak akan mampu menjadi pemain penting dalam percaturan global tanpa investasi yang serius pada pendidikan, penelitian, sains, dan teknologi,” tandasnya.

Jusuf Kalla menuturkan, pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi faktor penting dalam membangun daya tahan bangsa menghadapi berbagai tantangan global. Investasi jangka panjang dalam pendidikan dan riset mampu memperkuat posisi suatu negara dalam percaturan internasional.

Untuk itu, Jusuf Kalla mengingatkan agar masyarakat dunia Islam agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, melainkan jadi produsen ilmu pengetahuan dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat global. "Semangat saja tidak cukup. Keberanian saja tidak cukup. Semua itu harus didukung oleh kemampuan intelektual, penelitian, inovasi, dan penguasaan teknologi," tegasnya.

Lebih jauh, Jusuf Kalla mengingatkan bahwa tradisi keilmuan sesungguhnya memiliki akar yang sangat kuat dalam sejarah peradaban Islam. Di masa kejayaan Islam, dunia Islam melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang memberikan kontribusi penting bagi perkembangan matematika, astronomi, kedokteran, filsafat, dan berbagai cabang ilmu pengetahuan lainnya dengan pengaruh hingga saat ini.

Keberhasilan di era ini, lanjutnya, tidak lepas dari pengembangan budaya ilmu pengetahuan menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dimana para ilmuwan dihormati, penelitian didukung, dan proses pencarian ilmu dipandang sebagai bagian dari ibadah. Karena itu, ia mengajak perguruan tinggi Islam untuk menghidupkan kembali tradisi keilmuan tersebut melalui penguatan budaya riset, inovasi, dan pengembangan teknologi.

"Perguruan tinggi tidak cukup hanya dikenal melalui perdebatan politik atau survei-survei sosial. Universitas harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat," katanya.

Selain menyoroti pentingnya penguatan ilmu pengetahuan, Jusuf Kalla juga mengingatkan akademisi perguruan tinggi Islam akan peran Islam Asia Tenggara sebagai model penting dalam pembangunan perdamaian global. Menurutnya, Islam di kawasan ini berkembang melalui jalur perdagangan, pendidikan, interaksi sosial, dan dakwahyang berlangsung secara damai.

Karena sejarah tersebut, masyarakat Muslim di Asia Tenggara memiliki tradisi toleransi, keterbukaan, dan kemampuan beradaptasi yang kuat dalam menghadapi keberagaman. Indonesia, jelasnya, merupakan contoh penting keberhasilan dalam mengelola kemajemukan.

"Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu berakhir dengan konflik. Perbedaan dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik melalui kepemimpinan yang bijaksana dan sistem yang inklusif," ujarnya.

Menurut Jusuf Kalla, pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia maupun negara-negara Asia Tenggara untuk berkontribusi dalam pembangunan perdamaian global melalui dialog, diplomasi, dan kerja sama internasional. Ia menegaskan bahwa hampir seluruh konflik pada akhirnya diselesaikan melalui perundingan sehingga kemampuan berdialog dan bernegosiasi harus jadi bagian penting dari kepemimpinan masa depan.

"Kepemimpinan yang efektif bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan, mempertemukan berbagai kepentingan, dan mencari titik temu di tengah perbedaan," katanya.

Di akhir pidatonya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa pembangunan perdamaian harus berjalan seiring dengan pembangunan manusia. Pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat merupakan elemen penting dalam menciptakan stabilitas dan kemajuan yang berkelanjutan.

Ia mengajak perguruan tinggi Islam untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun generasi pemimpin yang memiliki ilmu pengetahuan, integritas, kemampuan diplomasi, dan komitmen terhadap perdamaian.

"Saya percaya dunia Islam memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia. Potensi itu akan terwujud apabila kita mampu mengembangkan sumber daya manusia yang unggul, memperkuat budaya ilmu pengetahuan, serta membangun kerja sama yang lebih erat di antara sesama bangsa dan masyarakat," tuturnya.

Sebagai informasi, International Seminar and The 15th Annual General Meeting AIUA diselenggarakan oleh The Asian Islamic Universities Association (AIUA) bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai tuan rumah. Kegiatan yang berlangsung pada 23–25 Juni 2026 mengusung tema “Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development.”

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Presiden AIUA, Prof. Asep Saepudin Jahar, menyampaikan bahwa forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dan diplomasi akademik di antara perguruan tinggi Islam di Asia dan berbagai kawasan lainnya. Menurutnya, perguruan tinggi Islam tidak hanya memiliki mandat dalam pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab strategis untuk membangun perdamaian, memperkuat ketahanan sosial, serta menghadirkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Seminar internasional diikuti ratusan akademisi delegasi berbagai perguruan tinggi anggota AIUA. Selain seminar, kegiatan juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman antar perguruan tinggi anggota asosiasi dalam bidang riset, pertukaran mahasiswa, program gelar bersama, dan penguatan jejaring internasional.

(Pusat Informasi & Humas UIN Jakarta)