Sejak zaman Yunani Kuno, ada tiga macam pendidikan yang mesti dipelajari para siswa. Pertama adalah sains yang diawali dengan pembelajaran logika dan matematika sebagai fondasinya.

Dengan belajar matematika para siswa dilatih berpikir logis dan konsisten. Sikap ini diharapkan ikut membentuk pribadi yang mencintai kebenaran, kejujuran, dan konsisten.

Jadi, matematika bukan sekadar pengetahuan untuk pengukuran, tetapi juga untuk pembentukan karakter. Lebih jauh lagi matematika dipelajari karena dalam kehidupan sehari-hari kita mesti berhadapan dengan persoalan yang membutuhkan pengetahuan matematika. Kedua sport; para siswa sejak dini mesti dilatih untuk terbiasa berolahraga agar sehat jasmani. Dalam sport anak-anak dibiasakan membangun kerja kelompok, membina mental petarung secara sportif.

Melalui sport anak dikondisikan untuk mengalami sebuah kemenangan tanpa sikap sombong dan ketika kalah tidak lantas putus asa. Ketika seseorang berlaga dalam sebuah pertandingan olahraga, sifatnya selalu terbuka, melibatkan publik. Tekanan penonton kadangkala sangat kuat, sehingga bila mentalnya lemah, semua persiapan teknis yang telah dilakukan jadi berantakan. Makanya dalam sport seorang siswa dilatih agar memiliki mental pemenang dan pejuang, tidak mudah patah semangat. Dia mesti mengakui kehebatan lawan dan menerima kekurangan dirinya. Kalau pun menang tidak boleh sombong karena kalah-menang itu bergilir.

Lagian ketika seseorang memenangi sebuah pertandingan banyak pihak yang berjasa. Maka atlet sejati tak pernah bersikap sombong. Lalu bagaimana halnya dengan yang ketiga, seni? Seni akan menghaluskan perasaan. Seni menggugah imajinasi. Betapa kering dan membosankan hidup ini kalau tak ada rasa keindahan dan kelembutan. Kalaupun bukan seorang pencipta seni, minimal sekali siswa dilatih untuk bisa mengapresiasi dan menikmati seni. Keindahan ini bisa menjelma dalam gerak tari, dalam suara nyanyian, dalam pemandangan, dalam tutur kata, dan sebagainya. Yang menarik dan sering kita lupakan, sesungguhnya sains, sport, dan seni saling terkait dan membutuhkan yang lain.

Dalam sebuah sport dan seni diperlukan kecerdasan matematika. Coba ketika Anda mengamati sebuah mobil sport, sangat mencolok perpaduan sains dan seni untuk mendukung kekuatan dan kecanggihan mobil itu untuk berlaga. Ketika Anda mau membeli gawai, yang menjadi daya tarik pertama adalah keindahan desainnya, kekuatannya, dan ke cerdasan buatan yang bisa dioperasikannya. Hari-hari ini ketika kita menyaksikan pesta Asian Games, di balik kesuksesan yang diraih para atlet yang bertanding itu di perlukan proses pendidikan karakter yang berlangsung lama. Tidak semata skill, tetapi juga aspek seninya sehingga pesta itu indah dilihatnya.

Namun sangat disayangkan, ketiga bidang kajian ini tidak berkembang baik dan sinergis di sekolah-sekolah kita. Belajar matematika terpisahkan dari pendidikan karakter. Seni dan olahraga tidak memperoleh perhatian serius, mulai dari guru hingga fasilitasnya. Yang menonjol, belajar matematika hanya didekati secara kognitif. Akibat krisis pembelajaran di tiga bidang ini, perilaku siswa bisa beringas, tidak sportif, beraninya keroyokan, tidak terlatih berbahasa yang santun dan logis. Lalu yang dikejar hasil akhir, kalau perlu dengan cara mencontek. Padahal sekarang ini yang mendesak untuk dipelajari para siswa bukan hanya tiga bidang itu, tetapi ada lagi dua bidang lain, yaitu keterampilan komunikasi (communication skill) dan spiritualitas.

Mengapa komunikasi? Karena bidang ini sangat diperlukan untuk membangun karier. Dunia semakin plural dan memerlukan multidisiplin ilmu. Meskipun seseorang pintar, banyak ilmu, tetapi kalau lemah dalam komunikasi dan relasi sosial, sulit mengembangkan dan mempromosikan ilmunya. Sekarang ini ketika berkembang teknologi digital, banyak siswa yang merasa asyik dan bergairah menjalin persahabatan di dunia maya, tetapi asosial dalam kehidupan nyata. Para siswa sekarang semakin menurun keterampilan komunikasi sosialnya. Makanya dulu di zaman Yunani Kuno, salah satu ilmu yang populer dipelajari adalah retorika, seni berbicara dan berkomunikasi untuk memengaruhi orang lain. Mereka dilatih adu argumentasi secara logis.

Belum dikenal hoax dan fitnah lewat media sosial (medsos). Kita sering kali menyaksikan talk show di televisi dan kita kemudian bisa menilai kualitas seni mereka dalam berdebat dan ber komunikasi. Bukannya menyajikan adegan yang cerdas dan indah untuk menundukkan argumen lawan, tetapi sering kali malah menyebalkan. Fenomena serupa juga kita temukan dalam medsos yang sering kali penuh caci maki dan permusuhan. Lagi-lagi spirit sportivitas dan seni semakin terkikis dari komunikasi sosial kita. Satu lagi, spiritualitas. Bidang spiritualitas tidak saja memberikan sumber energi kehidupan yang tak pernah kering karena bersumber pada Sang Ilahi, tetapi juga memberikan arah, makna, dan tujuan hidup.

Ke hidupan sains dan teknologi selalu berkembang dan berusaha memanjakan hidup Anda secara teknis. Namun spiritualitas yang akan memberikan cahaya kemana dan untuk apa hidup ini dijalani. (mf)

Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Jakarta. Sumber: koran-sindo.com, Edisi 31-08-2018

Share This