Oleh: Jajang Jahroni (Ketua LP2M UIN Jakarta)

Richard Dawkins lahir di Nairobi Kenya. Ia tinggal di benua hitam tersebut hingga umur 8 tahun. Sering diajak sang ayah menyusuri hutan, ia punya ketertarikan pada keanekaragaman hayati (bio-diversity). Ia melihat berbagai macam hewan, di antaranya kera yang sangat menarik perhatiannya. Melihat hewan-hewan tersebut, terbetik pertanyaan dalam hati, bagaimana mereka memiliki tingkah laku yang berbeda.

Pulang ke Inggris, Dawkins justru masuk seminari. Ini masa-masa pemberontakan dalam hidupnya. Di sekolah inilah ia mengalami titik balik baik secara intelektual maupun spiritual. Di Perjanjian Lama, ia berkenalan dengan sosok tuhan yang digambarkannya seperti monster yang mengerikan, pendendam, pencemburu, penghisap darah, pembunuh sadis. Lama pemberontakan itu terjadi. Ketika remaja ia membaca Why I am not a Christian-nya Betrand Russel. Lambat laun ia mulai meninggalkan keyakinannya meski masih diliputi keraguan. Baru setelah membaca The Origin of Species-nya Charles Darwin, Dawkins memantapkan diri untuk hanya percaya pada hukum alam. Tuhan yang digambarkan dalam Perjanjian Lama ia tinggalkan.

Sama seperti Darwin, Dawkins meyakini bahwa yang ada adalah hukum keteraturan evolusi yang menguasai alam semesta ini, dan lewat hukum itu semua peristiwa bisa dijelaskan. Lewat Darwin pula, Dawkins semakin memantapkan diri untuk menjadi seorang ahli biologi dengan spesialisasi animal behavior (perilaku hewan). Setelah menyelesaikan kuliahnya di Oxford dengan dissertasi Selective pecking in the domestic chick, ia sempat meneliti karir di Berkeley Amerika Serikat. Ia kembali terkenang kera-kera yang dilihatnya di Nairobi. Ada yang cekatan, ada yang malas (slothy). Kembali ke pertanyaan yang dulu pernah dilontarkan, mengapa mereka berbeda. Setelah diselidiki, perilaku kera ternyata dipengaruhi oleh asupan gizi yang dimakannya. Kera yang  cekatan ternyata memakan tumbuhan dan buah-buahan yang bernutrisi tinggi, kera yang malas dan lamban memakan tumbuhan atau buah yang bernutrisi rendah. Nutrisi ini lalu mempengaruhi kerja otak, dan otak inilah yang kemudian membuat seekor kera berperilaku tertentu. Sederhana.

Penjelasan di atas dapat menjawab mengapa kera jenis tertentu bisa bertahan, sementara kera jenis lain punah. Kera yang cekatan tentu bisa mengawini kera betina lebih banyak dari kera yang lamban, dan lebih cepat mengambil makanan. Ini artinya pada kurun tertentu kera yang lamban akan punah, digantikan oleh kera yang cekatan. Tentu faktor ketersediaan makanan, kondisi alam turut mempengaruhi.

Lewat pengamatannya ini, Dawkins menyempurnakan teori seleksi-nya Darwin. Bagi Dawkins makhluk hidup tidak hanya diseleksi oleh hukum alam, survival of the fittest, namun gen tertentu lebih egois dalam perjalanan hidupnya dari gen yang lain, sehingga bisa bertahan dan bahkan memperbaiki kualitas hidupnya. Gen egoislah yang akhirnya hidup terus. Ide-nya ini dituangkan dalam The Selfish Gene (1976) yang memgilhami banyak evolusionis untuk beberapa dekade ke depan. Menurut Dawkins, selfish di sini tidak berarti bahwa gen punya kemauan (will)—yang menunjukkan adanya kesadaran dalam dirinya (agency)—namun semata mekanisme evolusi.

Dawkins tidak percaya dengan hal-hal yang impulsif pada makhluk hidup. Semuanya adalah hukum evolusi. Seekor laba-lama jantan, misalnya, untuk bertahan hidup ia harus mengawini laba-laba betina, meskipun untuk tujuan tersebut ia dimangsa oleh sang betina. Namun tokh sang jantan berhasil mengawini sang betina yang artinya gen-nya berhasil ditanamkan di rahim sang betina untuk direplikasi untuk kelanjutan generasi berikutnya. Pejantan yang mengawini banyak betina memiliki kesempatan menurunkan gen-nya lebih besar daripada pejantan yang mengawini sedikit betina. Yang artinya yang pertama memiliki kesempatan untuk bertahan hidup lebih besar dari yang kedua. Pejantan yang tidak egois yang tidak berani ambil resiko untuk dimangsa oleh betina, menjomblo seumur hidup, akhirnya mati. Gen-nya tidak direplikasi untuk generasi berikutnya.

Proses perkembangbiakan makhluk hidup ini, bagi Dawkins, sepenuhnya seleksi alam, tidak ada intervensi ilahiah. Dawkins menolak takdir dan doa yang dipercaya oleh kaum beragama dapat mengubah jalannya kehidupan makhluk hidup. Proses evolusi ini telah terjadi milyaran tahun, dan milyaran tahun ke depan. Lalu di mana letaknya tuhan dalam kehidupan ini? Apakah Dawkins benar-benar seorang atheis dalam pengertian ia tidak percaya pada tuhan? Tunggu tulisan berikutnya. (sam/zm)

Share This