Auditorium, BERITA UIN Online – Rektor UIN Jakarta Amany Lubis menyatakan, UIN Jakarta ke depan harus berada di garis terdepan dalam moderasi beragama. Jika selama ini UIN Jakarta mengklaim sebagai benteng modernisme Islam, sekarang harus menjadi rumah moderasi beragama. Hal itu dilakukan agar pesan dan semangat moderasi beragama menular ke tengah masyarakat.

“Kita tahu masyarakat memiliki kearifan, dan kearifan itu sekarang harus kita hidupkan kembali,” kata Rektor dalam pidato Dies Natalis ke-62 ADIA/IAIN/UIN Jakarta di Auditorium Harun Nasution, Senin (17/6/2019).

Rektor mengatakan, sebagai implementasi moderasi beragama, maka tahun depan agar ada penelitian tentang “moderasi beragama”. Untuk itu perlu dibuat instrumen moderasi beragama, sehingga dengan instrumen itu dapat diukur tingkat moderasi beragama di tengah masyarakat.

“Saya instruksikan juga agar perpustakaan membeli buku-buku moderasi beragama, baik yang berbahasa Arab, Inggris maupun Indonesia. Saya juga dorong agar para guru besar, lektor kepala, lektor, dan dosen semua dapat menulis buku tentang moderasi beragama,” tandasnya.

Sebelumnya, Rektor mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini terdapat kecenderungan munculnya gejala sikap intoleran dan bahkan kekerasan di masyarakat dengan membawa nama agama. Guna merespon gejala tersebut, kata Rektor, UIN Jakarta harus menjadi lembaga yang mengedepankan cara-cara beragama yang moderat namun rasional ke tengah masyarakat.

“Kita sebagai sivitas akademika berkewajiban memberi pencerahan sekaligus suri tauladan ke tengah masyarakat,” katanya.

Menurut Rektor, moderasi beragama secara sederhana dapat diartikan sebagai cara beragama yang menekankan pada prinsip kesederhanaan, kesantunan, dan persaudaraan. Ekspresi keagamaan diungkapkan dengan cara-cara yang santun dan penuh persaudaraan. Artinya, berbeda boleh tetapi harus disampaikan dan dilakukan dengan cara-cara yang santun.

Berbeda juga bukan hanya boleh tapi harus kalau hal itu menyangkut masalah prinsip. Rektor menegaskan bahwa moderasi beragama sebenarnya sudah lama dipraktikkan oleh masyarakat di kampung-kampung, jauh sebelum ada Twitter yang menimbulkan keriuhan di sana-sini.

“Moderasi beragama adalah nilai-nilai fundamental yang menjadi fondasi dan filosofi masyarakat di Nusantara. Nilai-nilai tersebut ada di semua agama, karena semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sama,” ungkapnya.

Acara Dies Natalis bertema “Strategi Mainstreaming Moderasi Beragama di PTKIN” itu dibuka Ketua Senat Universitas Abuddin Nata dan dihadiri para guru besar serta seluruh sivitas akademika UIN Jakarta.

Juga hadir sejumlah perwakilan diplomat dari negara sahabat serta para mitra bisnis UIN Jakarta. Sedangkan orasi ilmiah disampaikan Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Azyumardi Azra dengan judul “The Strategies for Mainstreaming Moderasi Beragama”. (ns)

Share This