Diorama, BERITA UIN Online— Sedikitnya ada tiga poin penting yang perlu dijalankan sekaligus diterapkan terutama di lingkungan pendidikan, guna mewujudkan moderasi beragama, sekaligus menangkal tumbuh suburnya paham radikalisme. Ketiga poin tersebut antara lain, pengenalan dan pengamalan ajaran Islam secara baik, benar serta menyeluruh (kaffah), toleransi dan hubungan sosial yang baik antar sesama (ta’awun, tasamuh), dan mengedepankan keadilan (al ‘adalah) serta musyawarah dalam menentukan kebijakan serta memecahkan masalah.

Hal demikian disampaikan Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, saat memberikan keynote speech dalam seminar yang diadakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) bekerjasama dengan Himpunan Qori dan Qori’ah (HIQMA) UIN Jakarta, Senin (23/09), di ruang Diorama, Auditorium Harun Nasution, kampus I UIN Jakarta.

Masih menurut rektor, bahwa di kampus UIN Jakarta sendiri, moderasi beragama merupakan pengarusutamaan yang dimandatkan oleh Menteri Agama hingga 2024 nanti. Bahkan, sejak dahulu hingga nanti, UIN Jakarta sebagai kampus Islam terbesar di Asia Tenggara ini, akan senantiasa menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian guna mempublikasikan Islam rahmatan lil a’lamiin.

“Dalam kurikulum pengajaran pun, UIN Jakarta senantiasa menyisipkan mata kuliah agama, itu berlaku di seluruh fakultas, tidak hanya fakultas agama, namun juga fakultas-fakultas umum. Hal ini dilakukan sebagai penyeimbang sekaligus penuntun mahasiswa agar senantiasa berada dalam jalur (khitah) yang baik dan benar,” jelas rektor.

Kemudian, seminar yang mengusung tema Infiltrasi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa dan Strategi Pencegahannya tersebut, menghadirkan beberapa narasumber ahli, diantaranya, Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Jakarta), Irfan Abubakar (Direktur CSRC 2014-2019), Ade Armando (UI), dan Hamli (BNPT RI), serta Solehudin sebagai moderator.

Di tempat yang sama, Direktur CSRC Idris Hemay menuturkan, bahwa salah satu tujuan diadakannya kegiatan seminar tersebut untuk mendukung salah satu misi Rektor UIN Jakarta yang merupakan mandate dari Menteri Agama, bahwa saat ini perlu ditekankan tentang moderasi beragama.

“Selain itu, hal ini selaras dengan kajian-kajian, penelitian juga salah satu visi misi CSRC UIN Jakarta yaitu mempromosikan nilai-nilai Islam yang ramah, damai dan menghargai perbedaan, terutama di Indonesia,” ujar Idris.

Azyumardi Azra, dalam pemaparannya mengatakan, berbagai penelitian dan pengakuan mereka yang keluar dari sel-sel radikal dan ekstrim mengisyaratkan, mahasiswa perguruan tinggi umum (PTU) lebih rentan terhadap rekrutmen daripada mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI).

“Hal itu disebabkan cara pandang mahasiswa PTU khususnya bidang eksakta, sains, dan teknologi yang cenderung hitam-putih. Sementara mahasiswa PTKI yang mendapat keragaman perspektif Islam cenderung terbuka dan penuh nuansa,” pukas Azra.

Ditambahkannya, ada beberapa cara dalam upaya pencegahan paham radikal masuk dan tumbuh subur di lingkungan pendidikan, diantaranya meredesain kembali kurikulum secara menyeluruh, yaitu memasukkan kembali mata kuliah Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, dan Agama, serta revitalisasi kembali organisasi kemahasiswaan.

Hal demikian, juga diperkuat dari pemaparan narasumber yang hadir dalam seminar tersebut, yang kemudian Hamli memperkuat dengan data-data yang diperoleh BNPT. Sedangkan Ade Armando, dan Irfan Abubakar yang kesemuanya berbicara tentang bahaya paham radikalisme sekaligus metode pencegahannya terutama di lingkungan pendidikan. (lrf)

Share This