Ruang Diorama, BERITA UIN Online – Rektor UIN Jakarta Amany Lubis memastikan bahwa mahasiswanya sampai saat tidak ada yang terpapar radikalisme. Karena itu ia sangat menyayangkan bila ada media yang memberitakan mahasiswa UIN Jakarta seolah telah terkontaminasi paham tersebut.

Rektor mengungkapkan hal itu saat membuka Seminar Nasional bertajuk “Infiltrasi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa dan Strategi Pencegahannya” di Ruang Diorama, Senin (23/9/2019). “Insya Allah tidak ada (mahasiswa) yang terpapar, karena mahasiswa UIN Jakarta memiliki paham keagamaan bagus,” katanya.

Rektor mengatakan, selain pemberitaan media, ia juga sangat menyayangkan adanya sebuah lembaga penelitian yang menyebut dan mengambil kesimpulan sama terhadap mahasiswa UIN Jakarta. Ia menyarankan agar masyarakat tidak terlalu mempercayai setiap informasi yang muncul terhadap isu-isu radikalisme di UIN Jakarta.

“Sebaiknya silakan cek juga dari lembaga lain, jangan hanya satu atau dua lembaga. Insya Allah tidak ada yang namanya radikalisme itu,” sanggahnya.

Menurut Rektor, UIN Jakarta sejak lama selalu mengembangkan pemikiran keislaman yang moderat. Pemikkiran itu di antaranya dikembangkan oleh sejumlah tokoh Islam moderat, seperti Harun Nasution, M Qurais Shihab, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, dan Dede Rosyada. Oleh karena itu tidak ada alasan bahwa radikalisme akan tumbuh subur sebagaimana banyak diberitakan.

Namun demikian, katanya, munculnya paham radikalisme bisa saja terjadi dan dilakukan oleh satu-dua dosen atau mahasiwa yang bersemangat serta dengan sudut pandang masing-masing. Hanya saja, pemikiran tersebut tidak mewakili dosen atau mahasiswa secara keseluruhan karena tidak dilakukan dengan cara pandang kolektif.

“Mungkin ada tapi sifatnya hanya parsial saja,” jelasnya.

Rektor menandaskan UIN Jakarta saat ini terus berupaya untuk menjadi kiblat moderasi beragama di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Hal itu sebagaimana yang telah dicanangkan Kementerian Agama (Kemenag) dalam rapat kerja pimpinan beberapa waktu lalu. Bahkan moderasi beragama di Kemenag kini telah masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah Nasional (RPJPMN).

Menurut Rektor, strategi moderasi beragama yang dikembangkan di UIN Jakarta setidaknya dilakukan dalam tiga hal. Pertama, mengembangkan pengamalan ajaran Islam secara benar di kalangan sivitas akademika;  Kedua, memperkokoh terciptanya hubungan harmonis intern umat beragama dan antar umat beragama; dan kedua, penanganan masalah-masalah konflik dilakukan dengan cara-cara moderasi dan pendekatan secara soft power.

“Selain itu, mahasiswa baru setiap tahun juga akan kita bina dan arahkan untuk memahami moderasi beragama. Hal yang sama juga dilakukan terhadap para dosen untuk menyampaikan sikap moderasi tersebut.

Seminar nasional digelar oleh Center for the Study and Culture (CSRC) UIN Jakarta. Seminar menghadirkan narasumber guru besar UIN Jakarta Azyumardi Azra, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia Ade Armando, Direktur Pencegahan Badan Penanggulangan Nasional Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamli, dan dosen Fakultas Adan dan Humaniora Irfan Abubakar. (ns)

Share This