Gedung Rektorat, BERITA UIN Online – Rektor UIN Jakarta Amany Lubis meminta para dosen pembimbing agar tidak memberikan nilai rendah terhadap mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN). Sebab, nilai rendah akan berdampak pada akreditasi Institusi sehingga dapat mengurangi kredibilitas.

“Berikan saja nilai terbaik, termasuk pada nilai mata kuliah lain,” kata Rektor saat memberikan pengarahan workshop tentang “Mencari Model KKN UIN Jakarta” di Ruang Sidang Utama Gedung Rektorat, Jumat (14/2/2020).

Workshop yang digelar Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) itu dihadiri Wakil Rektor Bidang Akademik Zulkifli, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Jajang Jahroni, Ketua PPM Kamarusdiana, dan sejumlah wakil dekan bidang akademik.

Rektor mengatakan, jika ditengarai ada mahasiswa yang memperoleh nilai rendah, misalnya C atau D, patut ditelusuri di mana masalahnya. Apakah masalahnya ada pada dosen atau pada mahasiswa itu sendiri, misalnya karena dia malas.

“Menurut saya harus dilihat dan ditelusuri di mana masalahnya. Idealnya nilai KKN harus A semua,” tandasnya.

Pada bagian lain, Rektor mengungkapkan bahwa KKN mahasiswa yang bersifat tematik harus juga menyentuh bidang ekonomi dan enterpreunership. “Saya kira akan bagus kalau menyentuh bidang ekonomi. Tidak hanya masalah kesehatan, industri, atau kemaritiman,” jelasnya.

Bahkan untuk KKN model Internasional, Rektor mengharapkan ada juga mahasiswa yang dikirim ke negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi.

Menurut Rektor, KKN Internasional di Arab Saudi tahun ini akan diminta lima mahasiswa untuk disiapkan dan dikirim ke negara tersebut. Sponsor KKN di Arab Saudi akan disiapkan oleh pihak Kerajaan melalui Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta.

Seperti diketahui, PPM UIN Jakarta telah mengeluarkan kebijakan bahwa pengabdian masyarakat bagi mahasiswa saat ini dilakukan dengan banyak model. Selain KKN yang bersifat reguler dan konvensional, sedikitnya ada lima model baru KKN, yakni KKN Internasional, KKN Mandiri, KKN In Campus, KKN Kebangsaan, dan KKN Bersama. Kelima KKN tersebut terpogram dan terstruktur dengan PPM sebagai pusat pengendali.

Namun, model KKN yang digelar PPM tidak semua diikuti mahasiswa di fakultas. Kalaupun ada, hanya sebagian saja yang diikuti mahasiswa dari jurusan tertentu pada fakultas tersebut. Selebihnya beberapa fakultas berinovasi melakukan model pengabdian masyarakat sesuai dengan kepentingan masing-masing.

Mereka juga memberi nama yang berbeda untuk model pengabdian masyarakat yang dilakukannya. Sebut saja ada Praktik Kerja Lapangan (PKL), Kuliah Kerja Lapangan (KKL), dan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP).

Menurut Zulkifli, tidak masalah pengabdian masyarakat diadakan oleh fakultas dengan beragam model dan kepentingan. Hanya saja, semua model harus disepakati dan dinamakan sama, yakni KKN.

“Kita juga harus menyepakati bahwa semua model pengabdian masyarakat bagi mahasiswa bernilai 4 sistem kredit semester (SKS),” katanya.

Kamarusdiana juga sepakat bahwa PPM tetap mengakomodasi beragam model pengabdian masyarakat di UIN Jakarta. Namun, ia meminta agar semua model yang ada di fakultas tetap berada di bawah koordinasi PPM sebagai leading sector pengabdian kepada masyarakat UIN Jakarta. (ns)

Share This