Kuningan, BERITA UIN Online— Madrasah merupakan pelengkap “sekolah umum”, guna mencapai serta menyokong tugas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Dimana, 147.513 Sekolah Dasar menyelenggarakan pendidikan bagi 26.132.141 siswa, 36.518 Sekolah Menengah Pertama menyelenggarakan pendidikan bagi 9.930.647 siswa, dan 12.513 Sekolah Menengah Atas menyelenggarakan pendidikan bagi 4.232.572 siswa. Oleh karena itu, Madrasah hadir melengkapi sekaligus meringankan tugas sekolah-sekolah umum tersebut.

Demikian disampaikan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA saat memberikan sambutan pada acara Seminar dan Bedah Buku yang berjudul Madrasah dan Profesionalisme Guru dalam Arus Dinamika Pendidikan Islam di Era Otonomi Daerah, Senin (30/10), bertempat di Aula Hotel Ayong, Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat.

Ditambahkan Dede, bahwa Madrasah sampai saat ini masih menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat untuk belajar. Pasalnya Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 sampai 2015 mencatat, 24.353 Madrasah Ibtidaiyah (MI) menyelenggarakan pendidikan bagi 3.463.028 murid, 16.741 Madrasah Tsanawiyah (MTs) menyelenggarakan pendidikan bagi 3.158.689 murid, dan 7.260 Madrasah Aliyah (MA) menyelenggarakan pendidikan bagi 1.099.366 murid.

“Dengan demikian, jelas sudah kedudukan Madrasah di negeri ini sangat membantu “Sekolah Umum” dalam rangka ikut mencerdaskan generasi bangsa. Walau pun, pada awalnya, Madrasah lahir dan berkembang dengan kemandirian. Dengan menengok sedikit ke sejarah, madrasah lahir di abad 20-an, dan kelahirannya itu didorong adanya sikap diskriminatif dari pemerintah colonial Belanda,” jelas rektor.

Sampai pada akhir sambutannya, rektor mengajak para peserta yang hadir untuk bersama memajukan pendidikan di Indonesia, khususnya Kabupaten Kuningan. Rektor juga mempersilahkan bagi putra-putri yang berasal dari mana pun khususnya Kuningan, untuk melanjutkan pendidikannya di kampus UIN Jakarta.

“UIN Jakarta terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar. Bahkan, UIN Jakarta merupakan PTKIN terbaik se Asia Tenggara. Namun perlu dicatat, walau pun UIN Jakarta merupakan kampus yang murah biayanya, tapi UIN Jakarta bukan kampus murahan secara keilmuan, baik ilmu agama maupun ilmu umum,” tandas Guru Besar Metodologi Pendidikan UIN Jakarta tersebut.

Di tempat yang sama, turut hadir sekaligus menjadi narasumber, Wakil Rektor Bidang Kerjasama Prof Dr Murodi MA, Bupati Kuningan H Acep Purnama SH MH, yang pada kesempatan tersebut diwakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Dr H Dian Rahmat Yanuar MSi (membuka acara), dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tangerang Drs H Mujayin MAg (memberi sambutan), serta para Kepala Seksi dan tamu undangan.

Dari UIN Jakarta, turut hadir menyertai rektor, Kepala Biro Administrasi Umum dan Kepegawaian (BAUK) Dr H Rudi Subiyantoro MPd, Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan H Subarja MPd, Kepala Sub Bagian Dokumentasi dan Publikasi Feni Arifiani MH, serta segenap jajaran staf pengadministrasi Pubdok dan Tata Usaha UIN Jakarta.

Wakil Rektor, dalam sambutannya mengatakan, bahwa buku yang ditulis Rektor UIN Jakarta tersebut layak, bahkan wajib untuk dibaca, terutama oleh para insan pendidik.

“Sudah selayaknya kita sebagai insan pendidik dan peserta didik sekalipun, untuk memiliki dan membaca buku ini. Karena, di dalamnya memuat banyak sekali ilmu dan data yang kiranya mampu membuka cakrawala kita bagaimana seharusnya dan sebaiknya pendidikan itu berjalan.

Masih menurut Murodi, tidak sebatas membicarakan kedudukan Madrasah saat ini, namun buku tersebut juga berisi fase serta metode yang aplikatif bagi kemajuan lembaga pendidikan di Indonesia.

Menguatkan  pendapat Murodi, Kepala Dinas Pendidikan yang diwakili oleh Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Drs Ayi Syarif MPd dalam pemaparannya mengatakan, bahwa Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan sangat mengapresiasi adanya acara tersebut.

“Kami dari Dinas Pendidikan berharap, acara ini mampu memberikan pengetahuan tambahan bagi para guru dan peserta didik. Selain itu, dengan membaca buku ini, sekiranya kita jadi tahu dan mampu bagaimana seharusnya memosisikan diri dan lembaga pendidikan di era saat ini,” ungkap Ayi.

Ayi juga berharap, acara-acara positif seperti itu ke depan dapat diadakan kembali guna peningkatan pengetahuan dan skill para guru dan masyarakat pada umumnya. (lrf)

 

Share This