Bandung, BERITA UIN Online— Revolusi industri 4.0 diyakini bakal menghadirkan perubahan cukup dalam bagi sejarah peradaban kemanusiaan. Pengaruh revolusi industri beserta dampak ikutannya diyakini bakal mengubah segala tatanan sosial yang ada, tak terkecuali perguruan tinggi. Untuk itu, lembaga pendidikan ini diharap lebih adaptif atas perubahan yang dimunculkannya.

Demikian disampaikan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Kadarsyah Suryadi DEA saat memberikan paparan bertajuk Pengembangan Akademik di Era Industri 4.0 di Bandung, Sabtu (30/3/2019). Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB ini diundang menjadi narasumber ahli dalam Rapat Kerja Pimpinan UIN Jakarta.

Revolusi industri 4.0, sambungnya, merupakan fase penting dari sejarah industri dalam peradaban manusia. Menurutnya, revolusi industri ini ditandai kemampuan manusia untuk menghubungkan kekuatan mesin untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kehadiran revolusi ini sendiri, sambungnya, ditandai lima tren yang menyertainya, yaitu demokratisasi akses dan pengetahuan dimana siapapun dan kapan pun bisa mengakses ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi digital. Lainnya, integrasi perguruan tinggi dengan industri, masifnya mobilitas global, dan ketatnya kompetisi pasar dan pendanaan.

“Inilah lima tren yang akan terus kita alami dan hadapi. Tapi tugas kita adalah menghasilkan lulusan yang siap. Dan tugas lulusan adalah meningkatkan taraf hidup mereka sendiri dan bangsanya,” paparnya.

Berbagai tren demikian, sambungnya, akan cukup berpengaruh bagi masa depan bangsa. Misalnya, mereka tidak cukup menguasai bidang ilmu dan keahlian spesifik bidangnya, melainkan juga menguasai perkembangan teknologi yang jadi pendukungnya.

“Saat teknologi maju, seorang perawat tidak hanya dituntut menguasi bidang nursing, tapi juga kemampuan mengoperasikan alat-alat canggih keperawatan,” terangnya.

Dengan tren dan ikutannya seperti demikian, sambungnya, perubahan akibat revolusi industri 4.0 adalah hal sangat mungkin. Perguruan tinggi seperti UIN Jakarta maupun PTKIN lainnya dituntut adaptif dalam mengola kurikulum dan pengajaran yang diberikan kepada peserta didik.

“Namun hal penting yang tidak bisa diabaikan adalah perlunya juga mengartikulasikan nilai-nilai yang bisa mereka fahami bagi kehidupan mereka. Sebab kemajuan teknologi perlu juga diimbangi keseimbangan di sisi spiritualnya,” tandasnya. (lrf/zae)

Share This