Bekasi, BERITA UIN Online – Rektor UIN Jakarta Amany Lubis menyatakan bahwa prinsip amanah dalam moderasi beragama dapat dilakukan dalam bentuk kebersamaan, keadilan, akuntabilitas publik, dan cinta Tanah Air. Prinsip moderasi beragama memiliki beberapa indikator, antara lain pelayanan masyarakat yang efektif, efisien, dan berkualitas serta tumbuhnya kepercayaan masyarakat dan pemerintah.

“Jika antara prinsip moderasi beragama disinergikan dengan beberapa indikator tadi niscaya akan menghasilkan persatuan bangsa,” katanya saat memberikan ceramah di depan peserta Rapat Kerja Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta yang digelar di Hotel Santika, Bekasi, Rabu (20/2/2019).

Rektor dalam ceramahnya bertajuk “Moderasi Beragama Sebagai Penguatan Kebersamaan Umat” itu juga mengatakan, isu moderasi beragama telah dicanangkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin beberapa waktu lalu. Menteri Agama, kata Rektor, ingin agar seluruh aparatur sipil Negara (ASN) di lingkungan Kementerian Agama dapat mengimplementasikan prinsip moderasi tersebut dalam kehidupan nyata di masyarakat.

“Prinsip moderasi beragama bertujuan untuk menciptakan tatanan masyarakat yang harmonis, adil, dan damai,” ujarnya.

Rektor mengungkapkan bahwa dalam menerapkan prinsip moderasi beragama, seorang pemimpin penting memiliki jiwa visioner. Di antara ciri-ciri pemimpin berjiwa visioner, menurut Rektor, adalah mampu bersikap adil, mencintai kepada sesama, suka menolong, memiliki kesetiaan, dan berpandangan jauh ke depan.

Bahkan yang lebih penting lagi seorang pemimpin harus mampu mengembangkan nilai-nilai insklusifitas, melindungi, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya. “Prinsipnya, pemimpin itu harus amanah,” tegasnya.

Kriteria pemimin amanah, sebut Rektor, adalah beragama Islam serta sehat jasmani-rohani, profesional, memiliki ilmu, dan berkapasitas memadai. Selain itu ia juga tidak berambisi dan menghalalkan segala cara serta mampu bekerja sama dengan sesama umat dan bekerpribadian sederhana. (ns)

Share This