Lapangan SC, BERITA UIN Online– Masih ada Pekerjaan Rumah (PR) yang masih terus dikembangkan dengan baik di UIN Jakarta ini, salah satunya adalah bagaimana respek terhadap keilmuan.

Demikian disampaikan Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA dalam amanat pembina upacara HUT RI ke 73, Jum’at, (17/08/2018), di Lapangan SC UIN Jakarta.

Dalam amanatnya tersebut, Dede menceritakan kilas balik sejarah para founding father bangsa ini dalam merumuskan dasar negara.

“Patut direnungkan kembali apakah semangat yang dibawa oleh founding fathers sudah betul-betul menyemangati jiwa kita dalam menjalani kemerdekaan,” ujar Dede di hadapan sivitas akademik UIN Jakarta yang menjadi peserta upacara.

Salah satu yang bisa diungkap kembali, lanjutnya, para pendiri bangsa yang tergabung dalam Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), terdapat panitia inti yang mencoba merumuskan dasar negara.

“Ketika itu, sejak BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuk selalu muncul perdebatan. Maka dibentuklah tim kecil, yaitu Bung Karno, Hatta, Supomo, Rajiman, Suroso, Sutarjo, KH Wahid Hasyim dan Ki Bagus Hadi Kusumo,” imbuh Dede.

Menurutnya, nama-nama tersebut mewakili kaum nasionalis sekuler (Bung Karno, Hatta, Supomo, Rajiman, dan Suroso) dan kaum agamis (KH Wahid Hasyim dan Ki Bagus Hadi Kusumo).

“Menariknya, orang nasionalis sekuler tidak ingin Indonesia jadi negara sekuler, sementara kaum agamis tidak memaksakan negara ini menjadi negara agama,” tegasnya.

Walaupun bukan negara agama, tambahnya, ada kegiatan agama yang diatur negara, misalnya penentuan waktu sholat, puasa, hari raya, pelaksanaan ibadah haji, dan itu disetujui kaum sekuler.

“Yang membuat mereka menyatu adalah sikap respek, saling menghargai antar umat beragama, membangun bangsa menuju keadilan bagi selkuruh rakyat Indonesia,” jelasnya.

Oleh sebab itu, sambungnya, merekapun menerapkan semboyan bangsa dengan Bhineka Tunggal Ika dengan adanya beragam etnik, namun satu tujuan, yaitu keadilan sosial dan kesejahteraan.

Di UIN Jakarta sendiri yang sudah berusia 61 tahun, Dede mengatakan, keberhasilan respeknya sangat luar biasa dibanding saat awal berdirinya kampus ini.

“Awal masuk kampus ini, ketegangan aliran keagamaan sangat terasa dan kentara, seperti antara NU dan Muhammadiyah. Sekarang sudah tidak terasa lagi dan sudah menyatu dengan baik. Warga Muhammadiyah mengamalkan tradisi NU, begitu juga NU, sinkretisme,” ungkap Dede.

Menurutnya, inilah mengapa UIN Jakarta masih harus terus mengembangkan respek terhadap keilmuan.

“Semua ilmu di UIN itu sama, tidak ada orang yang baik dalam segala aspek, baik dalam kedokteran tapi tidak baik dalam agama,” terangnya.

Hal lain yang perlu dikembangkan, lanjutnya, selain respek antar fakultas, juga harus ditumbuhkan respek antar alumni, misalnya alumni Timur Tengah yang ada di UIN Jakarta ini mampu menghargai alumni Amerika, Eropa, maupun alumni Ciputat, begitupula sebaliknya.

“Bisakah saling menghargai satu sama lain, karena Allah ciptakan kita beragam, bukan hanya mengenal, tapi mengakui bahwa masing-masing ada distingtif, penekanannya adalah prestasi, itulah yang disebut takwa,” pungkas Dede. (mf)

Share This