Palu, Doggala, BERITA UIN Online– Genap sepekan Tim Respon Bencana KMPLHK Ranita UIN Jakarta berada di lokasi terdampak dari 30 September sampai 13 Oktober 2018. Tim yang beranggotakan empat orang melakukan pergerakkan berfokus kepada penyaluran bantuan logistik kepada masyarakat terdampak dengan target wilayah yang masih belum tersentuh oleh bantuan.

Diketahui, dana yang terkumpul untuk bantuan korban gempa sebesar Rp 63.900.200. Penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan hasil assesment dari Markas Lorem 132/Tdulako yang merupakan Markas Gabungan Paduan Gempa dan Tsunami Palu dan Donggala, namun sangat disayangkan data dari markas tersebut kurang akurat, sebab tidak ada perkembangan data setiap harinya. Demikian dilaporkan Lina Sobariyah dari Palu Donggala, anggota Ranita sebagai relawan dengan kapasitas spesialis disaster management dan jurnalistik, Ahad, (14/10/2018).

Diinformasikannya, pergerakkan tim dimulai dengan belanja bantuan logistik di Jalan Imam Bonjol yang terletak di Pusat Kota Palu. Logistic yang disalurkan berupa 20 dus mie instan rebus, 10 dus mie instan goreng, dan 5 dus kopi instan sachet yang semuanya seharga Rp 3.250.000. Transaksi jual beli dilaksanakan di mobil box karena di kota Palu masih sangat rawan terjadi penjarahan. Selain berbelanja bantuan logistik, timpun dipinta untuk membantu mendistribusikan batuan di Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, dan Kerukunan Luwu Utara.

Pada Kamis, (11/10/2018) tim kembali ke pusat Kota Palu menuju Pasar Inpres Manonda Kota Palu untuk membeli beras sebanyak 8 karung dengan harga yang relatif stabil, lalu tim mengemas paket sembako yang setiap paket berisi 2 liter beras, 4 bungkus mie instan, dan 2 sachet kop. Selanjutnya tim kembali membeli beras sebanyak 2 karung yang direncanakan akan didistribusikan tanggal 12 Oktober ke Kabupaten Sigi.

Pada Jumat, (12/10/2018) pergerakan tim dibagi menjadi dua, yaitu Tim 1 yang bertugas melakukan Assesment dan Tim 2 yang bertugas mendistribusikan logistik. Assesment dilakukan di Koramil 1306-02 dan Pos Komando Kabupaten Sigi, hasilnya adalah beberapa wilayah di Kabupaten Sigi masih belum dialiri listrik dan beberapa wilayah juga masih sulit diakses, yaitu wilayah Sidera dan Kulawi. Wilayah Sidera belum bisa diakses karena jembatan dan jalannya hancur akibat gempa dan tsunami, sedangkan untuk wilayah Kulawi Selatan dan Lindu masih bisa diakses karena jalan untuk ke wilayah tersebut melalui jalur Gunug Potong yang diapit oleh tebing dan jurang yang beresiko longsor jika hujan.

Tim Kedua mendistribusikan logistik ke beberapa daerah di Kabupaten Sigi, yaitu Desa Bora, Biromaru, dan Kawatuna. Di desa Bora tim mendistribusikan 200 kantong logistik yang masing-masing kantong berisi beras, 4 bungkus mie, dan 2 sachet kopi. Di Desa Biromaru tim menurunkan 4 kantong logistic dan di Kawatuna menurunkan logistic sebanyak 4 kantong perposko serta memberikan bantuan pakaian layak pakai. Kondisi di Desa Bora sudah aman dan kebutuhan logistik sudah terpenuhi, sementara untuk Biromaru tim tidak berkunjung ke posko induk setempat hanya ke pesantren yang dijadikan tempat pengungsian di Kawatuna.

Lina menjelaskan, kondisi pendidikan di Desa Bora masih lumpuh karena bangunan sekolah rusak dan anak-anak belum berani untuk bersekolah. Korban meninggal di Desa tersebut sebanyak 6 jiwa karena tertimbun reruntuhan dan pasca bencana, 2 jiwa meninggal karena trauma yang mendalam. Kondisi desa lainpun tak kalah memperhatinkan, salah satunya adalah Desa Jono Oge yang salah satu dusunnya tertimbun lumpur akibat gelombang tsunami, sebanyak 360 unit rumah tertimbun lumpur. Masyarakat yang selamatpun mengungsi ke daerah-daerah yang lebih tinggi seperti bukit-bukit belakang rumah.

Untuk kondisi di Kota Palu dan Kabupaten Sigi, pendistribusian logistik berjalan lancar, listrik mulai masuk ke dusun-dusun, dan bantuan air bersih mulai disebar oleh BNPB, BPBD ataupun lembaga lainnya.

Sabtu, (13/10/2018) Tim kembali melakukan perjalanan pendistribusian logistik dan assessment di Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. Sekitar pukul 07.00 WITA, tim berbelanja kebutuhan mendesak untuk daerah tersebut yang berdasarkan pada hasil assesment dari pos kabupaten Sigi. Barang yang didistribusikan diantaranya adalah 5 karung beras masing masing ukuran 50 kg, 4 dus minyak goreng dan 4 dus popok bayi.

Setelah berkoordinasi dengan perkumpulan Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), maka diputuskan untuk pendistribusian logistik di daerah Kecamatan Kulawi dilakukan berbarengan. Menurut keterangan Mapala, akses jalan menuju lokasi sudah bisa dilalui, namun di saat perjalanan, terjadi hujan yang menghambat pergerakan karena di beberapa titik jalannya licin.

Memasuki desa Salua, sudah terlihat beberapa rumah yang hancur akibat gempa, beberapa fasilitas ibadah dan jalan rusak. Setelah melalui desa ini banyak ditemukan titik longsor sekitar 25 titik longsor beberapa kali truck yang membawa logistik kesulitan untuk melalui medan bekas longsor yang mengakibatkan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama.

Perjalanan ini menghabiskan waktu sekitar 4 jam dengan jarak tempuh 78 KM sampai pada desa tujuan sekitar pukul 21.30 WITA di desa Bolapapu, sesampainya di sini cuaca masih hujan. Dari titik ini tim memutuskan untuk berpisah dengan rombongan mapala, tim langsung merapat menuju kediaman kepala desa Boladangko dan melakukan assessment untuk mengetahui keadaan umum, kebutuhan dan indeep assesment untuk program lebih lanjut pada desa ini.

Hasil assessment yang didapatkan dari wawancara kepala desa diantaranya adalah untuk akses jalan sangat sulit dan hanya memiliki satu jalan, yang masih rawan longsor jika terjadi hujan. Akses pasar hanya ada di Palu, masalah sanitasi akibat gempa tidak bisa diatasi karena seluruh akses sanitasi hancur dan tidak ada sanitasi yang bersifat sementara atau darurat, akses kesehatan sudah terfasilitasi karena ada pelayanan kesehatan di setiap desa, akses listrik untuk sumber dari PLN tidak ada, sementara ini hunian sementara warga memanfaatkan genset untuk sumber listrik. Seluruh sarana dan prasarana pendidikan, rumah ibadah dan perkantoran hancur seluruhnya. Aktivitas perkantoran, pertanian dan pendididikan tidak beroperasi dari mulai kejadian gempa sampai dengan saat ini. Belum adanya rencana untuk pemulihan di berbagai aspek pada desa ini, ada banyak masalah psikologi yang diakibatkan oleh gempa terutama pada anak anak. Kebutuhan mendesak yang belum dipenuhi diantaranya dalah sembako, terpal dan sanitasi.

Menurut keterangan dari Kepala Desa Boladangko beberapa gempa pernah terjadi sebelum gempa yang terjadi pada 28 Oktober ini, sebelumnya pernah terjadi gempa pada tahun 2012 dengan kerugian rumah rusak ringan sedikit, sebelumnya juga pernah terjadii gempa pada tahun 2006 yang mengakibatkan dampak kecil berupa rumah rusak ringan. Menurut keterangannya gempa berulang selalu terjadi setiap enam tahun sekali.

Kamis, (14/10/2018) setelah kemarin tim melalui perjalanan yang cukup berbahaya melintasi 25 titik longsor di hari yang hujan dan di malam hari,  tim respon bencana Ranita UIN Jakarta pada hari ini melanjutkan misinya di daerah Kecamatan Kulawi.

Untuk mempermudah pergerakkan tim kembali dibagi menjadi dua, yaitu tim 1 bertugas melakukan observasi dan assessment di dusun 1 dan dusun 2, sedangkan tim dua bertugas melakukan observasi dan assessment di Dusun 3 Desa Boladangko.

Desa Boladangko mengalami kerugian yang cukup besar, yaitu sebanyak 158 KK terdampak dan 562 jiwa mengungsi di beberapa titik pengungsian. Kebutuhan pokok warga didapat dari bantuan helikopter yang biasanya menurunkan logistik di lapangan kecamatan, kemudian logistik tersebut dibagi rata perdesa dan dusun.

Keluhan dari bantuan yang masuk adalah mayoritas bantuan yang diterima oleh warga merupakan mie instan sudah lebih dari dua minggu  warga mengkonsumsi mie instan. Selain itu, warga juga mengeluhkan gatal-gatal, batuk dan flu, namun hal tersebut  sudah mulai  diatasi dengan adanya fasilitas kesehatan yang dekat dan dapat diakses oleh beberapa desa.

Tim 1 melakukan  assessment di dusun 1 dan dusun 2 desa Boladangko. Kepala dusun 1 adalah Pak Yohan, di Dusun 1 memiliki 4 titik pengungsian. Titik pertama memiliki 12 KK serta 41 jiwa, titik kedua memiliki 26 KK serta 56 jiwa, titik ketiga memiliki 12 KK serta 39 jiwa.

Titik keempat memiliki 4 KK serta 21 jiwa. Keempat titik pengungsian tersebut hanya memakai tenda berukuran sedang dan untuk,tendaberukuran besar digunakan untuk fasilitas umum, seperti gereja atau posko kesehatan. Di dusun 1 tersebut rumah yang masih berdiri tegak hanya 3 rumah. Rumah lainnya runtuh rata dengan tanah. Dusun 1 terdapat 6 orang yang meninggal dunia, 6 orang luka berat, 6 orang luka ringan. Logistik yang dibutuhkan di Dusun 1 adalah makanan pokok dan penerangan.

Sedangkan hasil assessment di dusun 2 adalah Kepala dusun 2 adalah Pak Jafar, di dusun 2 terdapat 53 KK 182 jiwa. Warga dusun 2 membangun hunian sementara di lapangan sebanyak 63 huntara (hunian sementara). Di dusun 2 terdapat 2 orang meninggal dan 1 orang luka berat. Setelah melakukan assessment, kami mendistribusikan logistic ke desa Boladangko tepatnya di dusun 2.

Tim kembali melanjutkan assesmentnya di Desa Namo kec. Kulawi, sebanyak 413 KK dan 1608 jiwa mengungsi akibat gempa berkekuatan 7.4 SR, menurut sekdes hamper 97% rumah dan bangunan rusak. Kebutuhan mendesak yang dibutuhkan warga diantaranya adalah sembako dan kebutuhan pokok warga yang dipenuhi oleh bantuan yang didistribusikan oleh helicopter. Beberpa masalah yang dialami oleh warga desa ini diantaranya adalah kehilangan tempat tinggal, lahan pertanian yang terdapat diketinggian mengalami retak dan pecah, tidak adanya akses sanitasi, seluruh warga mengalami trauma dan aspek ekonomi hanya 5% yang berjalan saat 14 hari pasca kejadian.

Hunian sementara dibuat atas dasar inisiasi warga sendiri tanpa bantuan dari berbagai macam pihak. Seluruh kegiatan perkantoran dan pendidikan belum berjalan sampai saat ini.

“Semoga apa yang kami lakukan dapat sedikit meringankan beban derita saudara-saudara kita yang menjadi korban gempa,” pungkas Lina mengakhiri laporannya. (mf)

Share This