Gedung Student Center, BERITA UIN Online – Kelompok Mahasiswa Pecinta Lingkungan Hidup dan Kemanusiaan (KMPLHK) Ranita UIN Jakarta melakukan penanaman bibit pohon butun (Barringtonia asiatica) di sepanjang pantai Basisir di Kampung Paniis, Desa Cimenteng, Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten, Sabtu (22/6/2019). Kegiatan tersebut dilakukan saat digelar acara sosialisasi mitigasi bencana kepada warga yang terdampak tsunami.

Dalam penanaman pohon tersebut, Ranita dibantu warga setempat serta para pelajar SMPN 4 Cigeulis. Pohon yang ditanam sebanyak 150 bibit. Penanaman pohon bertujuan guna memecah gelombang tinggi air laut saat datang tsunami di Selat Sunda seperti yang terjadi pada akhir Desember 2018 lalu.

“Penanaman pohon di pinggir pantai selain sebagai penghijauan, juga setidaknya dapat mengurangi derasnya air laut ke daratan jika terjadi gelombang tsunami,” kata Ketua Umum KMPLHK Ranita, Bahrul Ulum, kepada BERITA UIN Online di gedung Student Center, Senin (24/6/2019).

Menurut Bahrul, acara sosialisasi itu sendiri bertujuan untuk meningkatkan kapasitas fisik dan ilmu pengetahuan bagi warga setempat dalam menghadapi gelombang tsunami. Sosialisasi yang dilakukan Ranita di antaranya menjelaskan kepada masyarakat mengenai risiko bencana dan langkah-langkah kesiapsiagaan bila sewaktu-waktu terjadi tsunami serta menyosialisasikan penggunaan tas siaga bencana.

Sementara itu, menurut Ketua Komunitas Aktivis Insan Peduli Konservasi Alam (KIPKA) Pandeglang, Ramli, pohon butun atau juga dikenal pohon keben (putat laut), merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak tumbuh di pesisir pantai wilayah tropis. Tanaman tersebut memiliki batang dan akar yang kuat, sehingga mampu menahan derasnya arus air laut ke daratan seperti gelombang tsunami.

”Pada kejadian tsunami kemarin (akhir Desember 2018, Red), hampir seluruh pohon tumbang terkecuali pohon butun,” katanya.

Ramli sangat mengapresiasi diadakannya program penanaman program tersebut. Ia berharap kegiatan yang dilakukan Ranita akan terus berlanjut dan diperluas lagi. Hal yang sama saja juga diutarakan Omo, Ketua RT 02 Kampung Paniis.

“Saya berharap kerja sama seperti ini dapat terus terjalin, terutama dalam upaya menggiatkan pelestarian lingkungan untuk mencegah berkurangnya dampak tsunami,” ungkap Ramli.

Selain mengadakan sosialisasi mitigasi bencana dan penanaman pohon, Ranita juga membangun sebuah jembatan. Pembangunan jembatan tak lain guna memudahkan warga melakukan evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi bila kembali terjadi tsunami.

Jembatan dengan panjang 20 meter dan lebar 3 meter yang berada di atas sungai Cimenteng itu dibangun bersama warga. Jembatan dibangun dengan beton dan rangka besi serta menghubungkan antara Kampung Paniis dan kawasan perkebunan.

“Sumber dana pembangunan jembatan semua berasal dari para donatur,” kata Bahrul. (ns/lien sururoh)

Share This