Lombok, BERITA UIN Online– Pos Peduli Bencana Gempa Lombok KMPLHK Ranita UIN Jakarta yang sudah berjalan selama 28 hari sejak dibuka pada 2 Agustus 2018 kembali melakukan penggalangan donasi dengan cara luring maupun daring untuk disalurkan oleh tim relawan Ranita kepada masyarakat Lombok, khususnya warga dusun yang menjadi wilayah aksi relawan Ranita.

“Sasaran kita di Dusun Temposodo, Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Alhamdulillah, sampai saat ini donasi yang terkumpul sudah mencapai Rp 81.568.296,” ujar anggota Infokom Gempa Lombok KMPLHK RANITA Qurrota A’yun.

Menurut edaran yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lanjutnya, masa tanggap darurat berakhir pada 25 Agustus lalu dan transisi ke masa pemulihan.

“Maka dari itu, tim Disaster Management Ranita memutuskan untuk memulangkan lima tim relawan Ranita yang sudah fokus di masa tanggap darurat kemarin selama 20 hari dan menyatakan tutup donasi sejak Selasa, 28 Agustus 2018,” imbuh mahasiswi Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora itu.

Selain itu, kata Qurrota, masyarakat di wilayah aksi sudah mulai mandiri dan bangkit dari musibah yang menimpanya dengan memulai aktifitas seperti memanen cengkeh dan aktifitas berdagang. Sedangkan dua orang relawan lainnya masih perlu menetap untuk menggerakan dan mendampingi masyarakat merenovasi tempat wudhu dan beberapa mck.

Qurrota menguraikan, kegiatan yang sudah dilakukan tim relawan selama di sana antara lain, melakukan psikososial kepada anak-anak dengan berbagai macam kegiatan, mendirikan dapur umum, mendirikan sekolah darurat/rumah pintar, melakukan kegiatan belajar mangajar dibantu beberapa guru setempat, membuat mck, memanen cengkeh bersama warga, berkurban sapi dan kambing, dan sosialisasi mengenai kesiapsiagaan bencana gempa bumi.

“Kegiatan saat ini kita melakukan sosialisasi tas siaga bencana sebagai kegiatan terakhir tanggap darurat lima relawan di lapangan Sejak Selasa (28/8/3018),” papar Qurrota sembari menambahkan, “Untuk sekolah darurat/rumah pintar, tim menyerahkannya kepada pemuda desa untuk melanjutkan kegiatan di sana, karena PAUD dan SD masih belum mulai bersekolah, berbeda dengan SMP yang sudah mulai bersekolah sejak Senin (27/8/2018).”

Sementara itu, Kepala Bidang Disaster Management Ranita Lien Sururoh menambahkan, selain menyalurkan bantuan logistik pangan dan kebutuhan domestik lainnya, Ranita juga menyalurkan bantuan tas siaga bencana sebanyak 45 buah untuk anak-anak PAUD dan SD yang tersebar di lima titik pengungsian di Desa Santong.

“Tas siaga bencana merupakan kumpulan barang-barang kebutuhan dasar rumah tangga yang dipersiapkan sebelum terjadi bencana dan diperlukan dalam keadaan darurat,” ujarnya.

Tas siaga tersebut, lanjut mahasiswi Prodi Kimia Fakultas Sains dan Teknologi itu, diisi dengan tempat makan, botol minum, senter darurat, dan sebuah kaos.

Menurutnya, bantuan tersebut diberikan karena di sana masih sering terjadi gempa dan tas tersebut merupakan salah satu contoh dari kesiapsiagaan bencana gempa yang dapat diterapkan anak-anak dusun apabila terjadi gempa dengan intensitas tinggi untuk bisa bertahan hidup sampai bantuan datang. (mf)

Share This