ADA pertanyaan menarik, mengapa dasar hukum kewajiban berpuasa Ramadhan dikaitkan dengan puasa yang pernah diwajibkan kepada umat terdahulu sebelum Islam? Ayat 183 Surat Al-Baqarah itu mengisyaratkan bahwa ibadah puasa, di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadan, baik bagi muslim maupun nonmuslim, mengandung hikmah dan manfaat yang sangat hebat. Oleh karena itu Allah SWT mempertegas nilai plus puasa itu dengan menyatakan: “Kalian berpuasa itu lebih baik jika kalian mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 184)

Penegasan bahwa “puasa itu lebih baik” disertai dengan “jika kamu mengetahui” atau memiliki ilmu tentang puasa menunjukkan bahwa puasa Ramadhan yang bermakna itu harus berbasis ilmu, bukan sekadar puasa dengan menahan diri tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan seksual di siang hari. Dengan demikian puasa yang dapat menjadikan hidup shaimin (orang yang berpuasa) lebih baik adalah puasa berbasis iman dan ilmu. Puasa bermakna dalam berbagai aspeknya diyakini dapat mengantarkan kita pada tujuan berpuasa, yaitu menjadi orang-orang bertakwa.

Riset ilmiah membuktikan bahwa puasa itu menyehatkan, baik sehat jasmani maupun sehat rohani. Riset yang dilakukan para ilmuwan dan psikolog mengenai puasa menunjukkan bahwa puasa itu sangat bermanfaat untuk pendidikan nilai, pengembangan kepribadian, dan pembentukan karakter mulia. Puasa diyakini dapat membentuk kematangan jiwa, keunggulan intelektual, kedalaman spiritual seseorang. Puasa menumbuhkan rasa tanggung jawab, harmoni diri dan mengembangkan pola pikir positif sekaligus, serta reflektif dan konstruktif bagi kemaslahatan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Puasa memberi kesempatan bagi shaimin untuk memikirkan jati dirinya, sehingga dapat menempuh pola hidup seimbang (proporsional) antara orientasi duniawi dan ukhrawi. Jika di luar Ramadhan shaimin boleh jadi cenderung berorientasi pada kenikmatan duniawi, Ramadhan menstabilisasi kecenderungan duniawi dengan antusiasme merengkuh pahala ukhrawi dan ampunan Ilahi.

Karena puasa melatih shaimin mengendalikan diri dan memberikan pendidikan nilai-nilai kebaikan: mengendalikan hawa nafsu, syahwat, libido seksual, dan sifat-sifat negatif dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan kesabaran, lalu diaktualisasi dalam bentuk ketaatan beribadah, kedisiplinan, kesabaran, dan ketekunan mendekatkan diri kepada Allah serta kedermawanan sosial. Jadi puasa itu ajaran agama, bahkan lintas agama— yang didesain untuk mendidik hati dan pikiran dengan aneka kebaikan serta menyehatkan fisik, mental spiritual, intelektual, dan sosial shaimin. 

Secara psikologis, puasa memberikan nuansa dan aura spiritual yang sangat kuat dan mendalam. Selama sebulan shaimin dilatih disiplin bangun tidur lebih awal. Bukan sekadar bangun tidur untuk santap sahur, tetapi waktu sahur atau sepertiga terakhir malam itu merupakan waktu paling istimewa untuk beribadah, berzikir, berdoa, dan beristigfar kepada Allah SWT. Waktu sahur adalah waktu premium dengan sinyal spiritual paling kuat dan dekat dengan Allah SWT.

Secara fisik waktu sahur, menurut sebuah riset, adalah waktu paling tepat untuk menikmati oksigen paling bersih, murni, segar, dan sehat untuk memenuhi kebutuhan oksigen manusia. Salah satu ciri orang bertakwa itu, menurut Alquran, adalah “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan di waktu sahur mereka beristigfar (kepada Allah)” (QS Al-Dzariyat [51]: 17-18).

Secara psikologis, puasa juga mendidik shaimin untuk merasakan ketenangan hati dan kedamaian jiwa, relaksasi mental-intelektual, karena pada umumnya berpuasa tidak semata-mata menahan rasa lapar dan dahaga, melainkan juga melatih diri untuk menahan dan menjauhkan diri dari segala yang membatalkan puasa dalam arti memuasakan pancaindra dan anggota badan serta memuasakan hati dan pikiran, sehingga jiwa shaimin menjadi lebih bersih dan suci.

Jika akal pikiran dan hati itu bersih, jernih, dan positif, niscaya manusia menjadi sehat secara mental spiritual dan social, sehingga karakternya menjadi mulia dan perilakunya selalu dihiasi kebajikan dan keutamaan. Sebagai bentuk pendidikan multikebaikan, puasa Ramadhan sejatinya merupakan benteng pertahanan mental spiritual manusia.

Benteng pertahanan yang kukuh akan membentuk pribadi dan karakter yang kuat, sehingga aneka godaan nafsu syahwat yang “menyerang” shaimin akan dapat dihadapi dan dilawan. Orang yang berpuasa sejati pasti berupaya memenangi segala godaan hawa nafsu dan godaan setan. Shaimin menjadi ulet dan tidak bisa dikalahkan oleh aneka tipu daya setan.

Orang yang memiliki pertahanan diri (self defence) yang tangguh adalah orang yang sehat secara mental spiritual. Sebagai perisai diri atau benteng pertahanan mental spiritual, puasa bermakna dapat menjauhkan manusia dari aneka sikap negatif, perilaku sia-sia dan destruktif. Dengan kata lain, pendidikan kebaikan selama Ramadhan berfungsi sebagai media edukasi revolusi mental untuk membentuk karakter mulia.Riset medis menunjukkan bahwa puasa dapat menurunkan kadar gula dalam tubuh manusia. Pada tahap awal, penurunan kadar gula secara fisik dapat menyebabkan rasa lemas, mudah menguap, mengantuk di siang hari, dan rasa malas. Akan tetapi jika penurunan kadar gula ini diimbangi dengan komitmen kuat dan kesadaran yang tinggi (self awareness) bahwa shaimin itu memang sedang berpuasa, kondisi sedemikian itu justru menjadi titik balik peningkatan kekhusyukan, kedekatan diri, dan ketenangan jiwa dalam beribadah kepada Allah, sehingga semakin mampu mengendalikan diri. Orang yang sukses mengendalikan dirinya, bukan dikendalikan oleh hawa nafsunya, pasti akan menampilkan sifat-sifat mulia dan terpuji, bukan sifat-sifat binatang yang hidupnya dikendalikan oleh insting dan nafsu syahwatnya.

Pendidikan kebaikan Ramadhan itu sejatinya diorientasikan pada pengendalian diri shaimin. Jika demikian, secara psikologis shaimin itu pasti berpikir positif, bersikap objektif, dan berkesalehan produktif dan transformatif. Jadi puasa Ramadhan yang dilandasi spirit pengendalian diri yang tinggi akan menghasilkan karakter mulia dan perilaku adil dan bijaksana. Walhasil pendidikan kebaikan Ramadhan idealnya menjadi momentum untuk aktualisasi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan sosial, dan moral universal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menampilkan karakter pribadi yang luhur dan mulia.

Menjadi orang bertakwa itu identik dengan menjaga diri dari segala perbuatan tercela, termasuk korupsi. Tanpa ada transformasi nilai ke arah pembentukan karakter dan akhlak mulia, boleh jadi puasa Ramadhan itu harus menjadi ritual rutin semata seperti diprediksi oleh Nabi SAW: “Banyak orang berpuasa, tetapi yang diperoleh dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga.” (HR Muslim). Semoga kita semua dapat merengkuh multikebaikan dari ibadah Ramadhan.

Dr Muhbib Abd Wahab MA, Kepala Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Sindo, Senin, 6 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This