RAMADAN merupakan bulan pilihan Allah SWT yang super istimewa. Selain didesainkan sebagai bulan Puasa, Ramadan juga dijadikan sebagai bulan pewahyuan semua kitab suci-Nya.

Taurat, Zabur, Injil, dan Alquran semuanya diturunkan di bulan Ramadan (HR Ahmad). Bahkan satu-satunya bulan yang namanya diabadikan dalam Alquran adalah Ramadan (QS Al-Baqarah/2: 185). Sebagai bulan pendidikan, Ramadan bukan hanya dirindukan tapi juga diharapkan menjadi momentum revolusi mental spiritual dan moral yang membentuk umat Islam yang berpuasa memiliki kualitas tak wayang tinggi.

Persoalannya, Ramadan acap kali hanya menjadi ritual rutin yang kurang bermakna dan memberi efek positif bagi pengembangan kepribadian dan karakter muslim bertakwa sejati. Bagi umat Islam, puasa Ramadan sudah lama menjadi ritual formal.

Jika selama hidupnya Nabi SAW hanya sembilan kali berpuasa Ramadan karena puasa Ramadan baru diwajibkan pada tahun kedua hijriah di Madinah, dapat dipastikan umat Islam sudah teramat sering berpuasa. Jika kita sudah berpuasa sejak usia 10 tahun dan saat ini berusia 50 tahun, berarti kita telah ber puasa 40 tahun.

Pertanyaannya, sudah fungsionalkah puasa Ramadan yang dijalankan selama ini, sehingga berfungsi sebagai pembentuk insan bertakwa sejati selama dan pasca- Ramadan? Bulan Ramadan memanggil orang beriman untuk berpuasa. Tujuannya adalah meraih kualitas hidup penuh takwa.

Bukan sekadar “takwa musiman” selama Ramadan, tapi takwa sepanjang masa, takwa dimana dan kapan saja, sehingga nilai-nilai Ramadan terus diaktualisasi selamanya. Ramadinasasi kehidupan meniscayakan pentingnya substansi dan esensi ibadah Ramadan.

Menurut para ulama, esensi ibadah Ramadan adalah manajemen nafsu syahwat perut dan di bawah perut, sehingga seluruh anggota badan, panca indra, hati, dan pikiran dapat dikendalikan dan di puasakan. Jika semuanya bisa dipuasakan, niscaya dampak positif ibadah Ramadan itu tidak hanya berlangsung selama Ramadan, tetapi akan terus ditindaklanjuti dan diaktualisasi pasca-Ramadan.

Sebagai ibadah universal lintas agama dan umat, puasa memang terbukti baik, sehat, dan hebat. “…puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS Albaqarah/2: 184). Akan tetapi mengapa puasa Ramadan belum sepenuhnya sukses mengubah karakter dan kepribadian umat dan bangsa? Tampaknya salah satu sebabnya adalah shaimin (orang berpuasa) belum sepenuhnya meramadankan kehidupan.

Spirit Ramadan akan terus hidup dinamis jika semua lulusan madrasah Ramadan berkomitmen kuat untuk menjaga dan meningkatkan hasil didikan Ramadan di bulan-bulan setelah Ramadan. Puasa korupsi, puasa ghibah, puasa hoaks, puasa malas belajar, dan sebagainya selama Ramadan harus ditindaklanjuti dan dijadikan sebagai budaya positif pasca-Ramadan dengan tidak pernah korupsi, menggunjing, antihoaks, semakin rajin belajar, dan berprestasi tinggi dalam segala aspek kehidupan.

Ramadanisasi kehidupan berarti mengamalkan dan melestarikan nilai-nilai dan pesan-pesan moral Ramadan dalam kehidupan nyata. Sungguh Ramadan itu kaya nilai dan pesan moral yang harus dilestarikan dan diaktualisasi pasca-Ramadan seperti kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, kebersamaan, persaudaraan, kedermawanan sosial, ketaatan, kerukunan, toleransi, kesatuan, kesantunan, dan sebagainya.

Nilai-nilai moral dan akhlak mulia ini penting diinternasionalisasi dan di aktualisasi karena ibadah Ramadan itu berorientasi masa depan: membangun peradaban Islam yang luhur berbasis spiritualitas Ramadan. Kehidupan personal, sosial, politik, ekonomi, budaya, dan hukum perlu diramadanisasi karena religiositas kehidupan itu sering kali terlihat saleh hanya di bulan suci. Begitu Ramadan selesai, religiositas dan kesalehan itu kembali pudar.

Ramadanisasi kehidupan dapat diaktualisasi apabila shaimin berkomitmen kuat untuk mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal saleh. Puasa fungsional dan transformasional akan bermakna apabila dilandasi iman yang kuat, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh yang ikhlas dan hebat.

Trilogi iman, ilmu, dan amal saleh dalam kehidupan pasca-Ramadan penting dikawal dan dirawat dengan istikamah, sikap religiositas yang konsisten dan penuh kedisiplinan. Selain itu Ramadanisasi kehidupan juga harus dibarengi dengan ketulusan, ketaatan dalam beragama, dan etos fastabiqul khairat (berkompetisi dalam kebaikan) sepanjang masa.

Dengan demikian Ramadanisasi kehidupan merupakan kunci kemenangan dan kesuksesan hidup umat Islam. Semoga umat ini sukses melakukan Ramadanisasi kehidupan personal, sosial, politik, ekonomi, hukum, dan budaya, sehingga Ramadan berperan sebagai pembangun jiwa menuju peradaban bangsa yang berkemajuan di masa depan. Sukses beribadah Ramadan harus ditindaklanjuti dengan sukses beribadah dan bermuamalah hasanah pasca-Ramadan.

Dr Muhbib Abd Wahab MAg, Ketua Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran-sindo.com, 11 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This