Judul di atas terinspirasi oleh buku The Death of Expertise (2017) oleh Tom Nichols. Sebuah buku yang provokatif dan peringatan serius bagi kalangan pakar. Yaitu mereka yang mempelajari bidang ilmu secara serius, konsisten, memiliki pengalaman banyak yang berkaitan dengan disiplin ilmunya, dan memperoleh pengakuan dari kolega seprofessi. Menurut Nichols, dulu pakar atau seorang ilmuwan ahli memperoleh penghormatan dan status sosial tinggi di tengah masyarakat. Tetapi sekarang telah pudar. Istilah “death” atau mati rasanya terlalu keras.

Ruang demokrasi yang memberikan kebebasan setiap orang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya semakin memperoleh medium yang luas melalui gawai berbasis internet. Setiap orang bebas menulis dan menyebarkan gagasan apa saja tanpa hambatan. Setiap orang bisa menjadi penulis dan pengritik sekaligus. Dunia diperkecil menjadi miniatur dalam genggaman gawai.

Masyarakat Amerika yang selama ini dianggap paling berpendidikan, ternyata pengetahuan mereka tentang peta dunia sangat lemah. Merasa negaranya sebagai pusat dunia, warga Amerika tidak tertarik mempelajari negara lain. Bahkan di tingkat elite politiknya, minim sekali pengetahuannya tentang negara-negara di dunia, sementara politisi gedung putih mengklaim dirinya sebagai polisi dunia. Mereka tahu pulau-pulau, Bali tetapi tidak tahu di mana Indonesia.

Yang membuat posisi pakar memudar adalah semakin berkembangnya berbagai cabang ilmu pengetahuan sampai ke ranting-ranting yang kecil, sehingga seorang yang memiliki kepakaran dianggap sebagai ilmuwan biasa saja. Sekarang ini bukan hal yang asing melihat seorang pasien mendebat dokternya tentang resep obat yang diberikan. Banyak pasien yang mempelajari jenis penyakit dan obatnya lewat media sosial.

Apa yang dikemukakan Nichols itu sekarang juga fenomenal di Indonesia. Pengguna gawai di Indonesia masuk posisi ketiga terbanyak di dunia setelah China dan India. Saat ini orang mudah sekali mengakses informasi, bahkan dibanjiri informasi, sehingga masing-masing merasa setingkat pengetahuannya. Ketika masuk ranah politik dan agama, orang hanya mau mendengar dan membaca apa yang sesuai selera dan keyakinannya, dan menolak apa yang tidak disukainya.

Peristiwa berkumpulnya massa “212” di lapangan Monas dan sekitarnya mengindikasikan pudarnya wibawa pakar dan pemimpin konvensional, mereka lalu menciptakan wadah sendiri. Setiap orang merasa otonom dan sejajar. Fenomena ini juga terlihat dalam acara debat di televisi. Semua pembicara merasa sejajar, saling sahut menyahut. Sebuah perdebatan yang digemari pengusaha stasiun TV agar seru, rating penonton tinggi, lalu sponsor iklan juga banyak. Oleh Tom Nichols perdebatan seperti itu diibaratkan sebuah pertandingan hoki tanpa wasit. Bahkan penonton bisa nimbrung ikut bertanding. Semuanya menjadi pemain, pengamat dan analis.

Dalam ranah kepartaian memudarnya kepakaran intelektual partai juga terlihat. Untuk maju ikut bertanding dalam pemilihan calon legislatif, yang menentukan kemenangannya bukan karena kepakarannya, tetapi banyaknya uang dan publikasi. Ironis, di berbagai tempat, caleg yang berkualitas secara intelektual dan merupakan kader partai kalah bersaing dengan pendatang baru karena faktor uang dan popularitas sebagai komedian.

Akibat dari pudarnya wibawa kepakaran, maka dalam kompetisi untuk memenangkan jabatan politik di negeri ini yang jadi modalnya adalah jumlah massa dan uang. Di lingkungan umat beragama, kepakaran ini sampai batas tertentu masih dihormati. Tetapi pelan-pelan semakin pudar dan menciut pengaruhnya. Berkembang kebudayaan dan mazhab agama eklektik, hibrida, sintetik, campur sari.

Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Sumber: Yayasan Pendidikan Madania, 10 Januari 2019.(lrf/mf)

 

Share This