Gedung Rektorat, BERITA UIN Online– Pusat Studi Gender dan Anak UIN Jakarta menggelar kelas gender dan anak Angkatan 5 pada Selasa (7/8/2018) di Ruang Sidang Utama Rektorat lt 2.

Kegiatan bertema Tradisi Khatam Alquran Berbasis Kearifan Lokal dalam Rangka Penguatan Karakter ini dibuka Ketua PSGA UIN Jakarta Rahmi Purnomowati SP MSi dengan narasumber Dr Wirdanengsih.

Rahmi menyampaikan, pembelajaran kelas gender ini diharapkan bisa menjadi model pembelajaran di wilayah lokal dan wilayah lain di Indonesia.

“Tradisi Khatam Alquran di masyarakat merupakan model pembelajaran yang diintegrasikan dengan kearifan lokal dengan pemahaman terhadap budaya dan keadaan masyarakat di suatu tempat,” ujar Rahmi di hadapan puluhan peserta yang merupakan dosen UIN Jakarta.

Sementara itu, Wirdanengsih dalam pemaparannya menyampaikan tentang metode khatam Alquran untuk anak usia dini sampai kelas 6. Menurutnya, kelas dengan jumlah siswa mencapai 100 orang dengan dua guru diefektifkan menjadi dua kelas.

“Tiap kelas dilatih mulai dengan bacaan dasar dengan membentuk dua lapis gema. Baris pertama membaca bersama, lapis kedua membaca ulang, dan seterusnya,” ujar pakar Pendidikan Usia Dini itu.

Saat khatam, lanjutnya, ada tradisi arak dan membaca di atas panggung untuk memunculkan karakter pembiasaan menyimak dalam mendengarkan bacaan Alquran.

“Dalam ajaran Islam ada kebiasaan untuk melakukan upacara khusus bagi anak-anak yang sedang menjelang dewasa, yaitu upacara “Khatam Alquran”, yakni upacara menyambut tamatnya seorang anak mempelajari cara-cara membaca Alquran dengan selamat,” imbuh Wirda.

Dijelaskannya, Khatam Alquran yang biasa juga disebut Tamat Alquran, adalah upacara yang diselenggarakan untuk menandai selesainya seorang anak belajar mengaji. Dalam upacara ini pesertanya terdiri dari anak-anak yang telah menyelesaikan Juz Amma. Upacara ini berlangsung dengan dilengkapi serangkaian acara yang sifatnya tradisional.

“Ini adalah ungkapan rasa syukur serta rasa bangga dan bahagia, karena anak-anak telah berhasil menyelesaikan pelajaran membaca Juz Amma, kemudian diberitahukan kepada orang tuanya, lalu diteruskan ke masyarakat melalui upacara,” ujarnya.

Dengan diadakannya upacara ini, sambungnya, diharapkan anak-anak bisa mengubah sikap dan sifat dari kanak-kanak menjadi dewasa, berbuat baik dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya, menjadi suri tauladan di masyarakatnya. (mf)

Share This