Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pada suatu hari, Rasulullah SAW menangis sesunggukan di hadapan para sahabatnya. Lalu para sahabat bertanya: “Apa gerangan yang membuatmu menangis wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Aku sangat merindukan untuk bertemu saudara-saudaraku”. Mereka menimpali: “Bukankah kami ini adalah saudaramu, wahai Rasul?” “Bukan, jawab Rasul. Kalian adalah para sahabatku. Saudara-saudaraku adalah orang-orang yang hidup sesudahku dan beriman kepadaku, tetapi mereka tidak pernah melihatku dan menatap wajahku.” (HR Muslim dan Ahmad)

Kalau Rasulullah SAW merindukan umatnya yang tidak pernah bertemu langsung dengannya, maka sebagai umatnya, apakah kita sudah merindukan beliau dengan mencintainya; mencintai ajaran dan keteladanannya, mencintai ketulusan dan kemuliaan akhlaknya; merindukan kewibawaan dan keluhuran kepribadiannya; dan merindukan syafaat dan kedekatan dengannya di surga kelak?

Rindu itu tanda cinta. Cinta yang tulus tanpa pamrih itu tidak hanya ditunjukkan dengan tutur kata, tetapi juga dibuktikan dengan iman, ketaatan dan kesalehan. Merindukan cinta Allah dan Rasul-Nya mengharuskan hamba mematuhi protokol cinta.

Protokol cinta itu harus berbasis referensi dan role model (uswatun hasanah), yaitu figur teladan yang paling dicintai, Rasulullah.  Suatu ketika, di hadapan beliau, Umar bin al-Khattab pernah berkata: “Ya Rasulullah, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Rasulullah lalu meluruskan pernyataan Umar: “Tidak, wahai Umar, engkau harus mencintai diriku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri.” Umar berkata lagi: “Demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi menjawab: “Benar, Umar. Tambatkan cintamu kepadaku itu dari sekarang!” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan manifestasi dari manisnya iman. Artinya, protokol cinta itu juga harus berbasis iman yang kokoh. Cinta tidak boleh buta dan tidak membabi buta, karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menghendaki integrasi (keterpaduan) iman, ilmu, dan amal salih.

Dari Anas RA, Nabi SAW bersabda: “Ada tiga hal yang membuat seseorang merengkuh manisnya iman, yaitu: Allah dan Rasul lebih dicintai daripada selain keduanya; seseorang mencintai orang lain hanya karena Allah, dan membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah diselamatkan oleh Allah seperti halnya membenci untuk dicampakkan ke dalam neraka.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Disiplin penerapan protokol cinta harus diwujudkan dengan ketaatan (ittiba’) berbasis ilmu, agar tidak cinta buta. Protokol cinta mengantarkan kedekatan hamba dengan Allah SWT, sehingga memperoleh cinta dan ampunan dari-Nya. “Katakanlah (Muhammad), jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian…” (QS Ali Imran [3]: 31).

Jadi, protokol cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menghendaki cinta yang tidak membutakan hati dan pikiran. Sebaliknya, protokol cinta itu harus mencerdaskan dan mencerahkan  kehidupan, sehingga kita tidak tersesat dalam menapaki jalan kehidupan menuju kemuliaan, kebahagiaan, ampunan, dan surga.

Oleh karena itu, protokol cinta mengharuskan peneladanan Rasulullah seoptimal mungkin dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan.  “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir, dan dia banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Dengan kata lain, protokol cinta berislam menghendaki penyucian diri (tazkiyat an-nafsi) terus-menerus dengan menomorsatukan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mencintai Allah mendorong kita untuk memahami ayat-ayat-Nya, baik qauliyyah-Quraniyyah maupun kauniyyah (semesta raya), sebagai sumber pencerahan dan panduan kehidupan. Sedangkan mencintai Rasulullah harus dibarengi pemahaman sunah-sunah dan sirahnya agar kita terinspirasi untuk selalu meneladaninya dengan beriman, berilmu, beramal salih, dan berakhlak mulia.

Sumber: Republika, Senin, 14 Juni 2021. (mf)

Share This