Gedung FITK, BERITA UIN Online– Program Praktik Profesi Keguruan Terpadu (PPKT) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) akan diganti dengan program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan KKN. Hal ini dilakukan mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dari level 1-9 untuk pembangunan sumber daya manusia dan tenaga kerja Indonesia yang disusun Kementerian Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kemendikbud.

“Pengakuan kualifikasi tidak hanya mengacu pada pendidikan formal, tetapi juga pelatihan yang didapat di luar pendidikan formal, pembelajaran mandiri, dan pengalaman kerja,” ujar Sekretaris Laboratorium FITK Dindin Ridwanuddin MA usai kegiatan Workshop Finalisasi Penyusunan Praktik Kependidikan dan Program KKN, Rabu (8/11/2017) di Ruang Sidang FITK lt 2.

Dengan adanya KKNI, lanjut Dindin, pengakuan kualifikasi tidak mengacu pada pendidikan semata, tetapi juga pelatihan dan pengalaman kerja. Nantinya diperlukan adanya sertifikasi kompetensi.

Menurutnya, di jenjang pendidikan tinggi saat ini masih perlu penyesuaian dengan KKNI. Untuk guru misalnya, akan berada di level 7, yakni S1 dan pendidikan profesi guru. Guru dituntut untuk bisa melakukan riset, seperti penelitian tindakan kelas sesuai dengan kriteria di level 7, sementara di FITK S1 saat ini masih pada level 6 sedangkan PPKT di level 7,” jelasnya.

Oleh karena itu, sambung Dindin, akan dilakukan perubahan dan revisi dalam praktik kependidikan karena Program PPKT saat ini terlalu banyak pada kegiatan penelitian dan pengajaran.

“Dengan adanya leveling KKNI, dilakukanlah perubahan untuk diarahkan semuanya di level 7 pada PPG (Praktek Profesi Guru) bukan S1,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Lab FITK Dr Royani MA menginformasikan, sebagai pengganti Program PPKT, dirancanglah program PLP yang dalam Permenristekdikti No 55 Tahun 2017 dipakai istilah Praktik Kependidikan (PK) dan dibuat tiga tahap oleh fakultas, yaitu PK I, PK II dan PK III.

“PK I dilaksanakan pada semester lima melekat pada mata kuliah Perencanaan Pembelajaran, PK II berupa mata kuliah Pembelajaran Micro Teaching dan PK III berupa PLP di sekolah selama 2 bulan,” ujar Roy melaui pesan singkatnya di hari yang sama.

PK I, lanjut Royani, difokuskan pada kegiatan observasi ke sekolah terkait iklim sekolah dan apa saja yang diajarkan para guru di sekolah tersebut.

Diuraikannya, setelah mendapatkan temuan dari hasil observasi yang dilakukan sekira dua atau tiga minggu pada PK I, dibuatlah laporan untuk diteruskan pada PK II, yaitu micro teaching di Lab FITK dengan prasyarat tetap melakukan kunjungan ke sekolah untuk observasi perencanaan pembelajaran, bagaimana cara merancang pembelajaran dan melaksanakannya. Pada PK III, semuanya masuk ke praktek pengajaran di sekolah.

“Pada PPKT, ada pengajaran, pengabdian dan penelitian selama empat bulan. Sekarang konten penelitian tidak ada lagi, fokus pada pengajaran dalam Program PPL dengan waktu 2 bulan yang dikelola fakultas dan Program KKN selama 2 bulan yang dikelola universitas bergabung dengan fakultas-fakultas lain. Tahun 2018 tidak ada lagi PPKT di FITK,” pungkasnya. (mf)

Share This