Bandung, BERITA UIN Online— Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin MA, meminta UIN Jakarta menjadi salah satu perguruan tinggi penyelenggara Program 2000 Mahasiswa Asing 2018. Melalui program ini, mahasiswa berbagai negara bisa belajar di berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam, salah satunya UIN Jakarta.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin MA, saat menjadi narasumber diskusi Prospek dan Arah Pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, di Hotel el Royal, Bandung, Senin (22/1/2018). Diskusi ini merupakan rangkaian dari Rapat Kerja Pimpinan UIN Jakarta 2018 bertema Transforming into A World Class University.

“Kementerian Agama punya agenda, dimana tahun 2018 ini, kami akan mengundang 2000 mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia. Dan saya kira, UIN Jakarta bisa berperan lebih besar dari yang lain,” katanya.

Namun Kamaruddin belum memberikan kepastian berapa jumlah mahasiswa asing yang bisa dialokasikan ke UIN Jakarta. “Mudah-mudahan UIN Jakarta 100 orang. Nanti akan saya sampaikan ke Pak Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Prof. Dr. Arskal Salim GP MA, red.),” tambahnya.

Minggu malam sebelumnya, Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA menyatakan kesiapan UIN Jakarta memfasilitasi belajar mahasiswa asing baru. “Kita siap (untuk memfasilitasi belajar mahasiswa asing, red.) sejalan pembangunan dormitory bagi mahasiswa asing tahun ini,” kata Rektor.

UIN Jakarta, tutur Rektor, pada semester pertama tahun ini akan merealisasikan pembangunan gedung asrama mahasiswa asing di lahan depan Fakultas Ilmu Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Pembangunan gedung dilakukan dengan pembiayaan dan konstruksi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI.

Rektor menjelaskan, kapasitas gedung asrama sendiri diproyeksikan bisa menampung 248 orang. “Mudah-mudahan dalam pekan-pekan ini sudah bisa didapat kepastian kapan pembangunannya,” jelasnya.

Selain pembangunan gedung asrama, sambung Rektor, UIN Jakarta juga tengah mempersiapkan kelas bilingual pada masing-masing fakultas. Kelas ini akan memfasilitasi proses belajar mahasiswa asing yang belajar di UIN Jakarta atau mahasiswa UIN Jakarta yang berniat melanjutkan studi ke luar negeri.

Lebih jauh, Rektor juga meminta Pusat Layanan Kerjasama Internasional untuk membuat peta persebaran asal mahasiswa asing. Hal ini dilakukan agar mahasiswa asing yang belajar di UIN Jakarta lebih beragam dari berbagai negara.

“Dengan begitu, saya membayangkan, peta sebaran alumni UIN Jakarta bisa lebih luas. Tidak hanya di negara-negara Asia atau Afrika, tapi juga Eropa bahkan Amerika dan Australia,” paparnya. (farah nh/yuni nk/zm)

Share This